Kamis, 03 Januari 2008

Dimana keadilan Tuhan?

SEBUAH CATATAN UNTUK KARYA-KARYA SINEMA KITA :

Bismillaahirrahmaanirrahiim,


"Hanya linangan air mata yang berderai, hanya bentangan kesedihan yang terbuai, hanya satu demi satu cobaan dan ujian yang kini terus menggerogoti keimanan hingga akhirnya mungkin harus hilang dan lengkang dari diri, lalu kutemukan sebuah pintu tanpa batasan cahaya keimanan", lirihnya.

Ia masih meratapi hari-harinya, hanya bisa menunggu tanpa tahu sampai kapan ada satu batas waktu. Yang akan mempertemukannya dengan kemanisan iman. Yang akan mempertemukannya dengan keceriaan senja berbalut cahaya surga.

Nafas serasa tersengal. Semua berubah laksana neraka yang telah mendahului untuk hadir di dunia. Hadir dalam hidupnya yang malang, hadir dalam satu sisi kisah tanpa ada sedikitpun ruang ataupun waktu untuk berhenti sejenak. Lepas dari satu masalah, maka bagaikan antrian panjang para calon penumpang kereta, masalah lain pun kembali hadir dalam hari-harinya. Mengisi ruang sisi kelam.

Ia hanya terdiam.

Tak tahu lagi apa yang harus ia cari, tak tahu lagi apa yang harus ia kejar. Semua terasa menjauh, bahkan satu harapan pun untuk mendapati-Nya begitu sulit ia dapatkan. "Ah ..., kemana aku harus mencari Tuhan?, dimana keadilan Tuhan?, dimana janji Ia yang akan mendekat ketika kita berusaha mendekat padanya?", lanjutnya penuh rasa putus asa.

Kiranya seperti itulah satu perlukisan kisah dalam setiap penayangan sinema-sinema kita. Dunia serasa hadir bak sebuah dua mata pisau yang selalu akan menghadirkan luka ketika kemanapun ia arahkan dalam diri kita. Beribu masalah terus menerus hadir tak terselesaikan. Tak ada pangeran penolong yang hadir untuk membawanya lari dari jurang derita dan lari menuju satu babak kehidupan penuh bahagia. Yang ada hanyalah satu demi satu kekejaman yang selalu datang silih berganti. Bahkan satu sisi keberadaan Ia sang maha kuasa, Alloh SWT -pun tak pernah ada. Dan kalaupun ada hanyalah muncul dibagian akhir rentetan episode-episode yang telah mengurai segala derita.

Pantaslah jika kita bertanya, dimanakah keadilan Tuhan?. Wong, keberadaan kuasa Tuhan-pun hanya muncul di satu atau dua episode terakhir cerita, diantara ratusan episode sebelumnya.

Sebuah tontonan yang bagaimana mungkin akan mampu menggerakkan satu sisi keimanan para pemirsanya menuju perbaikan, yang akan mampu menjadikan satu pengantar seorang hamba menggapai indahnya cahaya hidayah. Karena yang jelas, hasilnya ternyata hanya mampu mengubah satu persepsi dan pandangan seseorang untuk semakin takut menjalani kehidupan. Semakin takut untuk melangkah tegak dalam menyusuri hari-harinya.

Kiranya tidaklah sedikit kejadian kita temui dalam kurun waktu beberapa saat terakhir ini, dimana hal ini selalu menjadi pilihan akhir seseorang dalam menjalani hidupnya. Jika bukan bunuh diri, maka kehidupan hitam adalah layaknya sebuah stasiun terakhir yang sesaat kemudian mengantarnya mempertemukan dengan sebuah kereta malam menuju jurang dosa. Namun memang seperti itulah kiranya hasil dari satu pendidikan moral kita, dimana disatu sisi semestinya menjadi satu sarana hiburan, namun ternyata meleset jauh malah menjadi satu sarana pembentukkan karakter yang cengeng serta hanya siap kalah ketika setiap satu cobaan dan ujian menghampiri hidupnya.

Tidak ada perlawanan, tidak ada perjuangan. Semua lemah layaknya satu nyawa yang tak berkutik dan kalah serta terhempas ketika menemui masa-masa kesulitan dalam dirinya.

