Kamis, 06 Maret 2008

Perahu Kertas

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Mereka masih berlari ditepian. Empat orang anak kecil dengan kaki-kaki telanjangnya masih berlomba, berlari dan mengejar perahu-perahu kertas yang baru saja mereka layarkan diantara alunan gelombang riak demi riak sungai itu. Tanpa peduli dengan apa yang mereka lewati, mereka terus berlari mengikuti kemana perahu-perahu  itu pergi. Terkadang sesekali mereka tertawa lepas sambil bercanda ria. Hingga ditepian batas mereka melabuhkan perahu kertas mereka disana. Lalu dengan segera tanpa komando mereka melompat kegirangan, menceburkan tubuh-tubuh mungil mereka ke sungai. Tawa-tawa mereka lepas, tanpa beban bahkan tanpa ada sedikitpun rasa gundah.

Riak sungai sore itu seakan ikut bergembira ditengah keriangan suasana senja. Alam raya menyambut ceria, sementara daun-daun masih menari mengiring nyanyian sepi. Semilir angin dari ujung utara mempermainkan ujung-ujung rambutku. Dimana mereka masih tertawa dan akupun tersenyum dibuatnya.

Serasa kembali ke beberapa tahun silam, dimana disaat-saat usia begitu indah mengurai satu kisah, yang tak akan pernah lekang dari dalam jiwa. Kebersamaan memang selalu mengantarkan pada satu catatan kisah kehidupan. Antara suka dan duka selalu mampu dirangkai menjadi satu, untuk kemudian dibalut dalam satu balutan sejarah.

"Hhhmmm ...."
Aku menarik nafas ...
Dalam hati ku berlafadz sebuah do’a, semoga kebersamaan mereka menjadi sebuah tali pengikat akan kebersamaan yang tidak akan pernah lengkang oleh masa hingga kelak di akhirat, dalam menikmati jamuan-jamuan surga-Nya.

Aku menolehkan pandangku kesekeliling tempat ini. Tak ada lagi mereka disini. Mereka yang beberapa tahun silam masih bersama bergembira mengalunkan tembang-tembang kisah kehidupan, diiringi dengan canda dan ceria.

Andaikan mampu kita menawar dan meminta untuk tak pernah berpisah dengan mereka orang-orang terdekat kita, mungkin berkali bahkan beratus kali kita akan selalu dan selalu memohonkannya. Namun itu sepertinya bukan menjadi sebuah jaminan andaikan taqdir telah menjadikannya lain dari harapan. Karena meskipun berawal dari hal yang sama, maka titik akhir darinya tidak akan pernah selalu sama. Seperti halnya perahu-perahu kertas yang tadi berlayar berawal dari titik yang sama, kemudian ketika mereka mengarungi diantara riak sungai itu, pada akhirnya mungkin akan berbeda. Ada yang lebih dulu, ada yang sampai belakangan. Ada yang sampai ditepian, bahkan mungkin ada pula yang tenggelam ditengan perjalanan. Begitulah kiranya kehidupan.

Tidak pernah ada satu penjamin akan kelanggengan sebuah kebersamaan, terkecuali jika kita berada dalam naungan rahmat, ridha dan kasih sayang-Nya. Berada dalam balutan mesra Ia yang penuh dengan keagungan, yang mampu menjadikan segala yang tidak akan pernah mungkin menjadikannya mungkin terjadi.

Dan semua itu tentunya tidak akan pernah bisa digapai, ketika kita tidak pernah memohon dan meminta serta berusaha untuk mendapatkannya.

Adalah mereka yang senantiasa berbagi, adalah mereka yang senantiasa mengingatkan saudara-saudaranya dalam meniti langkah, tentunya menjadi pembuka kesempatan untuk mampu meraih kebersamaan hingga nanti di akhirat kelak, ketika menikmati jamuan-jamuan keindahan serta kemulian ciptaaan Alloh dalam surga-Nya. Hingga kemudian dengan berlandas pada rasa saling mencintai dan menghargai antara satu dengan yang lainnya hanya karena satu alasan semata, hanya karena Ia dzat yang maha satu.

