Jumat, 11 Mei 2007

Ketika dakwah berjalan ditempat !




Assalamu'alaykum wr wb

Ketika dakwah dinilai layaknya sebuah pasukan yang berbaris rapi, namun tak bergerak dari posisi dimana mereka berada, hanya berjalan ditempat saja. Ini tentunya menjadi sebuah renungan bagi kita, benarkah itu?. Sebuah retorika tanya yang hanya memerlukan jawaban jujur dari dalam diri kita.

Islam memang bukan agama yang pertama dinegeri ini, namun sejak masuknya ia ke kultur masyarakat Indonesia telah pesat dan banyak perkembangannya, hingga kini yang kita rasakan saat ini. Namun tetap, itu dulu. Kita tidak bisa tetap berbangga akan kejayaan masa lalu.

Yang kita jalani adalah saat ini, saat dimana kaki ini berpijak, saat dimana hamparan ladang dakwah menanti uluran tangan-tangan kita, membawakan tetesan air hujan yang bisa menjadikannya kesejukan berada padanya.

Namun, apa yang terjadi saat ini saat dimana arena kebebasan berdakwah sebetulnya telah terbuka lebar bagi kita untuk terjun kedalamnya. Tidak sedikit dari kita yang melenakan kesempatan tersebut, kita hanya terpaku dalam kondisi yang hanya menerima saja, kita hanya terbuai seakan hanya sebagai penonton dalam sebuah arena drama yang tidak bisa berbuat apa akan apa yang ia lihat.

Padahal jika kita menengok kembali sabda Rasulullah, yang menyuruh kita agar menyampaikan apa yang kita ketahui meskipun satu ayat. Hal itu jelas, menyuruh kita agar jangan takut menyampaikan dakwah meskipun sebetulnya tidak banyak yang kita ketahui. Disini jelas dakwah tidak terlepas dari proses pembelajaran, diamana didalamnya terjadi dua proses yaitu memberi dan menerima, kita berikan apa yang kita tahu dan kitapun berusaha mencari apa yang belum kita ketahui.

Lalu, seandainya kondisinya kini dinilai bahwa dakwah kita masih berjalan ditempat padahal tidak sedikit orang-orang yang sudah mencoba untuk menyampaikan yang haq sebagai kebenaran dan yang bathil itu yang harus ditinggalkan, ada baiknya kita mencoba memeriksa kembali bahan dakwah kita.

Mungkin dakwah kita terlalu menganakemaskan para mustami-nya, dakwah kita lebih cenderung berisi ketakutan akan ditinggalkan oleh para mustami setianya, dakwah kita hanya berisi pujian-pujian akan apa yang telah dilakukan oleh para mustami kita pula. Tanpa berani menyadarkan mereka akan apa yang sebenarnya belum mereka sadari.

Semoga rahmat Alloh senantiasa mengiringi langkah kita dalam mencari dan menyebarkan tanda-tanda kekuasaan Alloh di bumi ini. Amiin ...

Wassalamu'alaykum wr wb


3 komentar:

  1. da'wah... sbuah jalan yg panjang... hue..

    BalasHapus
  2. Memang sebuah keharusan bagi kita seorang muslim untuk selalu mendakwahkan ajaran-ajaran Islam di muka bumi ini. Karena bagaimanapun juga Islam adalah agama Rahmatan lil 'alamin.
    Tapi kalau kita lihat sekarang ini, banyak sekali orang yang berdakwah tanpa berdalih sumber yang jelas. Baik itu sumber dari Al Qur'an ataupun hadist-hadist yang berkaitan. Bahkan ada juga yang sampai menyatakan seseorang dengan sebutan kafir. Memang dalihnya bisa dipertanggung jawabkan sesuai dengan perintah Rasulullah SAW "Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat". Tapi masalahnya, kita tau tidak apa yang kita sampaikan itu benar-benar dari Rasulullah atau dari sumber yang dapat diuji kebenarannya.
    Sebuah masukan bagi kita untuk selalu mencari atau mengkaji nilai-nilai Islam yang benar-benar bersumber dari apa yang ada di dalam Al Qur'an dan sunnah Rasulullah SAW.
    Yuk... kita sama-sama kaji dan dakwahkan untuk selalu menebarkan amar ma'ruf nahi munkar......

    BalasHapus