Bukan hanya mereka, terkadang seorang yang akan sangat paham tentang keilmuan-pun, baik itu pemahaman tentang satu sisi keilmuan tentang kehidupan, maupun tentang keagamaan, ketika terus menerus disuguhi akan satu hal yang selalu berlatar sama tentang ketidakadilan Tuhan, maka bukanlah tidak mungkin, sedikit demi sedikit akan mempengaruhi jiwa-jiwa mereka dalam mempertanyakan, "Benarkah semua itu ...?". Yang kemudian jika tidak cepat-cepat melangkah pergi dan berlalu meninggalkannya akan terus menuntunnya untuk masuk dan seraya menganggukkan kepala atas apa yang dilihatnya. Hingga akhirnya tak ada lagi satu sisi keimanan yang hadir dan nampak dalam setiap tutur kata, sikap serta langkah-langkahnya.

Naudzubillah...

20 komentar:

  1. Ujian itu adalah rahmat dari Allah....
    ada ujian bahagia..
    ada ujian derita..
    jadi bersyukurlah pada kedua2nya..... :-)

    BalasHapus
  2. Keadilan tuhan ada pada orang2 yg sabar...

    BalasHapus
  3. takdir,nasib,cobaan,ujian,keprihatinan,suka dan duka...semuanya diramu oleh Tuhan dan diberikan pada kita (manusia) untuk mensyukuri..apa makna dari sebuah Perjuangan Hidup!

    BalasHapus
  4. pada dasarnya mungkin itulah penyakit kita, yang selalu menuntut dan menuntut untuk kebahagiaan diri sendiri, maka tatkala kesedihan melandanya... langsung berucap bahwa Allah tidak adil dst.

    BalasHapus
  5. memang benar....
    saya sering mempertanyakan hal itu ...

    BalasHapus
  6. Ada saatnya sih berucap begitu meski sudah tahu teorinya, tapi ya... alhamdulillah masih kuat.

    BalasHapus
  7. saat keimanan sedangmenanjak,,,, segala yang terjadi seakan menjadi romantika kehidupan,

    saat sedang futur (maaf) bahkan sampai menyangsikan keadilan Allah..

    astaghfirullah....

    BalasHapus
  8. Mohon dibaca keseluruhan artikel ini,
    biar tidak salah memahami apa yang saya maksudkan dengan judul diatas ...

    BalasHapus
  9. Mohon dibaca keseluruhan artikel ini,
    biar tidak salah memahami apa yang saya maksudkan dengan judul diatas ...

    BalasHapus
  10. mmm...emang iya sih klo tiap hari suguhan sinemanya hanya yg menggambarkan hal2 spt itu ..., pastinya sedikit byk akan berpengaruh, yah moga ajah tahun 2008 ini jadi taun baru buat pertelevisian indonesia

    BalasHapus
  11. hmmm...kenapa setiap ta baca artikel antum ane selalu menarik nafas dalam-dalam dan lega mengisi rongga dada, begitu kentara ada ruh disana, semoga bisa menulis seperti itu....

    BalasHapus
  12. Oh... maksudnya film/sinetron ya... Hm... memang sih makin lama makin nggak masuk akal dan ya itulah... dramatis bener, cobaan datang bertubi (bukannya saya belum pernah mengalami lho ya) dan yang mengalami kok kayaknya lemah bener. Alasannya lagi-lagi selera penonton. Penonton yang mana?

    BalasHapus
  13. sikap berhati2 dlm kata dan langkah..adalah sifat terpuji..

    BalasHapus
  14. katanya, kalau Allah menguji kita itu artinya Allah sayang sama kita.

    BalasHapus
  15. Kok masih mempertanyakan toh...berpikirlah begini..."Allah SWT itu Maha Tahu apa yang baik buat kita dan apa yang buruk buat kita"...karena...sesuatu yang buruk di mata manusia belum tentu buruk menurut Yang Maha Kuasa...enjoy the life and keep praise Allah SWT...Allahu Akbar!!

    BalasHapus
  16. “Hai orang-orang yang beriman, ruku`lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan" (Al-Hajj: 77) Diantara fadhilah : Iman adalah ucapan dan perbuatanAyat-ayat sujud tilawahTentang rukuk dan sujud dalam shalatAmal shaleh sebagai pintu kebaikanKebutuhan muslim terhadap amal baik sebagai jalan kebaikan selanjutnyaBeriman kepada Allah), Rabb semesta alam

    BalasHapus
  17. setuju banget....
    aku pernah posting judul mirip ...kisah menarik nih....
    buat aku penjelasan yang simple..jadi pertanyaan itu tidak perlu disampaikan..
    and buat memantapkan hati kita biar nggak gampang terpengaruh kesedihan
    klik sini ya....

    BalasHapus
  18. harusnya 'BO = Bimbingan Orang tua' di ujung kanan diganti 'BO = Bimbingan Orang sholeh' tuh supaya yang anak² juga ga jadi korban para ibu² yang terlarut...

    BalasHapus