Rabu, 18 Juni 2008

Kemanakah Malam-malam Itu Ya Rabb?

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Musik itu berdegup kencang, puluhan sinar dari lampu-lampu mengitar ke sekelilingnya. Tak jelas, apakah itu lagu atau sekedar tabuhan yang bertalu. Namun saya kira bukan itu. Suasananya yang jelas selalu membuat saya merinding jika membayangkannya. Setidaknya meskipun saya belum pernah berada didalamnya, namun penggambarannya di film-film memang seperti itu keadaannya.

Malam memang sudah jauh dari pertengahannya. Dini haripun bukan lagi sekedar cerita kini menjelma. Angin malam yang biasanya membuat kantuk orang-orang, kini malah membuat saya terjaga. Dan ternyata mungkin bukan hanya saya, namun jauh di tempat sana, ketika puluhan, bahkan ratusan, atau ribuan atau mungkin bahkan jutaan anak-anak muda yang dengan mudahnya terhipnotis oleh kemewahan dunia, berpesta dengan berbagai sarana. Disuguhi dengan berbagai kenikmatan semu di ruangan-ruangan yang pada akhirnya selalu menuntun untuk melangkah ke lembah dosanya. Na'udzubillah.

Saya jadi teringat ketika beberapa bulan ke belakang. Ketika pulang malam menjadi sebuah rutinitas ditengah bertumpuknya tugas dan pekerjaan. Salah satu jalan yang dilewati menuju pulang adalah tempat dimana orang-orang melabuhkan segala penatnya dengan berpesta ria disana. Mereka berujar bahwa semua beban dan kepenatan akan hilang dalam sekejap, layaknya pertunjukkan sulap yang diperagakan oleh seorang pesulap kelas dunia.

Bukan mereka para pejalan kaki yang datang ke tempat tersebut, namun mereka yang dengan mobil-mobil mewahnya bertandang ke acara tersebut, serta lengkap dengan parfum-parfum yang menyengat dari tubuhnya.

Padahal mungkin andaikan kita mau sekali lagi mengorek kembali firman Alloh dalam Al-Quran, bukankah Ia ciptakan malam itu untuk kita beristirahat didalamnya, merebahkan diri dan memberikan hak bagi tubuh ini untuk merasakan nikmatnya alam ini, mentafakuri tanda-tanda kebesaran atas segala cipta karya dari Ia sang maha kuasa. Setelah seharian di kesempatan siang Ia perintahkan untuk kita agar bertebaran di muka bumi ini guna menebar kebaikan?.

Namun, ternyata banyak diantara kita yang masih jauh dalam berbuat adil, bahkan untuk dirinya sendiri sekalipun. Apalagi ini malah bukan hanya tidak memenuhi hak tubuhnya untuk beristirahat, namun mengantarkannya pula agar tetap berada hingga terjerumus kedalam dosa dan maksiat.

Sebuah buku masih ada dalam genggaman tangan saya, dimana penulisnya menggambarkan suasana malam-malam ketika dulu di zaman Rasululloh. Dengan peliknya ia menggambarkan suasana tersebut. Bahkan sampai membuat diri ini serasa melayang dan hinggap di masa ketika saat itu Rasul masih berada. Merasakan semilirnya angin padang pasir, mendengarkan lantunan indah para sahabat mengumandangkan dzikir, dan sebagainya.

Malam-malam dimasa itu memang juga tak pernah sepi. Seperti yang satu malam ketika diriwayatkan Rasululloh mencoba untuk berkeliling disana. Hampir disetiap rumah para sahabat tak ada yang sepi. Bahkan hingga sepertiga malamnya, suasana itu makin menjadi. Isak tangis hamba-hamba Alloh dalam hal pengakuan dosa, do'a-do'a mereka yang terpanjat dalam berharap dan meminta kepada Ia Rabb pencipta, semua menghiasi daripadanya. Subhanalloh ...

Wajar saja ketika itu semua membuat Rasululloh menitikkan air mata, bersyukur atas semuanya, hingga semakin menjadikan ia hamba paling bersyukur diantara ummatnya.

Namun, sesaat kemudian malam-malam itu kini seakan hilang dan terbang. Berganti dengan keriuhan suasana musik-musik yang bertalu, atau mungkin degup-degup kencang yang menghentak, yang dibalut dalam keremangan suasana berhias dengan bola-bola lampu daripadanya.

Atau mungkin jikapun tidak demikian, malam-malam itu malah kini berganti dengan sunyi dan senyapnya hari. Dihiasi dengan dengkuran mereka yang seakan telah terlupa akan kehadiran Alloh di sepertiga malamnya untuk mendengarkan segala keluh kesah hamba-Nya. Yang ada hanya suara-suara binatang malam dikejauhan sana yang perlahan semakin jauh dan menghilang untuk kembali kemudian berganti siang.

Jika sudah seperti itu, kita hanya bertanya, "Kemanakah malam-malam itu ya Rabb?"

Wallahu'alam bish-shawab

6 komentar:

  1. hm...setiap malam Allah menunggu..
    menunggu hambaNya datang dalam sujudnya..
    hambaNya yang akan bercerita, memohon...
    padahal, Subhanallah, Allah tak butuh apapun dari diri kita..
    kitalah yang membutuhkanNya..
    ah..betapa malunya diri ini :(
    syukron K..ini mengingatkan dea juga,,,
    bahwa keadilan terhadap hak-hak diri dan hak-hak Allah ini amatlah penting..
    ~deaisha

    BalasHapus
  2. Malam-malam itu tak beranjak, manusialah yang enggan memanfaatkannya.

    BalasHapus
  3. terima kasih...sudah mengingatkan kami....

    BalasHapus
  4. aku pun sering melewatkan malam itu.....:(

    BalasHapus
  5. @_@ ................................ T_T .........

    BalasHapus