Senin, 05 Mei 2008

Ia, dan Ridha-Nya

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Melewati suasana pagi di area pasar tradisional di kota besarpun ternyata tak ubahnya seperti di pasar-pasar tradisional di daerah pada umumnya. Puluhan pedagang tumpah ruah ke hampir seluruh pinggiran jalan di sekitarnya. Mereka berlomba mengais rezeki untuk dapat menyempurnakan ikhtiar dalam menyambung hidupnya.

Puluhan mata lelah masih tetap terjaga setelah jauh-jauh waktu semenjak dari sebelum shubuh tadi mereka sudah berada disana. Puluhan tubuh-tubuh layu masih berdiri bagaikan pagar yang membentuk barisan untuk bersiap menyambut datangnya para pembeli. Bahkan puluhan bibir-bibir kaku yang seharusnya tengah berada diantara hangatnya minuman-minuman pelepas dinginnya suasana, kini ternyata malah berlomba berteriak memanggil datangnya mereka untuk hanya sekedar menjajakkan barang-barang dagangannya.

Apapun itu, rasa lelah dan letih dari mereka telah mengantarkan pada satu jalan hidup. Yang akan menghiasi perjalanan panjang dalam menuju kehidupan yang lebih layak nanti di ahirat sana.

Namun, selalu saja ada yang mengusik keberadaan mereka. Ketika mereka mencoba untuk menikmati semuanya, ada orang yang seakan bertingkah layaknya para penguasa yang memiliki segalanya. Ia datang dan menggeretak para pedagang untuk hanya meminta uang dari mereka. Para preman yang seharusnya memang tak ada hak darinya. Wajah bengisnya seolah tak pernah memahami bagaimana rezeki itu didapat dengan susah payah. Setelah seuntai perjalanan mengiring mereka pada satu cerita berlatarkan dinginnya suasana.

Sayang memang. Ternyata sampai hari inipun masih banyak orang yang belum dan bahkan tidak pernah mau mencoba memahami makna akan perjuangan hidup orang lain.

Namun ada satu hal yang menarik bagiku saat itu. Mereka para pedagang meskipun dengan ketidakikhlasan mereka, akhirnya merekapun memberikan apa yang diminta oleh para preman tersebut. Satu kata yang patut digaris bawahi disini adalah : "ketidakikhlasan".

Aku memutar balik semuanya. Andaikan kita sebagai seorang ummat manusia yang juga kadang berlaku tak jauh dari mereka para preman itu. Meminta pada Ia sang khalik untuk senatiasa memberikan segalanya kebutuhan kita, tanpa meminta ridha Alloh atas segalanya, tentunya tak ada satupun kuasa yang sulit untuk Ia mengabulkan segalanya. Memberikan apapun yang kita minta, memberikan apapun yang kita butuhkan, tanpa sedikitpun memberikan keridhaan atas apa yang dianugerahkannya pada kita. Na'udzubillah ...

Pantaslah ketika para ulama berujar bahwa seorang hamba semestinya mendahulukan memohon ridha Alloh atas segala kebutuhannya. Bukan mendahulukan memohon segala apa kebutuhannya. Apalagi sampai lupa bahkan melupakan untuk meminta diberikan ridha atas segalanya. Karena apapun bentuknya segala apa yang diberikan Alloh pada kita, jika tidak disertai dengan ridha Alloh atasnya, bagaikan satu tubuh yang hidup namun hanya lunglai berdiri tanpa nyawa padanya, tak ada sedikitpun barokah didalamnya.

Ada rasa malu yang menyeruak dalam dada ini. Bagaimana tidak?, bukankah sederet barisan panjang permohonan dan permintaan kita pada Alloh seakan senantiasa menguntai, menghiasi setiap hari dalam kehidupan kita? Bukankah berjuta keinginan dan kebutuhan kita senantiasa kita tuangkan dalam ratusan bahkan ribuan paksaan untuk disegerakan atas pengabulan dari-Nya? Namun sayangnya ternyata terlalu sering kita tergesa dalam memohon segalanya. Memohonkan tanpa satu kata untuk memohon juga ridha atas segala apa yang kita mohon dari-Nya.

