Rabu, 04 Juli 2007

Ulasan Cerpen Ada Rindu untuk Al Azhar

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Jonru + Kinoysan
MENURUT MAS JONRU :

Cerpen ini mengingatkan saya pada novel Ayat Ayat Cinta karya
Habibburahman El Shirazy, baik gaya bahasa maupun suasana dan "setting"
ceritanya yang dibuat "seolah-olah" di Mesir. Padahal aslinya di
Bandung. Ya, secara tidak langsung sepertinya penulis juga mengakui itu,
karena dua kali dia menyebutkan novel tersebut di dalam cerpen ini.

Gaya bahasa dan teknik berceritanya mengalir lancar, SANGAT enak dibaca.
Tapi lagi-lagi, saya seolah-olah sedang membaca karya Habibburahman El
Shirazy. Ya, saya maklum. Pada tahap tertentu, seorang penulis memang
perlu melakukan "copy the master", meniru gaya penulis idolanya. Tapi
hal seperti ini tak boleh dibiarkan berlanjut. Ada saatnya seorang
penulis menjadi diri sendiri. Dia harus punya karakter khas yang
membedakan dirinya dengan penulis-penulis lain.

Seandainya unsur KONFLIK tidak perlu hadir di dalam sebuah karya fiksi,
maka saya akan memberikan nilai 9,5 untuk cerpen ini. Tapi di sinilah
masalahnya. Cerpen ini hadir nyaris tanpa konflik yang berarti. Gaya
bahasa dan teknik berceritanya sangat indah, tapi isi ceritanya sangat
datar seperti air sungai yang amat tenang.

Kehadiran konflik di dalam sebuah karya fiksi adalah keharusan. Konflik
adalah HAL UTAMA (walau bukan satu-satunya) yang membuat sebuah karya
fiksi menarik untuk dibaca, membuat penasaran, membuat pembaca ingin
menuntaskan membaca naskah tersebut hingga akhir.

Saran saya buat Dikdik, cobalah berlatih menulis karya fiksi dengan
konflik yang berarti. Konflik yang menarik, logis, namun jangan pula
terlalu didramatisir.

Sebenarnya, isi cerita Anda sudah punya potensi konflik yang dapat
digali lebih dalam. Ada hubungan "asmara" si tokoh aku dengan seorang
wanita. Ada pula "konflik bathin" si tokoh aku yang hendak menikah tapi
masih ragu.

Sayangnya, potensi konflik ini hanya dibahas sekilas, sehingga ia tidak
menimbulkan kesan apapun. Bahkan ketika si wanita memutuskan untuk
melanjutkan kuliah ke Al Azhar Kairo (secara tidak langsung dia menolak
lamaran si aku), sama sekali tak ada greget yang muncul.

Jadi buat Mas Dikdik, coba berlatih lebih banyak lagi, khususnya dalam
hal konflik, ya. Konflik itu sangat penting, bahkan boleh dikatakan yang
paling penting dalam sebuah karya fiksi. Keindahan gaya bahasa yang anda
gunakan di dalam cerpen ini memang sangat menarik, tapi itu sama sekali
tak ada artinya jika cerpen anda mengalir datar seperti aliran sungai
yang amat tenang.

Lantas soal kentalnya "bahasa harokah" dalam cerpen anda, ya ini memang
bisa menjadi "perdebatan" tersendiri. Menurut saya, penggunaan bahasa
seperti ini tidak masalah sepanjang ia sesuai dengan karakter para tokoh
dan setting ceritanya. Saya melihat bahwa cerpen ini bercerita tentang
orang-orang dari kalangan tarbiyah, jadi cukup wajar jika bahasanya
seperti itu.

Tapi setahu saya, bahasa pada novel Ayat Ayat Cinta pun tidak "sekental"
itu deh. Mas Dikdik mungkin terlalu bersemangat dalam penggunaan "bahasa
harokah" tersebut, sehingga jadinya seperti yang kita baca. Saran saya,
cobalah rem sedikit "semangat harokah" anda itu. Penggunaan bahasa
seperti yang anda terapkan, secara langsung telah mempersempit segmen
pembaca naskah anda. Jika anda ingin cerpen ini dibaca oleh kalangan
yang lebih luas, tentu anda harus menulis dengan bahasa yang lebih
"egaliter" dan "universal."

