Jumat, 13 April 2007

Menjadi bijak? kenapa tidak ...




Assalamu'alaykum wr wb

Memang menjadi dilematis ketika saudara kita dipercaya Alloh diberikan kemampuan untuk menyampaikan al-haq kepada ummat didalam suatu forum. Di satu sisi beliau memerlukan sebuah kesempatan untuk menyampaikan pemisalan dalam melengkapai apa yang ia sampaikan. Namun di sisi lain hal ini justru terkadang menyudutkan dirinya pada suatu kondisi yang bisa menjadikan ia khilaf akan dosa.

Saat itu, tidak berbeda dengan saudara-saudara seiman lainnya. Berharap mendapat tambahan ilmu ditengah teriknya mentari. Selepas rukuk dan sujud di waktu Dzuhur kami tercipta, seperti biasanya waktu akan diisi dengan ceramah harian. Namun apa yang terjadi, ketakutan akan terjebak dalam satu sisi yang menjadikan manusia ini khilaf benar-benar terjadi.

Beliau mengambil sebuah contoh dengan menceritakan perilaku dari seseorang secara gamblang, hingga mustami dengan cepat tersadar siapa yang sebenarnya sedang penceramah itu ceritakan. Mungkin ini hanya suatu kekhawatiran dari diri saya yang masih terlalu jauh dari mengetahui apalagi memahami akan ajaran islam sebagai satu-satunya dien yang sempurna. Namun, sungguh jujur saya takut, jika ini terjadi bukankah sama saja hukumnya dengan ghibah? Lalu, bagaimana dengan ummat selepas pengajian itu... jangan sampai apa yang telah beliau sampaikan juga menjadi sebuah topik lanjutan ketika mustami kembali ke tempat kerjanya, kembali ke rumah, atau kemana saja hingga aib orang menjadi terbuka lebar.

Bukankah Alloh berjanji jika kita menjaga aib orang lain, maka insyaAlloh aib kitapun akan Alloh jaga?

Contoh atau pemisalan ataupun perumpamaan memang perlu, namun ketika kita lebih bijak untuk berhati-hati dalam menyampaikannya, saya rasa itu akan lebih baik. Semoga Alloh senantiasa menuntun kita dalam bersikap dan berucap ... Amiin ...

Wassalamu'alaykum wr wb



0 comments:

Posting Komentar