Jumat, 04 Januari 2008

Tersenyum Ketika Semestinya Menangis

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Sebuah pintu kaca itu terbuka, aku hentakkan langkah diatas lantai berlapiskan karpet beludru itu. Pancaran air conditioner segera menyergap tubuh ini, memancarkan kesejukan setelah diri ini disuguhi panasnya udara di luar sana. Sejuk. Dan kini aku mampu menghirup sebuah kesegaran baru yang kini mulai menggelayuti seluruh raga ini.

Sebuah sapaan hangat sesaat kemudian telah menanti diri didepan sebuah meja front office sebuah gedung megah disatu titik kota Jakarta. Sebuah senyuman tak terlewatkan mengiringinya.

"Selamat pagi mas, apa kabarnya?"

Terasa santun ditelinga ini, gaya bicaranya layaknya seorang yang telah begitu akrab dengan kami para pengunjung setia gedung tersebut. Tanpa beban, tanpa gurat kesedihan ataupun juga garis kepiluan dalam setiap tutur kata dan bicaranya.

Meskipun aku tak pernah tahu dibalik semua itu, dibalik senyumannya, dibalik santun bicaranya, dan dibalik keakraban gaya sapaannya. Hanya do'a semoga memang mereka senantiasa berada dalam kondisi yang sama antara apa yang tampil di raut muka dengan apa yang ada dalam hati serta pikir mereka.

Mungkin satu waktu kita bisa memahami bahwa itu memang sebuah tuntutan profesionalitas pekerjaan yang diamanahkan kepada mereka. Untuk bisa tersenyum disaat mungkin kesedihan melandanya. Untuk bisa ceria disaat kepedihan menghantui sanubarinya. Dan secara tidak langsung ternyata memang itupun yang selalu kita tuntut hadir dari mereka, meski hanya untuk sekedar memberikan satu penghibur jiwa, disaat segala masalah berderet menjadi satu pasukan yang datang silih berganti kedalam gerbang diri ini.

Namun satu tanya adalah, pernahkah diwaktu yang sama kitapun mencoba untuk mengerti mereka?, bukankah selayaknya kitapun mengerti bahkan memahami bahwa merekapun tak beda memiliki apa juga yang kita miliki baik itu hati ataupun jiwa. Yang setiap saat bisa luluh dan tersimpuh dalam segala dera masalah yang ada.

Teringat sebuah buku yang mengisahkan tentang mereka yang bernasib sama. Dimana lagi-lagi sebuah tuntutan profesionalitas kerja memaksa untuk dapat mampu berbuat seperti itu. Dimana bibir tersenyum walaupun sebenarnya hatinya menangis.

Namun yang menjadi satu ironi adalah apakah layak keberhasilan mereka untuk dapat menjaga penampilan mereka dihadapan kita, memberikan satu kecerian dalam hari-hari kita, memberikan satu kesan kesejukkan dalam rona-rona masalah yang ada dengan tetap berusaha tersenyum ramah kita nilai bak sebuah nilai kemunafikan? Sebuah nilai penipuan berhiaskan tebar pesona?

Sesaat diujung pelupuk mata ini terasa basah dengan sebuah tetes air mata.

Bukan karena aku terlalu lemah untuk menerima pandangan mereka. Bukan karena aku merasa kalah dengan segala sudut pandang mereka yang berujar demikian. Ataupun bukan karena aku terlalu egois untuk mempertahankan sebuah cara pandang dan emosi diri ini.

Aku hanya berpikir, begitu naifnya kita yang dengan mudahnya menghunjamkan sebuah tusukkan atas segala kesabaran mereka dengan sebuah umpat atau cibiran untuk menguatkan ungkapan bahwa mereka orang-orang yang pandai bermunafik ria. Pandai bermuka dua. Bahkan pandai membolak balikkan fakta.

Padahal bukankah ia, sang Iman Ali bin Abi Thalib -pun penah berpesan pada kita, untuk bisa selalu berbuat sesuatu yang dapat menggembirakan orang lain sebagaimana yang kita harapkan pula hal itu datang pada diri kita?

Jika memang demikian, maka bukankah selayaknya mereka juga telah memberi satu tauladan bagi kita untuk senantiasa berbuat yang sama. Menampilkan diri tetap ceria meskipun deru masalah masih tetap menggelayuti asa kita.

Semoga kita dapat dapat senantiasa mengambil satu demi satu hikmah dari setiap apa yang kita lalui. Sehingga kehidupan yang mengiringi langkah ini senantiasa berbuah barokah.

Aamiin yaa robbal'alamiin

Tulisan ini juga dimuat
di ERAMUSLIM

15 komentar:

  1. Setiap kejadian ada hikmah di sebaliknya.....

    BalasHapus
  2. Menyimak...
    "Pernahkah diwaktu yang sama kitapun mencoba untuk mengerti mereka?, bukankah selayaknya kitapun mengerti bahkan memahami bahwa merekapun tak beda memiliki apa juga yang kita miliki baik itu hati ataupun jiwa. Yang setiap saat bisa luluh dan tersimpuh dalam segala dera masalah yang ada"
    >>> "Semoga kehadiran kita semua dengan siapapun dalam tiap pertemuan didunia ini bisa menjadi hadiah terindah..."

    BalasHapus
  3. Dalam praktik yang lebih nyata, kadang kita ngomelin customer service yang bisa jadi tidak terlalu memahami juga kebijakan tingkat atas... (kalau CS yang asal-asalan sih masalah lain lagi)

    BalasHapus
  4. Selayaknya begitu, setiap kebaikan pasti dibalas dgn kebaikan, kalau tidak pon, kita serah kpd Yang Maha Memberi utk membalasnya.....
    Jika diamati segala contoh profesionalitas yg baik..ialah Islamik....

    BalasHapus
  5. kang Dikdik share Semoga kita dapat dapat senantiasa mengambil satu demi satu hikmah dari setiap apa yang kita lalui. Sehingga kehidupan yang mengiringi langkah ini senantiasa berbuah barokah aaamiiin... TFS kang....

    BalasHapus
  6. Astagfirullah, kadang tak bisa menahan diri untuk mengekspresikan apa yang ada di hati...

    BalasHapus
  7. :) Menhgajarkan selalu bersabar dan bersyukur akan berbagai kondisi diri

    BalasHapus
  8. karena terkadang dengan tangisan tidak akan memberikan apapun..:)

    BalasHapus
  9. jadi inget pesan Rasulullah "senyumanmu di depan wajah saudaramu adalah sedekah"
    berwjah ceria saat bertemu dgn saudara sendiri. that's great...

    BalasHapus
  10. kalimatnya menunjukkan ...customer yang baik bener nih....
    kalau customer yang "nggak baik" aja dapat senyum..apalagi yang baik....
    ----
    satu keuntungan profesi "pelayan"..
    apa yang diajarkan dalam profesi-nya (tuntutan profesinya),
    jika dipalikasikan dalam kehidupan sehari-hari akan menjadi hal yang luar biasa...
    contoh gampangnya ya...keep your smile

    BalasHapus
  11. amiin... ikut mengaminkan doa akh dikdik... jazakallah sharenya akh...

    BalasHapus