Jumat, 10 November 2006

Ada Rindu untuk Al Azhar

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Ramadhan Adhi
Sebuah mesjid dengan arsitektur apik ala mesir dilengkapi dengan tiang-tiang penyangga yang kokoh meyokong tegaknya ia berdiri serta beberapa lorong yang menambah kekhasan negeri seribu satu malam itu telah menjadi pilihan bagi kami dalam merajut ukhuwah tiap pekannya dalam balutan sebuah halaqah. Al Azhar masih sepi pagi itu, sabtu hari kota kembang untuk yang kesekian kalinya aku dapati. Ada kerinduan akan pertemuan dengan ikhwah-ikhwah seperjuangan, seperjuangan menegakkan al-Islam yang kadang terlupakan.
Sesaat kemudian sebuah tepukan mendarat dibahuku. Jabat erat tangan melengkapinya menambah kebahagiaan pertemuan kami.
"Assalamu'alaika akhi ..."
"Wassalamullaahu alaika, kaifa antum akhi ? … "
Akh Suta, begitu aku menyebutnya. Beliau seorang Dosen di Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung dari Kuta - Bali. Kami bertemu dan menjadi semakin akrab setelah halaqah menjadikan kami seperti ini. Mungkin tidak hanya sekedar ikatan persahabatan, tapi ikatan ukhuwah yang tersimpan direlung jiwa. Tutur kata yang bijak senantiasa meluncur dari bibirnya, hal itu semakin menjadikan kami berada dalam ketenangan jiwa. Seorang Murabbi sejati aku menyebutnya. Bayangan seorang Syeikh Utsman seorang guru serta pembimbing Fahri dalam novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El-Shirazy terkadang mengajakku memposisikannya pada diriku saat ini, ketika beliau sedang bersama denganku.
Sapaan akrab senantiasa menghiasi pertemuan-pertemuan kami. Seperti halnya pagi ini, ketika saudara-saudara kami yang lain sudah berada diantra kami.
Alunan-alunan indah ayat Illahi mengawali pertemuan kami. Beragam agenda yang telah dipersiapkan sebelumnya alhamdulillah bisa berjalan seperti yang telah direncanakan.
Hampir 3 jam peremuan kami saat itu, sebelum akhirnya kami dipisahkan kembali menjalani aktifitas hari-hari kami.

***

"... Kelma helwa u kelmeten
Helwa ya baladi
Ghenwa helwa ou ghenweten
Helwa ya baladi
Fen habbib el alb ya baladi
Kan beid anni ya baladi
We kolle ma baghani
Bafakkar fi ..."