Demikian dari saya. Maaf bila kritiknya terlalu pedas. Terlepas dari
apapun, saya yakin Mas Dikdik punya potensi yang luar biasa sebagai
seorang penulis. Cobalah potensi ini terus dikembangkan. Dan saya
nantikan karya-karya berikutnya dari Mas Dikdik yang tentu jauh lebih
baik lagi.

Wassalam

Jonru
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

MENUR MBAK KINOYSAN :

Penulis jago banget pilih kata2 puitis dan jago bikin
deskripsi yang detail dengan nuansa islami yang
kental, tapi sayang sekali cerita ini nggak ada
konflik.

Oke, penulis cerita tentang seorang lulusan yang
cumlaude. Tapi ada apa dengan cumlaude itu? Apa yang
mau disampaikan ke pembaca tentang cumlaude?
Perjuangannya mendapatkan predikat itu, kisah
cintanya, atau apa? Kalau cuman kasih tahu dia
cumlaude aja, terus apa? Masalah dengan Nisa, kok jadi
nggak logis ya kalau tiba-tiba saja datang terlambat.
Apa tokoh yg pandai krn cumlaude menjadi 'bodoh' krn
soal ini tanpa kejelasan? Cinta memang nggak logis,
tapi dalam cerita tetep harus dijaga kelogisannya.
Kalau dia memang belum berniat meminang Nisa, kenapa
mesti sedih saat tahu Nisa pergi?

Tetep semangat menulis ya, jangan saya komentarin
pedas lalu nggak mau nulis lagi. Awal2 saya baca, saya
punya harapan yang besar nemuin sesuatu dlm cerita ini
karena bahasa yang sangat bagus... mudah2an di
kesempatan lain saya temukan itu.

Kinoysan


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Cerita Selengkapnya :
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

ADA RINDU UNTUK AL AZHAR
oleh : Dikdik Andhika Ramdhan

Sebuah mesjid dengan arsitektur apik ala mesir dilengkapi dengan
tiang-tiang penyangga yang kokoh meyokong tegaknya ia berdiri serta
beberapa lorong yang menambah kekhasan negeri seribu satu malam itu
telah menjadi pilihan bagi kami dalam merajut ukhuwah tiap pekannya
dalam balutan sebuah halaqah. Al Azhar masih sepi pagi itu, sabtu hari
kota kembang untuk yang kesekian kalinya aku dapati. Ada kerinduan
akan pertemuan dengan ikhwah-ikhwah seperjuangan, seperjuangan
menegakkan al-Islam yang kadang terlupakan.

Sesaat kemudian sebuah tepukan mendarat dibahuku. Jabat erat tangan
melengkapinya menambah kebahagiaan pertemuan kami.

"Assalamu'alaika akhi ..."

"Wassalamullaahu alaika, kaifa antum akhi ? … "

Akh Suta, begitu aku menyebutnya. Beliau seorang Dosen di Teknik
Lingkungan Institut Teknologi Bandung dari Kuta - Bali. Kami bertemu
dan menjadi semakin akrab setelah halaqah menjadikan kami seperti ini.
Mungkin tidak hanya sekedar ikatan persahabatan, tapi ikatan ukhuwah
yang tersimpan direlung jiwa. Tutur kata yang bijak senantiasa
meluncur dari bibirnya, hal itu semakin menjadikan kami berada dalam
ketenangan jiwa. Seorang Murabbi sejati aku menyebutnya. Bayangan
seorang Syeikh Utsman seorang guru serta pembimbing Fahri dalam novel
Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El-Shirazy terkadang mengajakku
memposisikannya pada diriku saat ini, ketika beliau sedang bersama
denganku.

Sapaan akrab senantiasa menghiasi pertemuan-pertemuan kami. Seperti
halnya pagi ini, ketika saudara-saudara kami yang lain sudah berada
diantra kami.

Alunan-alunan indah ayat Illahi mengawali pertemuan kami. Beragam
agenda yang telah dipersiapkan sebelumnya alhamdulillah bisa berjalan
seperti yang telah direncanakan.

Hampir 3 jam peremuan kami saat itu, sebelum akhirnya kami dipisahkan
kembali menjalani aktifitas hari-hari kami.

***

"... Kelma helwa u kelmeten
Helwa ya baladi
Ghenwa helwa ou ghenweten
Helwa ya baladi
Fen habbib el alb ya baladi
Kan beid anni ya baladi
We kolle ma baghani
Bafakkar fi ..."

