Senin, 22 Desember 2008

Diantara Barisan Nisan

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Sepi! Ketika embun-embun pagi masih menggelayut di antara ujung-ujung rerumputan yang kini kian rindang diantara berbarisnya batu nisan di pemakaman itu. Ketika pagi masih menyergap dingin yang semakin membekukan langkah kaki.

Hanya kerlingan mata yang mampu menyapu sekeliling hamparan lahan tandus yang kini mulai basah diterpa musim hujan di masa penghujung tahun ini.

Aku masih berdiri.

Bukan arena wisata yang aku harapkan, bukan pula kesendirian di puncak gunung Semeru yang aku impikan untuk sekedar mengisi waktu di penghujung dasawarsa pertama di abad ini. Seperti yang mereka semua rencanakan. Namun, cukup dengan sebuah kemampuan untuk melangkah lebih bijak, itupun aku kira sudah lebih dari cukup dari semuanya.

Untuk itu, pagi ini aku langkahkan kaki menuju sebuah tempat dimana orang-orang mulai melupakan mereka yang sebelumnya pernah mereka cintai. Sebuah tempat dimana orang-orang mulai membiarkan mereka yang sebelumnya pernah mereka sayangi kini terbujur kaku dan sendiri. Disana. Pemakaman yang akan menjadi terminal menuju babak baru yang telah lama semestinya kita ketahui.

Matahari pagi yang kini mulai menggeliat lemah dibalik awan di ufuk sana, ataukah hembusan angin yang kembali dingin, yang mengelus perlahan wajah ini ternyata tak mampu membuyarkan ingatan ini atas semua yang telah terjadi. Andaikah tak pernah ada langkah di esok pagi, mungkin semua akan bersisa dengan penyesalan atas segalanya. Dan aku merasakannya.

Bermuhasabah, membayangkan seandainya aku berada diantara mereka yang kini telah berada menunggu di alam sana. Aku menghentikan langkahku.

Sebuah makam yang terlalu kusam untuk dikatakan sebagai sebuah tempat peristirahatan kini membisu di ujung sana. Sebuah ukiran nama yang telah semakin samar tertulis dibalik tingginya ilalang yang menutupinya. Tak ada seikat bunga, tak ada sebuah bintang jasa. Hanya ada sebuah tanya, apakah bahagia dia yang mengisinya disana? ataukah justru siksa yang tengah dia derita? Wallahu'alam ...

Aku tertegun ...

Kerikil kecil mulai menghadang didepan sana.

Ingin rasanya aku berlari, melupakan segalanya dan menjauh darinya. Dari semua yang akan membawaku ke satu poros waktu menuju satu dimensi baru kehidupan barzah-nya. Kapanpun itu.

Namun dilain waktu, ingin rasanya aku justru berlari dan meraih semuanya lebih cepat dari seharusnya. Memasuki dimensi baru itu yang mungkin akan membawa diri ini terlepas dari semua keangkuhan dan ketidakadilan dunia.

Setiap jiwa memang akan merasakannya. Merasakan satu hal yang mereka sebut sebagai kematian itu. Setidaknya memang begitulah berkali Alloh mengatakannya dalam firman-Nya. Dan akupun menyadari sepenuhnya.

Namun yang selalu menjadi pertanyaan bagiku adalah, mengapa meskipun aku tahu akan semua itu tapi tak jarang aku seakan melupakannya dan tak sedikitpun mengindahkannya.

Tak jarang aku justru melalaikannya dan membiarkan semuanya bagaikan air yang mengalir tak berujung dan tak berarah.

Aku masih berdiri. Diantara batu nisan yang berbaris rapi dan diantara ilalang yang semakin meninggi menutupi lahan tandus yang kini mulai basah oleh hujan tadi malam.

Perlahan aku menundukkan pandangku. Haruskah kubenamkan wajahku dalam rasa untuk berkata, "Betapa rapuhnya aku?". Semoga saja tidak.

Dan andaikan esok mentari pagi akan menari lagi, dan awan putih mengaraknya kembali menuntun langkah ini untuk kembali tertatih dan berlari. Kini aku harapkan untuk mampu berdiri dan berlari, bukan lagi menuju keremangan jiwa, namun menuju cahaya-Nya yang akan semakin menerangi jiwa. Melangkah dalam rahmat dan ridha-Nya.

Aku mengharapmu yaa Rabb ...
Untuk hidup yang lebih baik. InsyaAlloh ...

(Menuju Tahun yang ke 1430 Hijriah dan yang ke 2009 Masehi)

13 komentar:

  1. Insya ALLAH kita bisa mendapatkan hidup yg lebih baik ditahun berikutnya
    amin

    BalasHapus
  2. Ya Allah Biha...Ya Allah Biha.... Ya Allah Biha Khusnul khotimah

    BalasHapus
  3. bagus banget renungan nya..menghujam ke akar kesadaran......

    BalasHapus
  4. akan tiba hari ku jua........
    Kau peliharalah daku Ya Allah dari segala tipu daya duniaa..... Aminnnn...

    BalasHapus
  5. selamat tahun baru hijriah ya kang..

    BalasHapus
  6. Smg cahaya Allah sll menuntun kita semua....
    trimakasih atas renungannya,,,,

    BalasHapus
  7. sedih kang dikdik.. btw kumaha udah bisa ke mp ya di kantor? kalo ke milis??
    *partnermuh di kabinet sk.. sudah lama tidak bersua

    BalasHapus
  8. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang senantiasa bermuhasabah akan amal-amalnya, dan berusaha agar bekal kebaikannya selalu bertambah menyambut kematian yang pasti terjadi. Semoga hari esok lebih baik dari hari ini, sehingga kita menjadi orang-orang yang beruntung. Amin. Selamat tahun baru hijriah......

    BalasHapus
  9. syukron untuk artikel pengingatnya...

    BalasHapus
  10. Good post. Ngomong2 artikel ini juga udah dimuat di eramuslim.com kan?

    BalasHapus
  11. semoga pengakhiran hidup kita dalam husnul khotimah
    amin ya rabbal alamin....

    BalasHapus