Selasa, 30 Januari 2007

... Dalam Balutan Hijab

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Ramadhan Adhi
Baru saja kuusapkan kedua telapak tanganku ke wajah ini, sesaat selepas doa-doaku kupanjatkan pada-Nya. Sebuah mushaf bertuliskan AlQur’anulkariim disampulnya kuraih dan kutelusuri sebuah mahakarya penuh makna itu. Kuhabiskan beberapa halaman darinya hingga hampir beberapa waktu berselang. Maha Suci-Mu ya Rabb atas segala karunia-Mu menurunkan sebuah penuntun jalan hidup ini …

Aku alihkan posisi tubuhku, kutarik sebuah sajadah itu, dan kini tepi sebuah dinding daripada ruangan berukuran 3 x 2.5 meter itu menjadi sandaran bagi tubuh ini.

Kuhela nafasku …
Gemericik hujan masih menghiasi Jakarta dimalam itu. Tak ada suara jangkrik ataupun binatang malam lainnya yang aku dengar. “Mungkin mereka terlelap dalam dinginnya udara malam ini …”, kataku dalam hati. Tersenyum aku jika teringat kejadian yang aku alami beberapa saat yang lalu.

-oOo-

Tidak kurang dari 30 menit bis yang aku tumpangi melaju dijalanan ibu kota, meninggalkan sebuah shelter transit Harmoni. Suasana hujan disaat jam pulang kerja telah mengundang para karyawan untuk ingin segera beranjak dari meja kerjanya dan berlari meraih suasana santai ditempat tinggalnya masing-masing. Tidak terkecuali aku …

Namun Jakarta ternyata masih seperti yang dulu. Sebuah gebrakan para penguasa pemerintahan ibu kota dengan menyediakan sarana busway untuk menjadi solusi kepadatan arus transportasi ternyata masih belum berhasil. Sebuah harapan sebagai jalan keluar kemacetan ternyata tak kunjung tiba.
Seperti halnya kali ini …

Semestinya bis yang aku tumpangi bisa melaju bebas tanpa hambatan di jalurnya itu. Ya, sebuah bis ber-catkan perpaduan warna merah dan kuning itu, sebagai sebuah armada khusus nan berkelas itu kini terperangkap dalam himpitan kemacetan. Padahal semestinya bisa melenggang leluasa dan berbusung dada meninggalkan barisan mobil-mobil mewah yang berderet disisi kiri dan kanan daripadanya. Namun kini?, mobil–mobil mewah itupun kini dengan wajah tanpa dosanya menggunakan jalur khusus busway yang menghubungkan bagian pusat dengan bagian barat kota Jakarta itu.

“Ugh …”
Beberapa kali umpatan-umpatan kecil terlontar dari mulut orang-orang disekitarku saat itu.

Sebuah dering ponsel seorang Ibu berbunyi disebelahku, tidak lama berselang, sebuah percakapanpun tercipta. Kudengar sekilas Ibu itu menyatakan kekesalannya pada lawan bicaranya. Selanjutnya aku tidak tertarik untuk memperhatikannya.

Sudut mata ini membawaku tertuju pada seorang akhwat berjilbab lebar di ujung sana. Ya …, sebuah jilbab putih lebar itu menghiasi sebuah wajah anggun nan ayu. Dalam hati aku bergumam,

“Mungkinkah ia seorang Aisha untukku ? …”.
Aku tersenyum, terbayang akan awal perjumpaan seorang Fahri dengan Aisha dalam sebuah novel karya Habiburrahman El Shirazy, yang ternyata mengantarkan mereka menuju biduk rumah tangga nan sakinah.
Astaghfirullah, hampir saja aku terlena. Kupalingkan wajahku, dan kupejamkan mataku.

Hembusan Air Conditioner yang terpasang tepat diatas kepalaku menjadikan seluruh tubuh ini terasa dingin dan nyaman. Walaupun saat itu suasana diluar sana masih sama. Himpitan-himpitan mobil-mobil mewah itu masih menahan kami di ruas jalan Hayam Wuruk Jakarta Pusat.
Aku terlelap …


-oOo-

“Pemberhentian berikutnya, Halte Taman Kota. Perhatikan barang bawaan anda dan hati-hati melangkah …”

Kuangkat tubuhku dan kuberanjak mendekati pintu bis. Seorang akhwat yang tadi sempat aku perhatikan juga ternyata sama, hendak turun di shelter ini.
Kulangkahkan kaki ini keluar dari bis setelah kupersilakan kaki-kaki kecilnya terlebih dahulu melangkah. Mungkin kalau orang luar sana berujar “Ladies first …”, pikirku saat itu.

Empat langkah dalam shelter ia menghentikan langkahnya, dan berbalik ke arahku,
“Afwan, antum tahu alamat ini ?”, Tanya akhwat itu padaku.
Sesaat aku terdiam, terheran akan kata-katanya yang seakan ia tahu kalau aku seorang ikhwah. Kuperhatikan seluruh tubuhku, aku tersadar … nama sebuah halaqoh yang tertulis di jaketku mungkin adalah jawabnya.
“E … eu … em … ya …, InsyaAlloh ana tahu”, jawabku terbata.
Ternyata akhwat itu hendak berkunjung ke kerabatnya, yang ternyata adalah ibu kost-ku. Tentu saja aku tahu alamat yang tertulis di secarik kertas tadi, karena alamat tersebut persis sama dengan alamat tempat tinggalku.

