Senin, 25 Agustus 2008

Investasi Tiada Tara

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Tertegun saya saat itu, ketika mengingat kembali perjalanan panjang kehidupan kami sampai saat ini. Adalah ia, seorang wanita perkasa yang telah Alloh pertunjukkan pada saya untuk tak lengkang berucap syukur akan kehadirannya. Menemani langkah kami, membimbing jiwa-jiwa kami, hingga melepasnya ke belantara kehidupan seperti saat ini.

"Tidak menikah lagi?", tanya seorang teman saya ketika saya menceritakan ibu setelah ditinggal bapak meninggal lebih dari 21 tahun yang lalu.

"Yap", jawabku mantap.
"Ia seorang yang setia", lanjutku.

Bapak memang meninggal saat itu dan meninggalkan ibu serta kami anak-anaknya ketika masih berada di masa-masa ketika kami sangat membutuhkannya kehadirannya, merangkai masa-masa indah bersama. Namun, ternyata disinilah Alloh pertunjukkan jalan lain untuk meraih berjuta hikmah.

"Ibumu tidak menikah lagi, kenapa? Bukankah waktu itu beliau masih muda? Dan bukannya dengan menikah lagi kalian akan terawat dengan baik dalam kehadiran seorang ayah?", tanya teman saya seolah masih menyimpan rasa penasarannya.

Aku hanya tersenyum dan hanya menggeleng.

Ibuku hanya menjawab bahwa lebih baik mengurus anak-anaknya sendiri, daripada menikah lagi dengan orang yang belum jelas akan mampu membahagiakan anak-anaknya seperti ia membahagiakan kami. Ia selalu mengatakan bahwa anak-anaknya adalah lebih dari hanya sekedar investasi tiada tara, yang kelak dikemudian hari insyaAlloh bisa menghadirkan bahagia lebih dari kebahagiaan dunia saja, jika kita bisa membawa mereka kedalam agama dan mendekatkan mereka kepada Alloh.

Selalu air mata saya menetes ketika mengingat kata-kata ibu itu. Subhanalloh, sebuah keyakinan akan keberadaan Ia sang maha kuasa yang terlalu kokoh melebihi kokohnya panji-panji serta tembok-tembok pertahanan perang para ksatria di medan laga.

Aku bersyukur memiliki ia yang begitu tulus dengan kasih dan sayangnya telah mampu membimbing kami anak-anaknya, ia yang begitu sabar telah mampu menopang kerasnya terpaan dunia.

"Tapi bagaimana mungkin? Bukannya ibumu tidak bekerja? Bagaimana bisa untuk menghidupi keluarga sekian lama?"

Untuk pertanyaan yang ini saya jadi teringat cerita tentang seorang ibu yang juga mengalami hal yang sama seperti ibu saya. Ditinggal meninggal oleh suami dalam kondisi keluarga yang jauh dari berkecukupan. Namun ternyata, ketika beliau ditanya tentang pertanyaan yang hampir sama, coba kita dengar apa jawaban ia sang ibu itu? Ibu itu berkata,

"Suami saya hanya pemakan rezeki, bukan pemberi rezeki. Jika ia ditaqdirkan Alloh untuk menjadi jalan rezeki bagi kami hingga hari kemarin, maka saya yakin, jalan rezeki Alloh masih banyak terbentang luas dari berbagai penjuru keMaha-annya", ujarnya.

Teman saya tersenyum puas mendengarnya sambil menepuk pundak saya.
Saya membalasnya.

Ya Rabb,
Andaikan hingga hari ini hamba belum bisa membuat sebuah senyuman tersungging dibibirnya, bibir ibu hamba, yang setiap kalimatnya adalah do'a yang terpanjat dalam setiap detiknya.
Andaikan hingga hari ini hamba belum mampu menyeka keringat didahinya, dahi ibu hamba yang setiap malamnya ia jadikan alas dalam sujud-sujud panjangnya, memohon kebaikan bagi kami anak-anaknya.
Maka,
Izinkan kini kami memohon seraya meminta,
Perkenankanlah kami ya Rabb,
Perkenankan kami untuk bisa membuatnya bahagia,
Perkenankan kami yaa Rabb

Untuk ia sang wanita perkasa ...

Aamiin yaa robbal'alamiin

13 komentar:

  1. sebagai ibubapa..keutamaan yang diberi adalah anak-anak kerena mereka adalah amanah ALLAH kepada mereka...jadi sebagai anak-anak harus bersyukur dan buatlah mereka gembira dengan mengikut apa yang mereka mahu dan tingglkanlah yang mereka tidak suka..begitulah seterusnya..

    BalasHapus
  2. Rabbana Taqobbal Du'anaa...

    Jazakallah dikdik... remind me about my mom, ..

    BalasHapus
  3. Subhanallah. Teriring salam dan do'a untuk ibu yaaa.

    BalasHapus
  4. subhanallah. keberkahan semoga terlimpah untuk ibu tercinta yaa.

    tapi... satu hal... mendengar bbrp fenomena dari teman, kadang2 masalah menikah lagi bagi perempuan (atau mungkin laki2) bukan sekadar soal rezeki saja, tp lebih kepada pemenuhan kebutuhan batin. ada bbrp perempuan yg butuh tempat berbicara atau hal semacam itu, yg tdk bisa ia lakukan kpd orang lain. kl kebutuhan ibu terpenuhi, mudah2an dia lebih prima mengurus anak2nya. tapi ya... memang para ibu seringkali nggak memikirkan dirinya sendiri bahkan menepis kebutuhan dirinya sendiri. hanya coba memandang dari sisi yg berbeda aj sih hehe. tfs yaa

    BalasHapus
  5. Dan semoga Allah..memberikan kesenangan dan ketenangan pada diri Ibu, seperti yang seringkali beliau berikan dengan hati yang tulus pada anak-anaknya, serta balasan surga pada setiap kegigihan menjaga benteng keimanan keluarga
    Amiin
    Amiin

    BalasHapus
  6. sekian lama akhrnya nulis lagi..:D

    BalasHapus
  7. Jazakallah.... sudah berbagi cerita yang sangat indah,
    Semoga Allah selalu melimpahkan berkahnya untuk Ibu tercinta

    BalasHapus
  8. ibu,,,
    prasasti hidup yang senantiasa akan selalu terpatri,,,
    di dalam hati,,,,,

    BalasHapus
  9. jazakallah ingatannya...
    semoga ibu selalu dalam keridhoan dan bimbinganNya

    BalasHapus
  10. Subhanallah.. sebuah pengingatann yang luar biasa. ^_^

    BalasHapus