Sebuah senandung Dalida bertajuk Helwa Ya Baladi (Indah nian negeriku)
mengalun dari MP3 player-ku menemani perjalanan menuju kampus seakan
aku berada disana, diantara relung-relung kota Cairo. Hanya saja
jejak-jejak kaki ini yang menyadarkan bahwa aku berada diantara
rerimbunan pohon yang meneduhi kawasan Jalan Ganesha, bukanlah padang
pasir yang luas dengan badai pasir serta terik mentarinya yang
menyengat setiap rombongan kafilah yang melintasinya.

Selalu ada sebuah harapan dalam hati ini ketika senandung-senandung
dari negeri para nabi tersebut menemani hari ini. Al Azhar University,
sebuah Universitas tertua didunia telah menjadi dambaanku semenjak
lulus Sekolah Dasar, tujuh tahun yang lalu. Mungkin itu juga salah
satunya yang mendasari alasanku mengajukan Mesjid Al Azhar sebagai
tempat kami liqo, berharap seakan berada di mesjid Al Azhar Mesir
ketika berbagi ilmu, sehingga rahmat dan berkahnya menemani kami.

Aku membelokan langkahnya menuju mesjid kampus. Percikan air wudhu
sesaat kemudian telah merasuk ke sendi-sendi tubuhku. Subhanalloh,
Maha Suci engkau ya Rabb yang telah menjadikan pertemuan kami dengan
kesegaran air suci-Mu disiang hari ini, sebagai peneduh jiwa ini.
Tak lama berselang, adzan berkumandang. Panggilan itu kini menyatukan
kami kaum muslimin dalam barisan yang kukuh layaknya barisan para
mujahid yang siap untuk berjuang menggapai kemenangan ataukah syahid
di jalan-Nya.

Sujud-sujud panjang memohon akan ridlo dan karunia-Nya semakin
menghadirkan kekhusyuan saat itu.

Hembusan angin menerobos dari sela-sela pintu mesjid yang perlahan
kemudian terbuka, seakan tak ingin ketinggalan merasakan nikmatnya
bercengkrama dengan-Nya.

Usai shalat ada rasa bangga yang hadir dalam jiwa ini, 4 tahun
keberadaanku disini. Bersama di bumi Alloh ini, sebagai seorang
mahasiswa yang diberikan amanah untuk menjaga dan merawat mesjid
kampus ini telah menjadikan suatu karunia yang tak terkira bagiku. Ada
satu harap semoga ini menjadikan awal untuk mampu-ku bertemu
dengan-Nya di akhirat kelak.

Pahatan halus kayu-kayu jati ini telah menjadikan gedung kayu ini
tertata rapi dengan menebarkan wangi alami. Semakin menambah
kesyukuranku pada-Mu atas segala nikmat dan karunia-Mu. Sungguh tiada
suatu alasan untukku mengkufuri atas semua ini.

Aku baringkan tubuhku tepat disamping sebuah tiang, sementara angin
masih berhembus menyapa, berucap salam pada tamu-tamu agung yang
dengan asyiknya menikmati indahnya bermunajat di tempat ini, dan
membuaiku hingga aku terlelap dalam kesejukannya.

***

"Subhanalloh, selamat akh, akhirnya antum berhasil menjadi seorang
sarjana lulusan ITB", akh Suta menepuk sambil bahuku. Aku hanya
tersenyum dan berucap terima kasih. Detak jantung ini masih terasa,
beriring desah dzikirku sebagai bukti kesyukuranku saat itu.

Seorang akhwat menghampiriku bersama dengan orang tua-nya. "Selamat ya
akh", sebuah senyuman melengkapi ucapannya saat itu. Aku membalas
senyumnya. Dia lalu menyalami Ibuku yang berada disampingku. Ada rasa
lain yang aku rasakan saat itu …

"Mungkinkah …?", tanyaku pada diri ini.
Beberapa kamera masih tertuju kepadaku. Kesombongan mulai merasuki
pikirku. Segera kulafadzkan istighfar.

"Ya Alloh jauhkanlah kami dari rasa keangkuhan dan kesombongan ini,
kami sadari tiada pantas diri ini menyombongkan atas sesuatu yang
telah Kau titipkan pada kami …", lirihku dalam hati.