Sebuah senandung Dalida bertajuk Helwa Ya Baladi (Indah nian negeriku) mengalun dari MP3 player-ku menemani perjalanan menuju kampus seakan aku berada disana, diantara relung-relung kota Cairo. Hanya saja jejak-jejak kaki ini yang menyadarkan bahwa aku berada diantara rerimbunan pohon yang meneduhi kawasan Jalan Ganesha, bukanlah padang pasir yang luas dengan badai pasir serta terik mentarinya yang menyengat setiap rombongan kafilah yang melintasinya.
Selalu ada sebuah harapan dalam hati ini ketika senandung-senandung dari negeri para nabi tersebut menemani hari ini. Al Azhar University, sebuah Universitas tertua didunia telah menjadi dambaanku semenjak lulus Sekolah Dasar, tujuh tahun yang lalu. Mungkin itu juga salah satunya yang mendasari alasanku mengajukan Mesjid Al Azhar sebagai tempat kami liqo, berharap seakan berada di mesjid Al Azhar Mesir ketika berbagi ilmu, sehingga rahmat dan berkahnya menemani kami.
Aku membelokan langkahnya menuju mesjid kampus. Percikan air wudhu sesaat kemudian telah merasuk ke sendi-sendi tubuhku. Subhanalloh, Maha Suci engkau ya Rabb yang telah menjadikan pertemuan kami dengan kesegaran air suci-Mu disiang hari ini, sebagai peneduh jiwa ini.
Tak lama berselang, adzan berkumandang. Panggilan itu kini menyatukan kami kaum muslimin dalam barisan yang kukuh layaknya barisan para mujahid yang siap untuk berjuang menggapai kemenangan ataukah syahid di jalan-Nya.
Sujud-sujud panjang memohon akan ridlo dan karunia-Nya semakin menghadirkan kekhusyuan saat itu.
Hembusan angin menerobos dari sela-sela pintu mesjid yang perlahan kemudian terbuka, seakan tak ingin ketinggalan merasakan nikmatnya bercengkrama dengan-Nya.
Usai shalat ada rasa bangga yang hadir dalam jiwa ini, 4 tahun keberadaanku disini. Bersama di bumi Alloh ini, sebagai seorang mahasiswa yang diberikan amanah untuk menjaga dan merawat mesjid kampus ini telah menjadikan suatu karunia yang tak terkira bagiku. Ada satu harap semoga ini menjadikan awal untuk mampu-ku bertemu dengan-Nya di akhirat kelak.
Pahatan halus kayu-kayu jati ini telah menjadikan gedung kayu ini tertata rapi dengan menebarkan wangi alami. Semakin menambah kesyukuranku pada-Mu atas segala nikmat dan karunia-Mu. Sungguh tiada suatu alasan untukku mengkufuri atas semua ini.
Aku baringkan tubuhku tepat disamping sebuah tiang, sementara angin masih berhembus menyapa, berucap salam pada tamu-tamu agung yang dengan asyiknya menikmati indahnya bermunajat di tempat ini, dan membuaiku hingga aku terlelap dalam kesejukannya.

***

“Subhanalloh, selamat akh, akhirnya antum berhasil menjadi seorang sarjana lulusan ITB”, akh Suta menepuk sambil bahuku. Aku hanya tersenyum dan berucap terima kasih. Detak jantung ini masih terasa, beriring desah dzikirku sebagai bukti kesyukuranku saat itu.
Seorang akhwat menghampiriku bersama dengan orang tua-nya. “Selamat ya akh”, sebuah senyuman melengkapi ucapannya saat itu. Aku membalas senyumnya. Dia lalu menyalami Ibuku yang berada disampingku. Ada rasa lain yang aku rasakan saat itu …
“Mungkinkah …?”, tanyaku pada diri ini.
Beberapa kamera masih tertuju kepadaku. Kesombongan mulai merasuki pikirku. Segera kulafadzkan istighfar.
“Ya Alloh jauhkanlah kami dari rasa keangkuhan dan kesombongan ini, kami sadari tiada pantas diri ini menyombongkan atas sesuatu yang telah Kau titipkan pada kami …”, lirihku dalam hati.
Mungkin tidak berlebihan memang mereka berbuat demikian. Beberapa saat yang lalu aku berada di barisan paling depan diantara para peraih predikat cumlaude, sehingga beberapa wartawan dan reporter baik dari kampus maupun luar berusahan mengambil gambar kami ketika sudah bergabung bersama keluarga-keluarga kami.
Aku bersujud pada-Mu ya Rabb …
Maha besar karunia-Mu, setelah kau tutupkan satu pintu untukku maka seribu jalan kau bentangkan untuk aku lewati dan menggapainya hingga hari ini. Masih jelas dalam ingatan, berulang kali aku harus rela meninggalkan angan dan citaku di beberapa Perguruan Tinggi sebelumnya. Jangan pernah tanyakan kenapa, karena semua tanya itu hanya akan berujung pada satu jawab, “Uang”. Ya …, aku tersenyum mengingatnya …
Sebuah pesan pendek masuk kedalam ponselku, “Alloh tidak selalu menjawab permintaan kita dengan sebuah kata ‘Ya’, akan tetapi Dia akan selalu menjawabnya dengan memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya, bukankah begitu akh ?”.
Dalam hati dengan mantap kujawab, “Ya, ukhti, saya juga yakin akan hal itu”. Kubalikkan tubuhku dan kuanggukan kepalaku pada seorang akhwat diujung sana, yang beberapa waktu lalu menghampiriku.
Sasana Budaya Ganesha terasa semakin megah saat itu, balutan biru menghiasi setiap sudut gedung itu. Patung Ganesha berdiri tegap menyaksikan kami mensyukuri langkah-langkah kaki menuju hari ini.
Ada linangan air mata keharuan yang tampak dari kedua sudut mata ibuku. Tak dapat aku menahannya, aku memeluknya sambil berucap “Terima kasih Ummi, semua do’amu terjawab sudah hari ini, Alloh maha mendengar pintamu”.
Aku kagum pada beliau yang telah mampu berkorban dan mampu membimbing dan membesarkan kami hingga saat ini

