Rabu, 07 Mei 2008

Tak Ada Alasan Untuk Mengalah

Bismillaahirramhaanirrahiim,

Udara dingin yang menyergap ditengah pusaran kota intan telah mengantarkan waktu menuju hampir di tengah hari. Suasana riuh kehidupan kini perlahan menyurut di sayyidulayyam itu. Para pedagang yang beberapa waktu lalu masih bergelut dengan sejuta aktifitasnya kini mulai meninggalkan lapak-lapaknya. Jalanan kini mulai terasa lenggang. Hanya beberapa saja orang yang berada disana untuk segera berjalan menuju ke arah masjid raya.

Tak ada lagi kini beda antara pakaian atau penampilan mereka, yang ada hanya satu yaitu seberapa besar tekad dan kuatnya langkah mereka untuk menggapai hidayah di satu titik suci di tengah peradaban kota. Tak ada langkah-langkah gontai mereka, yang ada dari mereka hanyalah berebut sambil hampir berlari menuju satu titik saja. Disana.

Dan aku berada diantara mereka saat itu. Sampai akhirnya kami temui pancuran-pancuran sejuknya air wudhu di salah satu koridor masjid itu. Jauh disebelah sana sandal-sandal berjejer rapi ditepiannya. Wajah-wajah basah yang kini terpampang hampir di seluruh jamaah semakin membuatku tenteram berada diantaranya.

Angin masih berhembus, dan udarapun tak lelah mengelus sejuknya suasana kota. Setelah kutunaikan dua raka'at tahiyatul masjid, segera kurapatkan barisan, bersama dengan mereka disana. Disudut sana sekelompok remaja segera melakukan hal yang sama, menunaikan takbiratul ihram, dan memantapkan pandang mereka untuk hanya menghadap kepada-Nya. Dilain shaf, seorang bapak tua masih tetap khusyuk menunaikan dzikirnya saat itu.

"Alhamdulillah ...", gumamku
Ada satu rasa tenang yang terpancar dalam dada ini, ketika mendapati orang-orang masih setia untuk berlomba meneguhkan hati dan jiwanya, menghadapkan raganya, hanya untuk Ia sang maha pencipta.

Tiba-tiba pandangku seakan berubah. Semilir yang sejak tadi menemani hari, kini seakan berubah menjadi deru panasnya suasana di jazirah sana. Puluhan para sahabat seakan tak berhenti berlomba untuk menunjukkan penghambaan terbaiknya saat itu. Ada yang sibuk dengan sunnah-sunnahnya, ada yang sibuk dengan dzikir-dzikir lembutnya, bahkan diantara mereka ada pula yang sibuk berdiskusi memecahkan permasalahan ummat diantaranya.

Ya Rabb ...
Nikmat sekali berada disana. Masih terbayang risalah ketika ia sang Rasul Alloh menanyakan siapakah di hari itu yang telah berbuat kebajikan. Para sahabat berebut mengacungkan tangannya, pertanda mereka telah melaksanakannya. Masih terbayang ketika ia sang Rasul Alloh menanyakan siapa yang hari itu tengah melaksanakan puasa sunnah. Para sahabat berebut mengacungkan tangannya, pertanda mereka tengah melaksanakannya. Masih terbayang ketika ia sang Rasul Alloh menanyakan siapa yang hari itu telah mendermakan sebagian hartanya untuk ia sedekahkan di jalan Alloh. Para sahabatpun ternyata berebut mengacungkan tangannya, pertanda mereka telah menunaikannya.

Subhanalloh ...

"Fastabiqul khairaat, Fastabiqul khairaat ...."
Berlombalah dalam kebaikan ....

Kini dingin telah kembali menyergap suasana. Menambah dinginnya diri yang seakan harus kembali malu atas segala khilaf selama ini. Telah banyak bahkan tak jarang kita senantiasa membiarkan diri untuk bergelut tanpa menyerah dalam persaingan duniawi, namun untuk kepentingan ukhrawi kita? Astaghfirullahaladzim ...

Kita seakan berhenti ketika ada orang lain yang akan berbuat kebaikan. Berhenti dengan mengucap, "Tafadhol ya akhi ...", mempersilakan orang lain untuk memulai mendulang pahala itu, tanpa kita seharusnya berlomba untuk melakukan hal yang sama atau kebaikan lainnya. Padahal mungkin semestinya, tak ada alasan untuk kita mengalah dalam setiap berlomba berbuat kebaikan itu.

Ya Rabb,
Ampunkan diri ini atas kelalaiannya. Ampunkan hati ini atas kekotorannya. Izinkan diri ini untuk senantiasa dapat mempersembahkan yang terbaik untuk-Mu. Tuntunlah langkah ini agar senantiasa bersama Rahman dan Rahiim-Mu. Kuatkanlah jiwa ini untuk selamanya terjauh dari secuilpun dosa dan maksiat yang dapat menjerumuskan kami kedalam neraka-Mu. Dan sampaikanlah kami untuk senantiasa berada bersama hamba-hamba terbaik-Mu, yang akan memacu semangat untuk beribadah kepada-Mu dan mengantarkan kami hingga nantinya bersama berada di Surga-Mu.

Aamiin yaa Robbal'alamiin ...

24 komentar:

  1. ALLOHUMMAghfirlii...
    JazaakaLLOHU khoiyr 4 d'great b'fast...

    BalasHapus
  2. Seperti biasa...izin copas buat di milist ya, Kang...

    BalasHapus
  3. numpang tanya itu masjid dimana yah ?

    BalasHapus
  4. itu masjid Agung Garut akh ... :)

    BalasHapus
  5. bagus bagus ternyata masjid di daerah, udah pernah ke masjid kubah emas, banyak umatnya nggak ?>

    BalasHapus
  6. setuju...bisa ngga yah?

    BalasHapus
  7. Jazakallahu khairan atas hikmahnya akh...

    BalasHapus

  8. Jazakallahukhairankathira

    BalasHapus
  9. Berlomba-lomba dalam ibadah adalah baik bukan menunjukkan bahwa dalam beribadah tersebut kita yang terbaik tapi yakin Ridho Allah SWT akan datang..

    BalasHapus
  10. The hardest part is how to purify our mind to join "the race" for the sake of Allah instead of other contestants.

    Ayo sama-sama berusahaa :)

    BalasHapus
  11. amin...allahumma amin...

    BalasHapus
  12. daerah intan itu digarut?:D

    BalasHapus
  13. great job....!
    lets pursue for victory..amiinnn...

    BalasHapus
  14. Amiin...semoga allah mempertemukan kita semua di Syurga-Nya..
    ohy, Kk baru pulang kmpung ya?itu,,,foto mesjid garut,,
    seminggu lalu dea juga ke garut..tapi ko ga liat mesjid itu ya..hehe..kelewat sepertinya^.^
    ~deaisha~

    BalasHapus
  15. Amiin...semoga allah mempertemukan kita semua di Syurga-Nya..
    ohy, Kk baru pulang kmpung ya?itu,,,foto mesjid garut,,
    seminggu lalu dea juga ke garut..tapi ko ga liat mesjid itu ya..hehe..kelewat sepertinya^.^
    ~deaisha~

    BalasHapus
  16. subhanallah,, sepertinya sejuk tempatnya ya a,,,

    BalasHapus