Senin, 13 Agustus 2007

Karena Ia begitu menyayangi kita ...

Bismillahirrahmanirrahiim ...

Menyusuri langkah, merajut hari-hari dalam balutan kisah kehidupan kadang berkali menjadikan kita berada dalam kefuturan akan ke-Maha Kuasaan-Nya. Sering kita berujar, betapa banyak do'a yang kita panjatkan, namun mengapa belum jua harap terwujud dalam nyata?, atau mungkin sering pula kita berkata, begitu banyak ibadah telah kita haturkan, namun mengapa Ia selalu menjadikan kita kecewa dalam menjalani segala keputusan-Nya?.

Lalu dengan diiringi riuh gemuruh tepuk tangan setan, kita menyangkal atas segala karunia yang pernah ada. Kita melupakan atas semua yang telah hadir mengantarkan kita sampai pada detik dimana saat ini kita masih bisa menarik nafas panjang, merasakan segarnya aroma kehidupan.

Saya jadi teringat ketika suatu hari seorang ibu dengan segenap kasih dan sayangnya memeluk dan menciumi putrinya. Dengan penuh kemesraan, ia membelai lembut rambut sang putri sambil berucap do'a penuh cinta. Saat itu ada yang semestinya kita tanya dalam diri kita, mengapa sang ibu itu sampai begitu mesranya, begitu sayangnya pada putrinya itu?

Ibu itu berujar, "Karena ini adalah buah hatiku, yang terlahir dengan taruhan nyawaku, yang dalam tubuhnya mengalir darahku, sehingga tiada pantas bagiku untuk tidak mengasihinya dengan segenap kasih dan cintaku ...".

Tentunya tak ada dari kita yang tidak sependapat dengan pernyataan ibu itu diatas. Namun ketika kita mencoba menyelami makna yang ada dibaliknya semestinya kitapun tersadar, bahwa ternyata seorang yang "hanya" berperan untuk melahirkan saja sebegitu cintanya pada kita. Apalagi Ia yang telah menciptakan kita ....

Padahal kalaulah Allah tidak menyayangi kita, begitu mudah bagi Ia untuk menurunkan azab-Nya, menimpakannya pada kita yang tidak secuilpun memiliki kuasa atas semua kehendaknya. Kalaulah Ia tidak menyayangi kita, betapa mudahnya bagi Ia untuk membukakan dan mempertontonkan seluruh aib kita hingga tak ada lagi sanjungan, tak ada lagi gelar kehormatan apalagi jika hanya sebuah predikat yang hanya ada dalam pandangan manusia. Tidak ada !!, semua akan hilang ketika mereka tahu sebenarnya betapa hinanya diri ini ... Tinggalah kita seonggok mahluk yang penuh dengan penyesalan akan apa yang telah kita lakukan, karena melupakan segala nikmat dan karunia yang selalu hadir menemani hari-hari panjang kita.

Bermuhasabahlah kembali ...

Mengingat kembali segala dosa, tiada salahnya kita luangkan sejenak sesaat sebelum mata ini terpejam, mengingat kembali salah dan khilaf yang telah kita perbuat, bermohonlah ampun pada-Nya karena hanya Ia satu-satunya yang maha penerima taubat hamba-Nya, karena diesok hari kita tak akan bisa dan tak akan pernah bisa menjamin akan keberadaan kita didunia yang fana ini.

Semoga Alloh mengembalikan kita pada fitrah-Nya, fitrah yang akan menjadikan kita semakin dekat dengan-Nya, mensyukuri segala nikmat-Nya dan hanya memohon atas apa yang kita harap ada dalam ridha-Nya ...

Aamiin yaa robbal'alamiin ...

8 komentar:

  1. semoga kita semua termasuk orang yg tidak merugi dan selalu diberikan petunjuk dan bimibinganNya...Aamiin, TFS ya

    BalasHapus
  2. JazaakaLLOHUjaziilan 4 a wonderful muhassabah, Mas Dik2... Jadi nggak karuan hati ini... ALLOHUMAghfirlii...

    BalasHapus
  3. Semoga aku selalu diingatkan dan bisa kembali dekat denganNYA
    Amin

    BalasHapus
  4. saudaraku..., artikel anda membuat denyut nadiku seakan berhenti serta mengguncangkan hati dan jiwaku....

    sangat betul apa yang anda katakan....., sekiranya kita mengenal Allah dengan ma'rifah yang benar tentulah kita hanya bisa menangis lalu terdiam dan menagis lagi...
    betapa kasih sayang-Nya tak dapat ternilai besarnya...

    makasih atas nasihatnya saudaraku...

    JAALALLAHU FII BATHININA NUURAN

    Alhamdulillah...

    BalasHapus
  5. bila air mata ini tak mampu menetes lagi terkadang bukan karena begitu banyak yang telah kita lelehkan, namun terkadang justru karena begitu tandus hati kita hingga tak tersimpan setetespun hidayah di sana. Maka jika menangis itu yang mampu menghapus kesalahan, air mata itu yang kan membasahi kering kerontangnya hati, maka menangislah, temukan kerendahan diri kita di sana.

    BalasHapus
  6. Terimakasih, tulisan yang bagus, mengingatkan kita kembali kepada dosa2 kita yang menggunung....
    Jazakallah.

    BalasHapus
  7. terimakasih tlah memngetuk pintu hati kami tuk kembali memgoreksi diri..."semoga Allah senantiasa memperrpanjang pertoubatan kita,,".. (amin)

    BalasHapus