Kamis, 13 September 2007

Belajar Berbicara ...

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Entah, saat itu saya hanya bisa terdiam. Lidah ini terasa kelu bahkan bibirpun pula terasa kaku. Padahal saat itu sangat jelas bahwa dia memang mencoba untuk mengajak saya berbincang. Tidak ada lagi orang disekitar kami, hanya kami berdua, dia dan saya. Yang berarti juga ini membuktikan bahwa dia memang mengajak berbincang hanya pada saya.

Alam pikiran ini malah pergi melayang, menerawang dan bagai menganggukkan kepala kepada pandangan orang yang kini mungkin mulai merasuki juga cara berpikir saya. Cara pandang yang justru malah menjadikan diri ini terasa sempit, dan tak lagi mengenal luasnya dunia. Setuju dengan ungkapan bahwa ketika kita berada di satu dunia yang memiliki strata lebih tinggi maka kita tidak akan dapat menikmati lagi untuk berkomunikasi dengan mereka yang memiliki strata lebih rendah dari kita.

"Bohong!!!"

Hati ini mulai berontak, antara pikir dan rasa mulai mengajak diri ini bagai berada di atas puncak kebimbangan. Bertolak belakang antara apa yang saya pikirkan dengan apa yang saya rasakan saat itu. Memilih mana yang harus saya perbuat, memilih mana yang harus saya ikuti. Antara pikir dan hati ...

Tarikan dan helaan nafas panjang yang saya rasakan membawa diri ini mencoba memaknai apa yang terjadi.

Tak ada semestinya diri ini merasa lebih dari pada yang lain, meskipun memang kadang kondisi mengajak kita berada pada perasaan tersebut. Dan manusia memang selalu terlena ketika semua itu terjadi.

Idealnya memang sebuah dunia yang kita arungi setiap hari dalam posisi tertentu akan banyak mempengaruhi cara hidup kita, mempengaruhi cara bergaul kita, atau juga sedikitnya akan mempengaruhi cara kita dalam berkomunikasi dengan orang lain. Kita akan merasakan sulit menikmati perbincangan dengan seseorang yang memiliki latar berbeda dengan kita. Kita merasa asing dengannya.

Padahal bijaksananya, jika kita coba memandang dari sisi lain, andaikan memang latar antara diri kita dengan orang tersebut memang berbeda, bukankah justru kondisi itu akan menjadikan kita semakin kaya akan berbagai hal?. Tidak ada alasan karena berbeda strata pendidikan maka kita tidak lagi menikmati perbincangan kita dengan orang tersebut. Kurang bijaksana kiranya jika kita berpandangan seperti itu, karena justru jika memang kita memiliki pendidikan yang lebih tinggi dari orang lain, semestinya kita tetap bisa menikmatinya baik itu sekedar perbincangan ataupun pergaulan dengan mereka. caranya entah dengan sedikit menurunkan level gaya bicara kita, ataupun entahlah ...

Andaikan semua orang berpandangan picik seperti yang saat sebelumnya saya pun merasakannya, maka mungkin tidak akan pernah ada satu sekolahpun di dunia ini, dimana didalamnya terdapat dua segmen manusia yang jelas-jelas pastinya berbeda antara mereka. Latar pendidikan antara seorang murid dan guru-nya.

Saya jadi teringat, beberapa tahun yang lalu teman saya justru memutuskan untuk menikah dengan calon istrinya yang saat itu padahal memiliki strata pendidikan  lebih tinggi daripadanya. Ternyata buktinya, sampai sekarang mereka bisa dan mampu membangun sebuah istana kemegahan rumah tangganya. Komunikasi tetap terjalin baik dan tidak menjadikan perbedaan strata dan latar belakang pendidikan mereka sebagai sebuah benteng pemisah.

Wallahu'alam bish-shawab.

21 komentar:

  1. itulah yg kuinginkan tapi...kenyataannya....