***

Orang-orang kini kembali ke rumahnya masing-masing, sesaat setelah acara Wisuda Sarjana ini selesai. Dedaunan rindang pepohonan seakan berucap dan melambai selamat tinggal. Ya, 4 tahun seakan lama untuk dilewati, namun terasa cepat untuk dikenang.
Hari ini aku tutup dengan do’aku, sampai akhirnya Alloh memisahkan jiwa dan roh-ku dalam mimpi-mimpi malam ini.
Alarm diponselku berbunyi, sebuah tulisan tersirat disana,

03.20
Sholat Tahajud

Aku lepaskan selimut yang terkadang menjadikanku terlena dalam malam. Hingga akhirnya tangisku tersedu dalam ayat-ayat-Nya dan doa-doaku terucap dalam sujud sujud panjangku.
Hingga tak terasa sebuah do’a terucap,
“ … Robbana hablana min Azwajina wa dzurriyyatina Kurrota a’yun waj ‘alni lil muttaqiina imaama."
Yaa..Alloh, berikanlah kami pasangan hidup dan keturunan yang menyejukkan hati dan jadikanlah aku sebagai pemimpin dari orang-orang yang bertaqwa.
Aku termenung sejenak sesaat setelah salamku di akhir rekaat tersebut. Belum lenyap rasa heranku akan apa yang telah kuucap dalam sujudku, tiba-tiba sebuah bayangan Nissa melintas dalam benakku. Seorang akhwat yang pernah ada dalam khayal diri untuk bisa bersama mendampingi hidupku menggapai Ridho-Nya dalam menjalankan sunah Rosul-Nya.
Segera kutepis bayangan itu, tak ingin diri ini terjajah oleh nafsu dinia ini.
“Ya Alloh janganlah engkau pergantikan bidadari syurgaku di akhirat kelak dengan bidadari dunia-Mu yang fana …”
Namun sampai akhir shalatku bayangan itu masih ada dalam benakku. AsmaMu kusebut untuk menghilangkan bayangan itu dan mengembalikan khusyu-ku dalam bermunajat pada-Mu.
Aku terdiam, dan sampai akhirnya dunia terasa gelap …

***

“Akh bangun, sebentar lagi sholat ashar !”
Aku beristighfar sambil mengusap mataku,
“Astaghfirullah, aku tertidur pukul berapa sekarang ?”, tanyaku
“Pukul 3 lewat 5 menit, sebentar lagi waktu sholat ashar”
Aku melepas pandangku ke sekeliling mesjid, para jamaah mulai berdatangan kembali melepas rindu-nya untuk bermunajat disore hari ini. Aku menuju tempat wudlu, kubasuh diri ini dengan air-air wudlu-Mu. Pikirku masih mengingat apa yang telah terjadi dalam mimpi tadi.
Padahal sama sekali bagiku, aku belum pernah berpikir untuk meminang apalagi sampai menikahi seorang akhwat seperti Nissa. Seorang aktivis dakwah di kampusku, dengan seabreg kegiatan dakwahnya yang jujur terkadang membuat ku iri padanya.

