Senin, 13 Oktober 2008

Berjuang Untuk Mengalah?

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Dia hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya ketika aku melemparkan sebuah pertanyaan kepadanya, "Berjuang untuk mengalah?", saat itu.

Pagi hari di salah satu jalan menuju pusat kota Jakarta seakan terasa hening. Lalu lalang kendaraan yang biasanya menyemut disana-sini kini seakan hilang dan diam. Matahari pagi yang mulai menggeliat menampakkan warnanya dibalik kepulan awan kini semakin membimbing hari untuk meninggalkan pagi.

"Ini memang kondisinya yang sepert ini akh, dimana saya harus bisa memposisikan diri seperti ketika saat-saat sebelumnya. Saat ini mau tidak mau posisi saya memang menjadi satu-satunya yang berjuang untuk bisa menafkahi keluarga di sana", ujarnya saat itu.

Dia, seorang teman yang telah lebih dari 5 tahun saya kenali itu kini menghirup nafas panjang. Mungkin ada sesak dalam nafasnya. Namun seketika justru sebuah senyum ketulusan yang aku temui daripadanya.

Sekitar enam bulan yang lalu kondisi bapaknya sudah tidak memungkinkan lagi untuk bekerja lebih banyak. Saudara-saudara yang lainnyapun demikian tak beda. Predikat pendidikan yang lagi-lagi menjadikan mereka tidak mampu berbuat banyak selain bekerja serabutan disana.

Akhirnya, tentu seperti ungkapan dia tadi, dia yang harus menjadi tulang punggung bagi keluarganya.

Tadinya aku kira ketika kutanyakan kepadanya apakah kondisi itu sama halnya seperti dia yang berjuang hanya untuk mengalah, karena justru banyak keinginan dan cita-citanya yang terbengkalai untuk hal itu, dia akan menyambut dengan anggukan pasti. Tapi ternyata tidak.

"Berjuang untuk bisa menjadi jalan bahagia bagi keluarga, bukan berarti bahwa itu berjuang untuk mengalah, namun justru berjuang untuk menjadikan diri merasa lebih tenang dan merasakan hal yang lebih dari hanya sekedar bahagia."

"Coba bayangkan, ketika kita melihat raut-raut bahagia dari mereka, atau ketika kita merasakan rona-rona suka cita dari wajah mereka. Tentunya seakan hilang segala kekecewaan yang pernah terbayangkan", lanjutnya.

Ternyata memang betul, bukankah ketika kita mengejar begitu banyak cita-cita, maka terminal akhir dari segalanya adalah membuat mereka orang-orang yang kita sayangi merasakan bahagia? Untuk itu, ketika memang kebahagiaan itu lebih awal datang untuk mereka dengan harus mengesampingkan kebahagiaan bagi diri kita sendiri, itu hanya satu masalah kecil saja tentang waktu.

Semua akan berjalan pada saat yang tepat, dengan pilihan Alloh yang terbaik bagi kita.

Aku tersenyum, hari ini bertambah lagi kesyukuranku sobat.
Terimakasih untuk segalanya.

Alhamdulillaahirabbil'alamiin

8 komentar:

  1. mengalah,,, bukan berarti kalah kan,,,?
    syukron.

    BalasHapus
  2. subahanallah....tulisan ini menambah semangat....jazakallah

    BalasHapus
  3. TFS :-)
    bisa jd bahan renungan....

    BalasHapus
  4. mengalah untuk bersinar ya,,:D

    T_T danke,,postinganna,,

    BalasHapus
  5. Subhanallah...berjuang untuk selalu bermanfaat buat orang-orang tercinta. Adakah yg lebih berharga daripada itu?

    BalasHapus
  6. Wah indahnya bila melihat karib kerabat bahagia...
    Dengan Ikhlas...

    Memang suatu perjuangan dek...

    BalasHapus
  7. jadi inget satu kalimat di novel yang pernah aku baca.....
    "sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain"

    BalasHapus