Mungkin tidak berlebihan memang mereka berbuat demikian. Beberapa saat
yang lalu aku berada di barisan paling depan diantara para peraih
predikat cumlaude, sehingga beberapa wartawan dan reporter baik dari
kampus maupun luar berusahan mengambil gambar kami ketika sudah
bergabung bersama keluarga-keluarga kami.

Aku bersujud pada-Mu ya Rabb …

Maha besar karunia-Mu, setelah kau tutupkan satu pintu untukku maka
seribu jalan kau bentangkan untuk aku lewati dan menggapainya hingga
hari ini. Masih jelas dalam ingatan, berulang kali aku harus rela
meninggalkan angan dan citaku di beberapa Perguruan Tinggi sebelumnya.
Jangan pernah tanyakan kenapa, karena semua tanya itu hanya akan
berujung pada satu jawab, "Uang". Ya …, aku tersenyum mengingatnya …
Sebuah pesan pendek masuk kedalam ponselku, "Alloh tidak selalu
menjawab permintaan kita dengan sebuah kata `Ya', akan tetapi Dia akan
selalu menjawabnya dengan memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya,
bukankah begitu akh ?".

Dalam hati dengan mantap kujawab, "Ya, ukhti, saya juga yakin akan hal
itu". Kubalikkan tubuhku dan kuanggukan kepalaku pada seorang akhwat
diujung sana, yang beberapa waktu lalu menghampiriku.

Sasana Budaya Ganesha terasa semakin megah saat itu, balutan biru
menghiasi setiap sudut gedung itu. Patung Ganesha berdiri tegap
menyaksikan kami mensyukuri langkah-langkah kaki menuju hari ini.
Ada linangan air mata keharuan yang tampak dari kedua sudut mata
ibuku. Tak dapat aku menahannya, aku memeluknya sambil berucap "Terima
kasih Ummi, semua do'amu terjawab sudah hari ini, Alloh maha mendengar
pintamu".

Aku kagum pada beliau yang telah mampu berkorban dan mampu membimbing
dan membesarkan kami hingga saat ini

***

Orang-orang kini kembali ke rumahnya masing-masing, sesaat setelah
acara Wisuda Sarjana ini selesai. Dedaunan rindang pepohonan seakan
berucap dan melambai selamat tinggal. Ya, 4 tahun seakan lama untuk
dilewati, namun terasa cepat untuk dikenang.

Hari ini aku tutup dengan do'aku, sampai akhirnya Alloh memisahkan
jiwa dan roh-ku dalam mimpi-mimpi malam ini.

Alarm diponselku berbunyi, sebuah tulisan tersirat disana,

03.20
Sholat Tahajud

Aku lepaskan selimut yang terkadang menjadikanku terlena dalam malam.
Hingga akhirnya tangisku tersedu dalam ayat-ayat-Nya dan doa-doaku
terucap dalam sujud sujud panjangku.

Hingga tak terasa sebuah do'a terucap,
" … Robbana hablana min Azwajina wa dzurriyyatina Kurrota a'yun waj
`alni lil muttaqiina imaama."
Yaa..Alloh, berikanlah kami pasangan hidup dan keturunan yang
menyejukkan hati dan jadikanlah aku sebagai pemimpin dari orang-orang
yang bertaqwa.

Aku termenung sejenak sesaat setelah salamku di akhir rekaat tersebut.
Belum lenyap rasa heranku akan apa yang telah kuucap dalam sujudku,
tiba-tiba sebuah bayangan Nissa melintas dalam benakku. Seorang akhwat
yang pernah ada dalam khayal diri untuk bisa bersama mendampingi
hidupku menggapai Ridho-Nya dalam menjalankan sunah Rosul-Nya.
Segera kutepis bayangan itu, tak ingin diri ini terjajah oleh nafsu
dinia ini.

"Ya Alloh janganlah engkau pergantikan bidadari syurgaku di akhirat
kelak dengan bidadari dunia-Mu yang fana …"
Namun sampai akhir shalatku bayangan itu masih ada dalam benakku.
AsmaMu kusebut untuk menghilangkan bayangan itu dan mengembalikan
khusyu-ku dalam bermunajat pada-Mu.
Aku terdiam, dan sampai akhirnya dunia terasa gelap …

***

"Akh bangun, sebentar lagi sholat ashar !"
Aku beristighfar sambil mengusap mataku,
"Astaghfirullah, aku tertidur pukul berapa sekarang ?", tanyaku
"Pukul 3 lewat 5 menit, sebentar lagi waktu sholat ashar"
Aku melepas pandangku ke sekeliling mesjid, para jamaah mulai
berdatangan kembali melepas rindu-nya untuk bermunajat disore hari
ini. Aku menuju tempat wudlu, kubasuh diri ini dengan air-air
wudlu-Mu. Pikirku masih mengingat apa yang telah terjadi dalam mimpi tadi.