"Laa tadkhulul jannata hatta tu'minuu walaa tu'minuu hattaa tahabbuu ..." (HR Muslim, Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

"Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman dan tidaklah kalian beriman sampai kalian saling mencintai…", begitu indah sebuah sabda ia Muhammad SAW sang penebar risalah Alloh, ketika mengingatkan kita hambanya untuk senantiasa saling mencinta, saling mengerti hingga saling memahami antara satu dengan yang lainnya.

Semoga kita menjadi bagian dari mereka yang senantiasa menebar ukhuwah hingga merajutnya beraneka keragaman menjadi satu dalam ikat kebersamaan, yang nantinya mengantarkan kita pada ia kebersamaan yang hakiki.

Aamiin yaa Robbal'alamiin ...

19 komentar:

  1. Subhanallah.. Indah banget tulisannya... Semoga kita dapat menjaga ukhuwah. Amieen...

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah... akhirnya aku bisa ngereply di site nya k'Dikdik... senangnyaaaa

    bagusss banget tulisannnnya..
    semoga senantiasa silaturahim itu, silaturahim kita bisa terjaga n terjalin dengan indah ... :D

    BalasHapus
  3. ia, bunda,, moga kita bisa saling menjaga tali silaturahim ya bunda,,, hingga bertemu nanti di surgaNya. amin. miss u bun,,,,,,

    BalasHapus
  4. Jadi teringat lagunya Ebiet : kupu-kupu kertas

    BalasHapus
  5. Semoga kita menjadi bagian dari mereka yang senantiasa menebar ukhuwah hingga merajutnya beraneka keragaman menjadi satu dalam ikat kebersamaan, yang nantinya mengantarkan kita pada ia kebersamaan yang hakiki. Aammin Allohumma Aamiin............
    Kang Dikdik hurufnya kekecilan bacanya harus sambil popolotot......... :))

    BalasHapus
  6. Amiin.. Allaahumma Amiin..

    Edit lengkang --> lekang

    sibuk banget ya, dek? kok br muncul? :)

    BalasHapus
  7. ck..ck..ck... suka speechless nih....
    (eh 'speechless' tulisannya betul gak?)
    adem banget sih kalo bikin artikel...

    BalasHapus
  8. akhirnya kang dik2 bisa exist setiap hari..:)

    BalasHapus
  9. subhanalloh kang dik2...tulisannya bagus bgt...

    BalasHapus
  10. yudi, emang skrg dikdik jaga warnet ya kok bs eksis tiap hari?

    BalasHapus
  11. Perahu kertas itu tak berdayuh,
    diayun riak sungai tanpa peluh...
    tapi kita memiliki dayuh,
    yang mengarahkan tujuan,
    yang membelokan gelombang..
    yang menguatkan saat tersapu badai,,
    dayuh itu bernama iman, ukhuwah dan kebersamaan..
    Subhanallah...
    ^_^ salut bwt a dik2 dengan tulisannya yang penuh hikmah...

    BalasHapus
  12. saya jadi terharu baca tulisan adik, sangat menyentuh ketika membacanya.

    BalasHapus
  13. asalam mualaikum
    salam kenal and silatrurrahmi
    setiap berlayar pasti ada tepian demkian juga hidup pasti ada tepinya
    bukankhan hidup seperti perahu yang berlayar menuju kepulauan yang bernama negri akhirat akhirat, tapi sebelum sampai di kepulauan akhirat perahu akan transit dahulu ke seatu pulau yang bernama dunia, maka di dunia ini banyak para penumpang yang turun ikut terpedaya dan terlena akan keindahan dunia yang sebenarnya haya tipuan dan sesuatu yang fatamorgan" dunia itu hanyalah tempat bermain - main dan bersendauguru". wahai sahabat berhati-hatilah dalam berlayar ingat pilihah perahu yang baik dan dapat membawa kita ketempat tujuan yang hakiki yaitu kepulau negri akhirat. ...........

    BalasHapus
  14. Dik, jadi ngiri deh, menyentuh banget seh tulisannya. Jazakallah.

    jadi ingat temen2, seberapa kuat menginginkan kebersamaan, namun harus ada kata kunci 'Kita Harus Siap' dengan perpisahan. karena adakalanya kita tidak selalu sejalan.

    BalasHapus
  15. hmm....aku sebenernya lagi cari perahu kertas na Dee
    tapi malah mampir ke sini, hehe.......

    BalasHapus