Senin, 04 Desember 2006

Poligami dalam Islam ...











Mengapa harus berpoligami ?



Sebuah pertanyaan yang kembali merebak akhir-akhir ini. Hal ini
memang sudah banyak dikaji dalam berbagai diskusi maupun seminar yang
diselenggarakan oleh berbagai institusi, baik itu yang bernafaskan
islam maupun diluar itu (tidak mengatas namakan islam, red). Hasilnya?
Seperti biasa, masih banyak orang memandang tabu akan hal ini untuk
dilakukan. Tentunya berjuta alasan diungkapkan untuk membela
pandangan-pandangannya penolakan tersebut.

Tidak sedikit yang menolak akan satu sunnah Rasul ini. Masuk akal
memang sebagian alasan mereka, namun lebih banyak dari alasan-alasan
yang dikemukakan adalah kekhawatiran akan berkurang atau hilangnya
kasih sayang yang diberikan oleh seorang suami pada istri terdahulunya.

Sebuah firman Allah SWT, dalam Surat An Nisaa ayat 3, seharusnya cukup
membuat kaum hawa merasa tenang. Ya, Alloh sudah menjamin bahwa
sebetulnya Poligami hanya diperuntukkan bagi mereka yang sudah bisa
bersikap adil. Tentunya adil ini dalam berbagai hal, perhatian, kasih
sayang, dan lain sebagainya.

Ini memang perintah dari Alloh :

"... Maka nikahilah apa yang baik bagimu dari wanita; dua atau tiga atau empat,
maka jika kamu takut tidak (bisa) berlaku adil, maka nikahilah satu ..."

Dan seorang lelaki yang baik, yang memahami akan perintah yang Alloh
firmankan, tentunya akan berpikir lebih dari seribu kali untuk
mengambil jalan ini. Jelas karena seorang lelaki yang paham, dia tidak
mau menjadikan pernikahannya dengan istri keduanya hanya untuk mengejar
sebuah nafsu saja, melainkan mengharapkan ridho Alloh semata.

Coba kita perhatikan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud :



"Barangsiapa yang memiliki dua
orang istri lalu ia condong pada salah satunya, maka ia akan datang
pada hari kiamat sedangkan bahunya miring."
(HR. Abu Daud (2/242)



Jelas sudah, bagi para kaum hawa tidak usah khawatir jika suami anda
melakukan hal tersebut. Tentunya sepanjang suaminya tersebut telah
memahami pula makna dari poligami itu sebenarnya. Dan seandainya suami
anda telah mampu untuk bersikap adil dengan berbagai ketentuan yang
Alloh perintahkan, tapi tetap hal itu menjadikan anda khawatir akan
cinta dan kasih sayangnya, maka sebuah pertanyaan mestinya yang anda
jawab di relung hati anda sendiri,



"Dimanakah cinta anda pada Alloh ?,
karena sungguh merugi jika cinta kita pada suami (pasangan) kita
melebihi dari cinta kita pada Sang Maha Pencipta ..."



















0 comments:

Posting Komentar