Selasa, 02 Oktober 2007

Bahagiakan Mereka ...

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Langkahku tehenti, ketika sebuah teriakan tercipta dari bibir mungilnya yang lucu. Aku menoleh kearahnya, seorang anak kecil berusia sekitar empat tahunan. Ia berlari untuk kemudian berceloteh,

"Abi, Ummi bilang abi mau ngajak kita belanja ya? Aku mau dibeliin mainan baru bi, O ya, baju koko ku juga udah kecil bi, bentar lagi kan lebaran, beli lagi ya bi? Terus abi juga janji kan mau bawa aku jalan-jalan, kapan bi?", tanyanya.

Seseorang yang tadi dipanggil Abi itu kemudian sambil memainkan rambut anak laki-lakinya dia tersenyum dan berujar,

"Iya, insyaAlloh nanti kita pergi bareng Ummi ya Iqbal, sekarang Iqbal mandi dulu terus siap-siap bentar lagi kita ke mesjid".

Ada sorot mata kasih sayang ketika dua pandangan mereka bertemu. Aku tertegun, ada keharuan yang menyeruak dalam dada ini. Mulutku terkatup rapat, mata terpejam, serasa ada tetesan air di penghujung mata ini.

Kucoba tersenyum sambil berucap, "Alhamdulillah ...", gumamku.

Keceriaan, kegembiraan bahkan nilai dari sebuah kesempatan untuk merasakan kebahagiaan saat-saat bersama dengan seorang ayah seperti itu yang memang tidak pernah aku rasakan. Namun ternyata bukan hanya olehku, ia sang Rasul Alloh pun mungkin merasakan hal yang sama saat itu. Bahkan berjuta anak-anak lainpun akan tidak jauh beda merasakannya, ketika kondisi memaksa mereka menjadikannya berada pada posisi tersebut. Menjadi seorang yang hanya bisa berharap, bermimpi bisa mendapatkan belaian kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya.

Mereka tidak pernah meminta untuk terlahir dan hadir didunia ini tanpa merasakan kasih sayang seorang ayah ataupun ibu. Mereka juga tidak pernah berharap berada pada satu posisi kekurangan kasih sayang karena ketidakberadaan salah satu dari kedua orang tuanya.

Namun yang jelas ternyata Alloh tidak hanya menguji mereka dengan kesabaran dan ketawakalannya untuk bisa menerima dan menjalani hari-harinya dengan tetap tegar. Tapi juga ternyata Alloh menguji kita, menguji sejauh mana kita mampu berbagi kasih dengan mereka, menguji sebesar apa kita mampu berbagi sayang dalam kehidupan mereka.

Disaat begitu banyak kebersamaan, kebahagiaan dan keceriaan kita tercipta dengan anak-anak kita, namun ternyata betapa sedikit kita tersadar bahwa di ujung sana, sepasang mata kecil yang tidak pula berbeda mengharapkan kebersamaan dengan orang tua-orang tua mereka, hanya mampu berurai air mata, mereka hanya mampu menunduk dan tersedu.

Tidak berlebihan memang, ketika Rasul begitu memuliakan posisi mereka yang mencintai anak-anak yatim di akhirat kelak, mengumpamakannya dengan beliau bak dua jari tengah dan telunjuk yang diantaranya tanpa satupun jari pemisah. Subhanalloh ...

Untuk itu, disaat kini purnama Ramadhan yang kian hari kian tak sempurna lagi, tiada salahnya bila kita coba menengok kesekeliling kita. siapa tahu disana masih ada airmata kesedihan yang mengharapkan belaian kasih sayang kita, hanya untuk membesarkan jiwa-jiwa mereka, dan meyakinkan mereka bahwa kita bisa menjadi pengganti bagi ayah-ibu mereka. Dekap, belai dan bahagiakanlah mereka ...

Wallahu'alam bish-shawab.