    BalasHapus
  2. seatap sehati, strata cuma warisan feodalisme :)

    BalasHapus
  3. strata, ga ada bedalah..toh hanya iman dan amal yang ngebedain kita bukan..

    BalasHapus
  4. kita cuma sering terjebak dengan status strata dll yang memasung kita di dalamnya ... padahal kalo kita biarkan merdeka saja ... yo nggak opo-opo lho ... karena strata dkk itu cuma "hiasan dunia" semata ... tidak ada artinya di hadapan Tuhan apabila strata dkk nya itu tidak memberi manfaat bagi dirinya dan masyarakat luas ... jadilah manusia yang merdeka ...

    BalasHapus
  5. hhum.. jadi hubungannya dengan image monyet-nya apa yak?

    BalasHapus
  6. ...(mencoba mengingat2)...bukannya yang membedakan kita di mata ALLAH swt hanya TAQWA (ketaqwaan) ?....

    BalasHapus
  7. Mulut bisa membisu, tapi hati dapat berkata-kata dan mata dapat berteriak. Jujur saja ^_^

    BalasHapus
  8. setuju banget.... (kurang lebih sama dengan postinganku: Ramadhan bertemu Ramadhan)

    BalasHapus
  9. aq link ya mas di2k... kuganti judul: ketika Strata berbicara...

    BalasHapus
  10. beneeerrr.....dan itulah yg kulihat

    BalasHapus
  11. harus berhati2 bicara..kerna sume tu bakal d hitung...moga kita sentiasa menjaga bicara..

    BalasHapus
  12. enggak ah, justru ketika kita bicara dengan orang yang stratanya lebih rendah bukannya malah enak, kita nggak takut2 mau ngomong apa. beda kalau bicara dengan yang stratanya lebih tinggi.

    BalasHapus
  13. ..hmm... pokoknya kalau berbicara harus pake topeng, capek dee...

    BalasHapus
  14. islam jawabannya... strata dan keduniawian lainnya tidak lebih penting dari niat yang baik dan ihklas... jadi azamkan dengan jelas tujuannya, insya Allah jalannya Dia lapangkan :)

    BalasHapus
  15. nape x leh komen ye. x nampak apa2 sini????

    BalasHapus
  16. mungkin saya termasuk yang bodoh, tapi saya pernah tersandung persoalan strata..apa lagi kalo bukan urusan pasangan hidup. stratanya yang jauh lebih tinggi ternyata membuat saya ragu. Meskipun dia telah meminta dengan terus terang. Hmmmmhhh...

    BalasHapus
  17. Semoga hari ini penuh hikmah dan Pembelajaran. Semoga Allah senantiasa memudahkan langkah-langkah kita menujuNya...
    Begitulah kata-kata yang senantiasa tersemat dalam dada ini.well, lalu apa hubungannya dengan strata??
    bertemu dengan banyak orang membuat kita banyak belajar... kenyataannya, Allah selalu menyuruh kita untuk berfikir... maka,dipertemukanya kita dengan seseorang bukanlah suatu hal yang kebetulan namun telah digariskan sejak lama pada laufuh mahfuz... dan pada merekalah kita 'disuruh' belajar serta mengambil hikmah.

    karena keshalihan.. ketaqwaan... tak pernah memandang strata seseorang.
    hanya seorang yang mau merendahkan dirinya terhadap ilmulah yang mampu menaklukan setiap hikmah yang ingin Allah karuniakan pada kita...

    well, jadilah yang sedikit... karena kebanyakan manusia itu malas berfikir lagi lupa bersyukur...

    BalasHapus
  18. kalo cinta sudah bicara, bibir tak perlu berkata. Cinat, ikutilah dia, bimbing dan arahkan dia , tak mungkin kita membelakanginya, menyeret kita dan memperbudak kita dengan semena-mena. ( nyambung ga seh, lagi pararuyeng neh tapi ngotot pengen komen )

    BalasHapus