Selasa, 03 Juni 2008

Seruan Dakwah di Ribuan Menara Ibu Kota

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Memang mungkin seharusnya hanya ada satu jawaban untuk kita kemukakan, ketika sebuah pertanyaan menggantung dalam benak dan pikiran kita. "Haruskah kita berhenti berharap untuk bisa membentangkan kembali panji-panji Islam di muka bumi ini?". Dan jawaban itu adalah tentunya, "T I D A K".

Kami dibuat tertegun saat itu. Mencoba memutar balik segala ingatan tentang semua ini. Dimana berbagai ujian dan cobaan menghadang perjalanan panjang perjuangan ummat Islam untuk kembali meneriakan takbir tanda kejayaan Islam. Beribu tanda tanya segera seakan menyergap dan membantah di benak kami, "Bukankah telah banyak bukti akan kehancuran ummat ini?" lalu "Bukankah pula sudah terlalu banyak kemerosotan akhlak terjadi disana-sini?".

"Jika memang seperti itu, masihkah ada celah kecil untuk Islam mengorek kembali hingga akhirnya memungkinkan untuk seakan menjadikan terbukanya kembali sebuah pintu untuk menghadirkan kejayaan Islam terlahir kembali?"

Kami menarik nafas panjang saat itu. Lantai ke 52 yang digunakan untuk khusus pelaksanaan sholat jumat di sebuah gedung megah di ibu kota itu tampak semakin hening. Sang khatib masih berdiri di depan para jamaah jumat. Sepi, bahkan layaknya sebuah tempat yang tak berpenghuni kini tempat itu menjelma. Para jamaah dibuat berpikir keras untuk memahami semuanya.

"Saudaraku. ... tentunya masih ada harapan untuk semua itu".
"Bahkan insyaAlloh, akan terus ada dan tak akan pernah hilang, sebelum Alloh mengakhiri segala babak di dunia yang fana ini ...", lanjut sang khatib menyisir kembali isi khutbahnya.

"Pernahkah kita membayangkan sepuluh tahun yang lalu, atau mungkin dua puluh tahun yang lalu, bahwa saat ini, detik ini, berpuluh, beratus, bahkan beribu jamaah akan membentangkan sajadah-sajadah panjangnya untuk menghadap Ia sang Rabb pencipta. Atau mungkin berpuluh, beratus, bahkan beribu jamaah akan dengan setia penuh penghambaan menengadahkan tangannya untuk meminta segala harap dan memanjatkan selaksa do'a di lebih dari ratusan menara yang kini hadir di ibu kota ini, seruan-seruan adzan hadir bukan hanya dari menara-menara mesjid namun juga dari menara-menara gedung perkantoran kita?".

"Bangkitlah saudaraku ...!"
"Percayalah Alloh masih bersama kita, janganlah cepat berputus asa".
"Bukankah dibalik setiap kesulitan maka akan selalu hadir kemudahan daripadanya?"

Khutbah jumat siang itu seakan menyadarkan kami kembali akan makna kepercayaan diri ummat ini. Bukan untuk menyerah begitu saja, namun yang jelas, yang terpenting adalah seberapa jauh dan seberapa besar usaha serta upaya kita dalam berperan serta menegakkan kembali kalimah thayyibah di bumi ini.

Saya jadi teringat dengan cerita ibu-ibu guru di madrasah dulu, yang menceritakan begitu sulitnya dulu mereka untuk mendapatkan sebuah izin saja ketika ingin mengenakan sebuah kain kecil penutup kepala sebagai tanda akan bukti penghambaan mereka sebagai kaum hawa. Dan lihatlah kini, bukankah kini tdak hanya sekedar kain kecil, andaikan mereka menginginkan sebuah jilbab panjang nan lebar untuk melekat menutup rapi rambut-nya hingga ke sebagian tubuhnya, maka itu menjadikannya bukanlah sesuatu yang mustahil kini?. Tak ada lagi larangan daripadanya.

Atau mungkin cerita kakek-kakek dulu ketika terpaksa harus berangkat ke mesjid dengan diiringi puluhan corong pistol yang siap mengantarkan peluru-pelurunya bakan sewaktu - waktu bisa saja menembus hingga kesela-sela otak. Dan kini semua itu telah hilang bahkan lenyap. Berganti dengan gemuruhnya suara-suara adzan ketika waktu-waktu sholat tiba. Beganti dengan berkibar-kibarnya jilbab-jilbab lebar dari saudari-saudari kita. Bahkan berganti dengan semaraknya seruan-seruan dakwah dari pelbagai penjuru menara kota.

Tentunya semua ini akan sangat kecil sekali terpikir ketika sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu. Namun, alhamdulillah ternyata disini Alloh menunjukkan kuasa-Nya. Tak ada yang tak mungkin bagi Ia perkenankan. Tak ada yang sulit bagi Ia pertunjukkan.

InsyaAlloh selama kita berusaha untuk semakin dekat dengan-Nya, maka Ia-pun akan senatiasa semakin dekat bersama menuntun dan membimbing kita. Menapaki hari-hari menuju ridha dan rahmat-Nya.

Bangkitlah, karena harapan itu masih ada ...

Wallahu'alam bish-shawab.

7 komentar:

  1. Ya, tantangan tiap zaman mungkin berbeda. Dulu ada represi fisik dan mental, sekarang budaya ikut-ikutan atau bahkan rasa malu disebut kolot.

    BalasHapus
  2. Yup! S E M A N G A A A T . . . . !!! ^_^

    BalasHapus
  3. Yap, selama hayat dikandung badan, pantang putus asa dikumandangkan...:) Mari berdoa dan berusaha untuk masa depan umat yang lebih baik, Amiiin...:)

    BalasHapus
  4. Seandainyapun tidak ada harapan lagi, kita tetap diperintah untuk berdakwah dan dilarang berputus asa. Kita harus tetap berjalan, karena di jalan itulah Allah menguji siapa yang benar dan yang tidak. Apa lagi jika harapan itu masih terbuka lebar. Hanya mereka yang kerdil saja yang akan menyerah dan berhenti berjuang, sehingga ia tidak akan sampai ke pintu Tuhannya.

    BalasHapus
  5. Akang, menara setinggi 52 lantai di jakarta hanya Menara Mulia
    and then... semoga kita tergolong orang-orang yang mulia, sesuai nama menara itu

    BalasHapus
  6. ngomong2 soal menara di Jakarta aku jadi inget menara doa Jakarta yang dibangun oleh 3 pengusaha nasrani konon dari menara inilah syiar Kristen dikibarkan!!!hmm sebaiknya gimana nih tindakan kita??

    BalasHapus