***

6 bulan berlalu …

Wisuda Sarjana 2 minggu yang lalu telah aku lewati. Al Azhar masih kokoh berdiri menemani kami dalam barisan para mujahid muda.
Namun ada satu yang kini berbeda, beberapa diantara kami alhamdulillah sudah bekerja. Begitupun juga denganku. Sebuah perusahaan memberikan kesempatan kepadaku untuk mengamalkan apa yang telah kuraih selama ini.
Hari ini, disini aku berdiri, didepan Al Azhar ini. Sebuah buku bertuliskan sebuah judul “Ayat ayat Cinta”, dibagian bawahnya tersirat sebuah nama Nissa Nurrahma. Buku ini hampir sebulan ada padaku, rencananya aku akan mengembalikannya hari ini seusai liqo.
Sambil aku akan menanyakan perihal rencana pinanganku untuknya. Langkah ini aku ambil setelah beberapa Istikharahku, serta nasihat dari Ummi dan Murrabbi-ku.
“Apa lagi yang antum tunggu akh?, kuliah udah, kerja udah … ayo berjihadlah didalam rumah tangga, …”, gurau Murabbiku saat itu.
Namun belum genap langkahku, sepucuk surat terjatuh dari dalam buku itu. Sebuah amplop putih bertuliskan sebuah nama “Akh Faiz”.
Aku buka amplop surat tersebut,

Salamullaahi alaika akhi …,
Ba’da hamdalah wa shalawat

Maha suci Alloh yang telah perdengarkanbagiku sebuah karunia, yang telah kau perlihatkan bagiku sebuah do’a menjadi nyata.
Alhamdulillah akhi, Insya Alloh selepas wisuda nanti ana bermaksud untuk melanjutkan kuliah di Al Azhar. Menemui jejak-jejak langkah para shahabiyah sejati di negeri para Nabi, Cairo Mesir.
Seandainya tak sempat ana mohonkan maaf akan segala salah dan khilaf ini, perkenankanlah untuk memaafkan dan ikhlaskanlah semuanya.

Wasalamullaahi alaika,
Nissa Nurrahma


Kuhela nafasku, kuambil ponselku, aku hubingi nomor ponsel Nissa. Sebuah jawaban terdengar darinya bahwa nomor tersebut berada diluar area. Aku terlambat. 2 minggu telah lewat dari keberangkatannya.
Aku hanya tertegun menatap lembayung senja dan berucap,

“biarlah kutitipkan lewat senja,
dan kunanti jawabnya di cerahnya mentari di esok pagi,
Tuk sampaikan rasa rindu ini
Dari Al Azhar untuk Al Azhar …”

Sebuah pesan singkat masuk dalam ponselu,

“Alloh tidak selalu menjawab permintaan kita dengan sebuah kata ‘Ya’, akan tetapi Dia akan selalu menjawabnya dengan memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya, bukankah begitu akh ?”

***
Ramadhan Adhi
10 November 2006

5 komentar:

  1. assalamualaikum..ini memang karya anda?maksud saya tulisan anda sendiri?

    BalasHapus
  2. Wa'alaikumsalam Warahmatullaahi Wabarakatuh
    Alhamdulillah, betul ini saya tulis beberapa minggu yang lalu ...
    Apa ada yang perlu dikoreksi isinya ?

    BalasHapus
  3. walaupun ringkas tapi terkesan..tapi bukankah anda ini sedang bekerja?

    BalasHapus
  4. tulisan ini saya buat berdasarkan pengalaman masa lalu, apa yang sedang saya jalani sekarang ini, serta khayalan dimasa datang .... :D.
    Belajar berimajinasi .... :)

    BalasHapus
  5. ya saya sebenarnya hampir terlupa yang menulis itu selalunya imaginasi..kerana keberjayaan seorang penulis menulis seperti ceritanya realiti...

    BalasHapus