Memang Alloh memerintahkan kepada kita untuk senantiasa berdo'a padanya, memohon atas segala kebutuhannya.

"Ud’uuni astajib lakum"
Berdo’alah kepada-Ku niscaya akan Ku perkenankan bagimu.

Namun, pantaskah jika kita meminta dengan tanpa memohonkan pula segala ridha atas kehendaknya? Pantaskah kita memohonkan tanpa disertai meminta ridha atas perkenannya?

Ya Rabb ...
Kiranya kami seharusnya semakin mengerti, mungkin jika sampai saat ini, sampai hari ini, masih banyak pinta kami yang belum Engkau perkenankan bagi kami. Maka mungkin Engkau sedang mempersiapkannya untuk kami agar segalanya disertai dengan keridhaan-Mu. Bukan anugerah yang engkau kabulkan tanpa sedikitpun kasih sayang rasa tulus dalam pemberian-Nya. Sehingga apapun anugerahnya, akan senantiasa menambah keberkahan dalam hidup kami para hamba-Mu ...

Wallahu'alam bish shawab.

15 komentar:

  1. terus.... Ia itu siapa? Ehm...
    kalau "NYA"nya sdh tahu dan PASTI.
    kalau Ia bisa orang, kan?? :)

    BalasHapus
  2. Seperti apa contoh ketika Allah mengabulkan doa qta, tp Alloh tdk ridho?

    BalasHapus
  3. Masya Allah...

    Kesentil niy... Hatur nuhun tos ngemutan ^_^

    BalasHapus
  4. bagaimana cara mendapatkan ridho Allah??

    BalasHapus
  5. Berdoalah dan bersujudlah kepada Allah Subhana hu wa Ta'ala.
    Insya Allah semua akan dimudahkan jalannya.
    memohon ridho dari Illahi Robbi dalam sholat tahajud.

    BalasHapus
  6. subhanallah..artikelnya

    BalasHapus
  7. Makasih dek..
    Nyentuh banget..
    Apalagi bagi mereka yang terjun ngais rejeki di jalan, di pasar atau dimana pun juga..

    BalasHapus
  8. Sungguh Allah maha kaya ........Hanya keridhoanNya yang terus kita pinta....

    BalasHapus
  9. akhirnya muncul lagi..:)
    alhamdulillah..
    kang yudi misi sejenak lagi ya..:D

    BalasHapus
  10. Rasanya, tiap tarikan nafas, detakan jantung, kedipan mata, gerakan anggota badan, penglihatan mata, pendengaran telinga, dan seterusnya (belum lagi yang lain) semua itu adalah bentuk terkabulnya doa. karena Allah mengabulkannya dengan tiga cara, diberi sesuai permintaan, dihalangi dari mara bahaya yang sederajat dengan permintaannya, disimpan sebagai jatah pahala di surga.
    ketika kita meminta uang 50 juta, Mungkin Allah tidak memberi kita dalam bentuk uang, tetapi Dia menghindarkan kita dari bahaya kecelakaan yang kalau itu terjadi harus menghabiskan uang 50 juta sebagai biaya.

    coba kita bayangkan berapa harga sebuah oksigen bantuan dirumah sakit bagi orang yang susah bernafas? sedangkan setiap hari, seumur hidup, kita menghirup udara secara gratis. Maka, bayarlah semua itu dengan syukur dan doa, walaupun sebenarnya ibadah kita tidak akan mampu membayar nikmat Allah yang tiada tara dan tidada terkira.

    dengan demikian kita menyadari bahwa betapa kurang, ibadah, syukur dan doa kita kepada Allah, namun Dia Yang Maha Pemurah dan Pengasih tetap saja memberi kita, bahkan sebelum kita meminta, dan bukan karena kita berhak mendapatkan semua itu, melainkan karena Dia sayang sama kita.

    BalasHapus
  11. subhanalloh,
    jazakalloh khair mas ...

    BalasHapus