Jarak shelter Taman Kota dengan tempat kost-ku bisa ditempuh dalam waktu seperempat jam dengan jalan kaki. Saat itu kutawarkan untuk naik ojek biar lebih cepat. Namun ia memilih jalan kaki saja, “Biar lebih mengenal daerah sini …”, katanya.

Sepanjang perjalanan aku berada didepan beriringan dengannya. Tidak banyak percakapanku tercipta dengannya saat itu. Lebih banyak percakapanku dengan hati kecilku sendiri. Jantungku berdegup cukup kencang, ada rasa lain yang aku rasakan saat itu. Entah apa yang yang Ia rasakan …, namun alhamdulillah Alloh masih melindungi kamu dalam balutan hijab.

Wajar saja mungkin, karena ini kali pertamanya aku berjalan beriringan dengan seorang akhwat.
Alma nama akhwat itu, seorang mahasiswi tingkat akhir di Universitas Al Azhar Indonesia. Meskipun hampir empat tahun ia berada di ibu kota ini, namun Ia baru tahu kalau ada kerabatnya yang tinggal disini. Oleh karena itu, sebagai pemupus rasa keinginannya bersilaturahim, sore tadi ia putuskan untuk mengunjungi kerabatnya itu.

Ia tercengang ketika kukatakan bahwa alamat yang tadi ia perlihatkan adalah alamat tempat kost-ku juga.

“Oh ya … ?”
“Jadi antum siapanya Ummu Salma ?”, tanyanya.
“O … nggak, ana Cuma nge-kost dirumahnya beliau kok”, jawabku.
“o ….”

Sebuah senyuman masih tersungging dibibirnya. Ketika itu percakapan kamipun harus terhenti. Sebuah bangunan bercat biru muda berdiri didepan kami. Rumah Ummu Salma, bibinya Alma.

Kamipun berpisah setelah ucapan salam menghiasinya. Aku menuju kamarku, dan Alma-pun masuk ke rumah Ummu Salma.
“Subhanalloh ….”, gumamku …
“Seandainya ….”

-oOo-

Subuah tepukkan mendarat dibahuku.
“Mas, sudah sampai shelter akhir. Mas mau turun di shelter mana?”, Tanya seorang pramudi membangunkanku dari terlelap tadi.
“Astaghfirulloh”, kataku
“Ini sudah sampai dimana ya pak?”, tanyaku masih bingung
“Kalideres”, katanya

Ternyata aku tertidur, sampai tak sadar shelter Taman Kota yang mestinya aku turun disana terlewat olehku. Shelter Kalideres dengan Taman kota terpisah oleh 6 shelter diantaranya.
Kulangkahkan kaki ini menuju keluar bis dan memutar arah kembali menuju ke pusat kota.
Dalam hati aku tersenyum, mengingat akhwat berjilbab lebar yang tadi berjalan bersama beriringan yang ternyata hanya mimpi.
“Ya alloh, seandainya ia memang jodohku, semoga Engkau pertemukan kami kembali ya Rabb …”, doaku dalam hati.

-oOo-

Kini, sebuah tepian dinding dari ruangan berukuran 3 x 2.5 meter itu masih setia menemaniku. Sebuah mushaf suci masih aku dekap erat dalam dadaku. Gemericik hujan masih menghiasi malam itu.

Tok tok tok …
Suara pintu kamarku diketuk dari luar sana.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam warahmatullah”, jawabku sambil kubukakan helai pintu itu.
“Akhi, Ummu Salma mengundang antum untuk menghadiri acara syukurannya malam ini”

Seorang akhwat berjilbab lebar yang tadi kulihat dalam bis sampai terbawa mimpi itu sekarang berada tepat dihadapanku. Aku usap mataku, seakan tak percaya
Aku hanya tertegun tak percaya akan kehadirannya. Hanya seuntai kata kuucap saat itu …
“IsyaAlloh, jazakillah ukhti …”

7 komentar:

  1. Hijab; Lambang iffah wanita salehah.

    BalasHapus
  2. :) (senyum amat lebar...)
    semoga menjadi kenyataan de' mimpinya.... insyaallah.....:) (senyum lagi.... hehehehe)

    BalasHapus
  3. ini cerita apa beneran sih.....?! (jadi bingung...)

    BalasHapus
  4. kayaknya sih cerita + pengalaman + harapan,
    he... he... he...
    :D

    BalasHapus
  5. ooh gitu... (manggut2x....:))
    semoga jadi kenyataan indah deh.... amiin....:)

    BalasHapus
  6. Moga harapan dimudahkan kenyataannya :) untuk menyempurnakan.......

    BalasHapus
  7. aammiinnn....moga bisa mendapatkan yg sperti aisha ....

    BalasHapus