Padahal sama sekali bagiku, aku belum pernah berpikir untuk meminang
apalagi sampai menikahi seorang akhwat seperti Nissa. Seorang aktivis
dakwah di kampusku, dengan seabreg kegiatan dakwahnya yang jujur
terkadang membuat ku iri padanya.

***

6 bulan berlalu …

Wisuda Sarjana 2 minggu yang lalu telah aku lewati. Al Azhar masih
kokoh berdiri menemani kami dalam barisan para mujahid muda.
Namun ada satu yang kini berbeda, beberapa diantara kami alhamdulillah
sudah bekerja. Begitupun juga denganku. Sebuah perusahaan memberikan
kesempatan kepadaku untuk mengamalkan apa yang telah kuraih selama ini.

Hari ini, disini aku berdiri, didepan Al Azhar ini. Sebuah buku
bertuliskan sebuah judul "Ayat ayat Cinta", dibagian bawahnya tersirat
sebuah nama Nissa Nurrahma. Buku ini hampir sebulan ada padaku,
rencananya aku akan mengembalikannya hari ini seusai liqo.
Sambil aku akan menanyakan perihal rencana pinanganku untuknya.
Langkah ini aku ambil setelah beberapa Istikharahku, serta nasihat
dari Ummi dan Murrabbi-ku.

"Apa lagi yang antum tunggu akh?, kuliah udah, kerja udah … ayo
berjihadlah didalam rumah tangga, …", gurau Murabbiku saat itu.
Namun belum genap langkahku, sepucuk surat terjatuh dari dalam buku
itu. Sebuah amplop putih bertuliskan sebuah nama "Akh Faiz".
Aku buka amplop surat tersebut,

Salamullaahi alaika akhi …,
Ba'da hamdalah wa shalawat

Maha suci Alloh yang telah perdengarkan bagiku sebuah karunia, yang
telah kau perlihatkan bagiku sebuah do'a menjadi nyata.
Alhamdulillah akhi, Insya Alloh selepas wisuda nanti ana bermaksud
untuk melanjutkan kuliah di Al Azhar. Menemui jejak-jejak langkah para
shahabiyah sejati di negeri para Nabi, Cairo Mesir.

Seandainya tak sempat ana mohonkan maaf akan segala salah dan khilaf
ini, perkenankanlah untuk memaafkan dan ikhlaskanlah semuanya.

Wasalamullaahi alaika,
Nissa Nurrahma

Kuhela nafasku, kuambil ponselku, aku hubungi nomor ponsel Nissa.
Sebuah jawaban terdengar darinya bahwa nomor tersebut berada diluar
area. Aku terlambat. 2 minggu telah lewat dari keberangkatannya.
Aku hanya tertegun menatap lembayung senja dan berucap,

"biarlah kutitipkan lewat senja,
dan kunanti jawabnya di cerahnya mentari di esok pagi,
Tuk sampaikan rasa rindu ini
Dari Al Azhar untuk Al Azhar …"

Sebuah pesan singkat masuk dalam ponselu,

"Alloh tidak selalu menjawab permintaan kita dengan sebuah kata `Ya',
akan tetapi Dia akan selalu menjawabnya dengan memberikan yang terbaik
bagi hamba-Nya, bukankah begitu akh ?"

***


6 komentar:

  1. ceritanya bagus....tetap semangat yaa...untuk menulis yang lebih bagus lagi*_*

    BalasHapus
  2. Butuh penghayatan tuh klo baca tu crita.
    1 kata : "SUBHANALLAH" ^_^

    BalasHapus
  3. ternyata kang dikdik teh .... penulis beneran :)
    teras nulis kang sing sumanget
    diantosan karya anu sanesna

    BalasHapus
  4. alhamdulillah,
    hatur nuhun pak do'anya mudah2an bisa bener-bener jadi penulis beneran :D

    BalasHapus
  5. Tetep SEMANGATTTTTTT......met berkarya, moga sukses :)

    BalasHapus