Rabu, 26 Desember 2007

Selagi belum dewasa !

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Gerimis memulai hari di pagi ini. Awan hitam menggelayut diantara bentangan luasnya mayapada. Semilir angin lembut menghempas butiran-butiran halus titik air hujan menyapa wajah. Matahari pagi tersipu malu sembunyi dibalik kesunyian hari.

Langkah-langkah dan hentakkan kaki membawa diri menelusuri satu demi satu jejak langkah.

Seorang bapak dengan tekunnya memilah satu demi satu tanaman hijau yang menghiasi taman itu. Gerak tangannya seolah tidak asing lagi untuk memilih tanaman mana yang mesti dicabut, atau tanaman mana yang mesti dibiarkan tetap tumbuh menghiasi hari-hari dan suasana hati kami yang terbiasa melewati taman itu.

Sebuah tonggak ia pancangkan di tepi sebuah pohon kecil disudut sana. Kemudian sebuah tali ia ikatkan melilit batang kecil pohon itu untuk kemudian ia ikatkan pula pada tonggak yang telah terpancang tadi.

"Pagi pak", sapaku
"Eh ..., pagi mas", jawabnya sambil tak lupa menyunggingkan senyumnya.

Ramah, dan tak pernah terlewat menjawab setiap sapaan orang-orang yang menyapanya. Meskipun terkadang ia tetap harus sibuk mengurusi tanaman-tanamannya, namun ia selalu sempatkan untuk tidak mengecewakan orang-orang yang menyapanya dengan menolehkan muka, menjawab sapa dan menyunggingkan senyuman.

"Kok pohonnya diikat pak?"
"Iya nih mas, pohonnya bandel, disuruh lurus malah bengkok"
"Wah bapak bisa saja ... "
Sesaat kemudian kami berdua tertawa.
"Selagi masih bisa dibuat lurus, makanya saya coba ikat mas", lanjutnya

Aku hanya tersenyum, sepertinya sederhana namun ternyata apa yang ia katakan penuh makna.

Teringat, satu waktu aku pernah memperhatikan seorang bocah laki-laki berusia tak lebih dari tiga tahunan. Gayanya tak jauh berbeda dengan seseorang yang saat itu ada disampingnya, aku kira ia mungkin bapaknya. Berambut ikal namun dicat agak keemasan. Tingkah polahnya-pun tak jauh berbeda, berlagak seorang preman dengan lengan baju digulung sampai di atas sikut tangannya, serta kedua tangan diselipkan dipinggangnya.

Yang lebih miris adalah ketika aku harus rela sesekali mendengar dari bibir manisnya keluar umpatan-umpatan kasar yang tidak sama sekali pantas diucapkan.

Dari sana aku mengerti, bahwa apa yang kita inginkan dan kita harap dari generasi penerus kita adalah tergantung dari apa yang kita contohkan pula pada mereka, tergantung dari apa yang kita tanamkan pada mereka, bahkan pula tergantung dari apa yang kita ikatkan dalam diri-diri mereka.

Baik ataupun buruk sikap atau kepribadian mereka akan sangat bergantung kepada didikkan kita ketika mereka masih berada dalam satu masa pertumbuhan atau bahkan jauh sebelum itu. Bukankah seorang ibu yang menginginkan anaknya hafal Al Qur'an pun, biasanya pula berusaha menghafal al Qur'an pula ketika sedang mengandung janinnya?

Sampai ketika jiwa-jiwa itu mulai tumbuh, dan hari-hari mulai menghiasi kehidupan mereka generasi kita. Sentuhan, belaian, serta kasih sayang kita dalam menuntun kisah hari-hari mereka akan sangat mereka perlukan.

Dan andaikan semua itu sudah berlalu. Dan baru kita sadari ketika mereka sudah terlalu sulit lagi untuk kita bimbing menjalani hari-harinya lagi, seperti halnya batang pohon yang sudah teralu tinggi dan membengkok yang sulit untuk kita jadikan lurus kembali, jangan seutuhnya dan sepenuhnya kita salahkan mereka. Apalagi kemudian kita hanya mampu berdiri dengan wajah tanpa dosa mengangkat bahu serta kedua belah tangan kita.

Mungkin sebuah renungan buat kita, "Apa yang dapat kita berikan untuk mereka, selagi mereka belum dewasa?"

Wallahu'alam bish-shawab

Tulisan ini juga dimuat di :
Eramuslim

13 komentar:

  1. Subhanallah..terima kasih atas tulisannya...sangat bermanfaat.....

    BalasHapus
  2. Yup.. Yup..

    Dan.. untuk anak-anak kita.. Apa yg dapat diberikan pada mereka, selagi kita belum nikah? ^_^

    BalasHapus
  3. "Apa yang dapat kita berikan untuk mereka, selagi mereka belum dewasa?",

    hmmm... emang harus dipikirin dr skrg..., tp yg lbh hrs dipikirin dulu adalah...menikah dulu sblm mempunyai anak .. :-)

    BalasHapus
  4. :)
    Ilmu yang sangat bermanfaat...
    "Semoga Allah membalas kebaikan saudaraku Dikdik Andhika Ramdhan dengan yang jauh lebih baik disisi Allah"
    "Apa saja yang bisa kita berikan pada orang-orang yang kita temui dalam hidup kita, saat ini..."

    BalasHapus
  5. Berikan mereka sedikit kebebasan untuk menjadi diri sendiri! Jangan 'ikat' mereka trlalu kencang dengan semua aturan yang memenjarakan mereka.

    (*artikel yang bagus Mas, thnx) :)

    BalasHapus
  6. Analogi yang bagus tentang pembentukan dan harapan yang memang harus dari awal...

    BalasHapus
  7. wah, jadi malu nih...belum bisa mencontohkan yang baik...

    BalasHapus
  8. ga harus nunggu punya anak dulu kali mba... emangnya yang mw dididik anak kita doank?? ga kan?? let's make a change even it's a little change...

    BalasHapus
  9. ya i really understand about that,,,waktu lagi jln2 ketika itu ada saudaraku yg buang sampah sembarangan keluar jendela mobil,,walaupun mulut ini jadi terus nyerocos ngomel2 gara prilaku itu, tapi tetep aja sampahnya ud telanjur jauh dibuang tertiup angin,,eh brapa menit kemudian sang spupu yg umurnya 2 tahun buang sampah juga keluar jendela! ketika sampai d tempat tujuan, ada orang yang buang sampah di tempat sampah yg tergantung di pohon,,1 menit kemudian spupu aku itu buang sampah juga di tempat sampah itu,,,begitu cepatnya dia meniru orang lain,,,

    BalasHapus