Tulisan ini juga dimuat di :
Eramuslim

20 komentar:

  1. kata rosul, "ANTARA AKU DAN ANAK YATIM ADALAH SEPERTI INI, " sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengah.

    mari membahagiakan mereka

    BalasHapus
  2. Assalamu'alaikum dan Selamat Pagi Akhee Dhika!!!............Alhamdulillah dan terimakasih diatas ceritanya..........hmmm pagi2 udah bikin K'Fazz nangis dan sedih bila baca artikel ini..........hulurkan lah bantuan berupa wang jika ada dan termampu pada mereka yang memerlukan terutama sekali anak-anak yatim.........dan berilah bantuan tenagamu pada yang memerlukan dibadan-badan yang butuh bantuan.............terakhir sekali jika kita tiada punya apa2 dan tidak berdaya maka hadiahkan lah doa kamu terhadap mereka....insya'allah pasti Allah s.w.t. mengabulkannya..................Wassalam dari Siti Nur Fazurah....*senyum selaluuu*....<(^_^)>

    BalasHapus
  3. Alangkah indahnya jika cita-citaku di makbulkan Allah swt...iaitu kepingin sekali mngambil anak yatim sebagai anakku sendiri...ingin sekali membahagiakan mereka.
    Ya Allah....dengarkanlah doaku yang satu ini...................

    BalasHapus
  4. Trima kasih sudah mengingatkan...

    BalasHapus
  5. Dekap, belai dan bahagiakanlah mereka ...

    Jazakallah sudah mengingatkan ^_^

    BalasHapus
  6. terima kasih udah ngingetin.....

    BalasHapus
  7. ................................. *terharu*

    BalasHapus
  8. semoga bisa ikut berbagi kebahagiaan dengan mereka....
    TFS

    BalasHapus
  9. JazaakaLLOHUjaziilan, Mas Dik2... :,(

    BalasHapus
  10. Jadi inget kunjungan kemarin, Qhania seneng sekali yang tiba2 kakak2nya banyak. Mereka saling terhibur...Alhamdulillah...senangnya Ramadhan hadir u berbagi senyum dan hati....

    BalasHapus
  11. .................................
    subhanallah.....

    BalasHapus
  12. kanak2 itu bidadari syurga..

    BalasHapus
  13. Jazakallah khair akh... tulisannya, alhamdulillah... jadi pengingat..

    BalasHapus
  14. Terlalu sulit bagi mereka mengharapkan pelukan & belaian kasih sayang orang tua yang memang tidak mereka miliki...
    Mereka hanya dapat berdoa..semoga keajaiban Allah di bulan Ramadhan ini datang dan mengirimkan mereka orang tua seperti yang mereka inginkan.aminnn...

    BalasHapus
  15. berbagi kebahagiaan tak usahlah memilih siapa dia, berbagialah dengansiapa saja maka kebahagiaan itu akan benar-benar terasa

    BalasHapus
  16. Suka berhitung matematis? Sering-seringlah membelai rambut anak yatim dengan kasih sayang. Maka pahalanya adalah sebanyak rambut anak itu. Subhanallah! Ramadhan mau segera habis, man, buruan, buruan...

    BalasHapus
  17. subhanallah, pahala membahagiakan anak yatim sungguh tak terkira, tapi ketahuilah kakakku yang baik menurutt pribahasa arab bahwasanya sebenar-benarnya yatim adalah mereka yang sebenarnya tidak mempunyai ilmu pengetahuan sama sekali. jadi jangan hanya berpikir untuk membahagiakan saja bahkan hanya mengelus kepalanya, tapi berikanlah mereka kesempatan seluas dan selebarnya dengan kemampuan kita untuk memberinya kesempatan menuntut ilmu.mudah2an tidak menggurui, dan apabila ada kesalahan mohon diluruskan.
    wassalamualaikum
    nunu (our sister in one aqidah)

    BalasHapus