Senin, 01 September 2008

Andaikan Setiap Saat adalah Awal Bulan Ramadhan

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Pagi memang masih begitu sepi. Diiringi suasana mentari yang kali ini begitu sendu memancarkan sinarnya. Perlahan hembusan angin membelai mesra wajah-wajah kami yang lengang dan gontai berjalan di awal Ramadhan tahun ini.

Beberapa senyuman tengah mendarat berkali-kali diantara tegur dan sapa kami saat itu. Entahlah, pagi ini terasa begitu indah aku rasakan. Keramahan setiap orang yang aku jumpai terasa menghapus kesan kebengisan wajah ibu kota selama ini.

Menapaki satu babak baru dalam rangkaian panjang kehidupan ummat Islam telah mengantarkan kami untuk merasakan sejuknya nuansa, yang biasanya hanya berhias dengan panas dan terik serta bergulat bersama ketidaknyamanan suasana hingga tak sedikitpun menggoreskan rona persahabatan diantaranya.

Aku tersenyum bangga. Seorang bapak begitu alimnya duduk dipojok sana, ketika aku memasuki sebuah bis kota yang akan menuju ke tempat kerja. Sebuah mushaf Al Quran ada di tangannya. Mulutnya berkomat-kamit sambil sesekali membuka dan menutup kembali mushaf-nya. "Alhamdulillah, mungkin ia sedang mengulang hafalan Quran-nya", gumamku.

"Ah, andaikan setiap saat adalah awal bulan Ramadhan ...", lanjutku dalam hati.

Sesaat kemudian seorang pemuda berusia tak kurang dari seperempat abad menghampiri kami para penumpang disana. Begitu tulusnya ia mengulumkan senyumnya ke setiap penumpang, menagih satu persatu ongkos perjalanan kami. Tidak ada paksaan, tidak ada kekerasan. Semetara itu pak sopir yang kini duduk di singgasana kerajaannya-pun tak sedikitpun bertingkah seperti biasanya, berteriak dan membentak para penumpang yang sedikit lama jika hendak turun atau sulit jika disuruh masuk ke bagian dalam bis kota. Kepulan asap rokok yang sering kali membuat kami terbatukpun, kini tak ada lagi dilihat. Lagi-lagi aku harus berujar, "Andaikan setiap saat adalah awal bulan Ramadhan ..."

Masih hangat dalam ingatan, ketika tadi malam aku menginjakkan kaki di teras masjid di sebelah kost-kostanku. Masjid yang biasanya sepi jamaah, ternyata malam itu begitu sumpek, dipenuhi para jamaah yang sepertinya berlomba untuk menikmati nikmatnya jamuan Alloh di bulan nan agung ini. Subhanalloh ...

Hujan memang turun cukup lebat sesaat sebelum kami melaksanakan rangkaian shalat sunnat Tarawih malam tadi. Tapi ternyata itu tidak menyurutkan niat dan langkah mereka untuk menunaikan ibadah di malam ini. Alhamdulillah, andaikan setiap saat adalah awal bulan Ramadhan ...

Usai shalat tarawih langit masih begitu hitam, meski kini disebelah sana mulai muncul bintang-bintang berkerlip menyambut mengiring malam-malam indah hingga nanti di penghujung Ramadhan. Iring-iringan para jamaah yang selesai melaksanakan shalat tarawih, berbalut baju koko ataupun gamis-gamis berserta jilbab-jilbab lebar semakin membuat nyaman aku saat itu. Indah memang ...

Hingga hampir tengah malam, dikejauhan sana masih sayup terdengar alunan bacaan Al Quran, dari para jamaah yang melaksanakan tadarus secara berjamaah. Perlahan aku menitikkan air mata ini.

"Yaa Rabb ...
Andaikan kau jadikan ini sebagai permulaan tanpa pengakhiran masa, hingga tak ada beda antara saat-saat ketika kami menghadapkan jiwa-jiwa ini sesaat tadi dengan saat-saat berikutnya ...
Andaikan kau jadikan ini sebagai satu tali suci yang akan semakin mengokohkan perjalanan hidup kami untuk senantiasa berjalan di jalan-Mu, hingga tak ada lagi dosa dan maksiat yang akan merusak indahnya taman-taman kehidupan ini ...
Yaa Rabb ...
Andaikan setiap saat semakin indah seperti saat ini ...
Seperti indahnya saat-saat ketika engkau hadirkan masa di awal-awal bulan Ramadhan ...
Yaa Rabb ...
Andaikan ..."

Wallahu'alam bish-shawab

18 komentar:

  1. semoga saja, Kang Dikdik.
    amin.. indah, ya..

    BalasHapus
  2. indahnya islam ... amien ya Robb Allahumma amien

    BalasHapus
  3. Berharap sepanjang Ramadhan seperti awal bulan Ramadhan juga cukup sulit yah. Insya Allah, semoga Ramadhan ini kita bisa istiqamah menuai kebaikan dari awal hingga akhir. Hingga berbuah dikesudahannya.

    BalasHapus
  4. Airmataku juga menitik membaca tulisanmu ini, Kang Dikdik. Pagi ini memang lengang, dan berbeda sekali dari hari-hari yang lalu.
    Indahnya Ramadhan....

    BalasHapus
  5. Kang Dikdik, aku ijin copas tulisannya untuk di milis DT ya... jazakallah...

    BalasHapus
  6. Terima kasih banyak, Kang Dikdik...

    BalasHapus
  7. akh andaikan ya Dik.....
    'kemesraaan ini tak kan pernah berlalu'........ duuh bahagianya....... met puasa. happy ramadhan........

    BalasHapus
  8. semoga saja tetap indah hingga akhir masa, aamiim...
    met menunaikan ibadah puasa....

    BalasHapus
  9. S'moga Keindahannya Selau bersama kita hingga akhir Hayat.
    Insya Allah.
    Met Menjlnkan Ibadah Puasa ya,,
    Salam Ukhuwah.

    BalasHapus
  10. ohh how i wish.... Ramadhan lah yg terbaik... di antara bulan2.. Subhanallah!

    BalasHapus
  11. assalamualaikum kang dik2
    saya andra, masih inget kang?
    maap ya kang kalau pergi tapi belum pamit ^_^
    insyaAllah kita masih bisa komunikasi lewat dunia maya

    BalasHapus
  12. wa'alaikumsalam wr wb,
    sip, insyaAlloh andra, makasih ya ...
    Sukses :)

    BalasHapus
  13. ada kok kang..
    liat aja di alhikmah mampang..:)

    BalasHapus
  14. Ramadhan memang indah.Saya yang non muslim juga ikut merasakan keindahannya.

    BalasHapus
  15. Ayo kita hidupkan semangat bulan ramadhan di bulan-bulan selanjutnya.. :) :) :)

    BalasHapus
  16. Ramadhan bentar lagi meninggalkan kita ...sedih rasanya ditinggalkan oleh bulan penuh dengan kemuliaan ini. Mentari Syawal segera hadir....semoga kita bisa bertakbir di hari kemenangan Amin.

    BalasHapus