Rabu, 18 Februari 2009

Selalu Saja Begitu Indah

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Selalu saja begitu indah. Kiranya tidak berlebihan aku mengungkapkannya atas apa yang aku rasakan setiap kali berada pada satu situasi seperti pada siang hari itu.

Ba'da dzuhur di Al I'thisam, ketika seorang saudara kita, kini satu lagi bertambah, setelah mengucap dua kalimah syahadat. Mengakui akan keesaan Alloh dan keberadaan Muhammad sebagai Rasul pembawa risalah kebenaran dari-Nya. Kami menjadi saksi atas semuanya. Ada tetes keharuan yang menyeruak dalam jiwa, ada embun kesejukan yang terpancar dari dalam sanubari. Ketika satu demi satu kata terucap atas dia yang kini telah menjadi bagian dari ummat sebuah ajaran yang sempurna.

Mataku kini telah tertuju hanya pada satu bagian. Satu bagian yang selalu aku banggakan ketika menyaksikan seseorang memasuki gerbang baru dalam kehidupannya. Dimana, tak ada yang sulit untuk melaluinya ketika seseorang memang berniat untuk berhijrah menuju ajaran dari-Nya. Hanya dua rangkaian kata-kata, itu telah cukup menjadikannya sebagai seorang muslim.

Pikirku melayang ke dua atau tiga tahun yang silam. Ketika saat itu hampir setiap ahad aku menyempatkan diri untuk mengikuti pengajian di sebuah masjid di kawasan Daarut Tauhiid Bandung. Dan ketika di akhir acara ataupun selepas waktu Dzuhur juga, selalu saja kita diajak untuk menyaksikan kejadian seperti ini.

Jujur, secara tidak langsung ketika kita dihadapkan pada situasi ini telah banyak sekali menyadarkan kita bahwa ternyata masih banyak orang-orang yang dengan semangat tingginya untuk bisa memeluk agama Alloh ini. Dan ini tentunya akan menggiring kita juga yang hanya secara hitungan waktu saja mungkin telah lebih lama mengenal Islam untuk kemudian lebih semakin bersemangat lagi dalam memperbaiki diri dan keimanan yang ada.

Mereka yang memeluk agama Alloh itu lagi-lagi mengungkapkan bahwa kemantapan hati mereka untuk memasuki gerbang baru Islam itu tak pernah ada paksaan pada mereka, tak pernah ada iming-iming atas mereka, bahkan jauh daripada ada kekerasan yang mengharuskan mereka untuk memeluknya.

Sejarah telah mencatat, bahwa memang tak pernah ada cerita seseorang yang masuk kedalam Islam karena atas dasar semua itu. Namun justru semua berasal pada sikap santun, keshalihan dan pencitraan keindahan Islam yang telah ditampilkan oleh ummatnya yang telah mengantarkan hidayah kini bersemai pada jiwa-jiwa mereka, terpatri hingga mengantarkannya pada kenikmatan bukan hanya atas dunia saja namun pula insyaAlloh hingga di akhirat kelak.

Membuka kembali lembaran shirah, menyemai kembali ingatan atas seorang Suraqah bin Malik yang telah dengan lantangnya akan membunuh Rasul demi mendapat imbalan 100 ekor unt yang dijanjikan Abu Lahab, padahal saat itu Rasul hendak berhijrah ke Madinah, namun ternyata ketika dia telah bertemu dengan Rasulullah, dan dalam beberapa kesempatan Rasul justru tampil selalu saja untuk menolong dia ketika kuda yang ditunggangi Suraqah terperosok dan terperosok lagi. Dan ternyata semua itu telah menjadi satu amunisi hebat bagi Rasul dalam menyebarkan ajaran Alloh. Keshalihan akhlak telah melebur amarah menjadi cinta. Perlakuan Rasul sedikitpun tak ada yang membuatnya untuk dijadikan alasan atas niat jahatnya itu, malah kemudian justru telah menjadikan ia tersadar dan kembali pada kelompoknya untuk berseru bahwa tak ada seorangpun yang akan ia biarkan untuk bisa membunuh Rasul, kecuali telah berhadapan dulu dengannya. Ia memeluk Islam dan menjadi bagian dari para sahabat Rasul.

Subhanalloh, begitu tampak kepribadian seorang Rasul  dengan keshalihan akhlak dan keluhuran perilakunya telah mampu merubah apa yang ada dalam niat jahat menjadi sebuah kehalusan budi dan kejernihan pikiran bagi siapa saja yang menghadapinya.

Yaa Rabb, semoga kamipun sebagai ummatnya bisa menirunya, meniru beliau sang tauladan ummat.

Matahari masih menebar sinar, menghias cakrawala yang seakan turut pula menyaksikan atas semuanya yang terjadi di masjid siang itu.

Usai membacakan dua kalimah syahadat, kami satu persatu mendekat dan menyalaminya. Ketika tangan ini berjabat, mungkin hanya senyuman yang tersungging di bibir, namun jauh didalam jiwa kini telah terpancang tali yang telah terbentang menghapus jarak atas kami daripadanya.Sungguh, selalu saja ini begitu indah.

Melihat keberadaan hidayah dalam kehidupan bukanlah sesuatu yang sulit, namun untuk menyadari dan mampu menerima keberadaan hidayah tersebut dalam hati seseorang itulah yang sebetulnya sepertinya sulit sekali diraih. Berapa banyak orang berpendidikan yang notabene seharusnya mampu berpikir dalam memilah apa yang seharusnya ia yakini dalam hal keagamaannya, namun ternyata mereka justru tak mau untuk melakukannya. Hingga akhirnya mereka lebih betah bertahan dalam kesesatan yang seakan membawa mereka pada kebahagiaan, namun sebetulnya hanya mengantakan mereka pada kesengsaraan yang nyata.

Aku kini melangkahkan kaki, menuruni satu demi satu anak tangga masjid. Dalam lirih hati berdo'a, semoga Alloh memberikan kemampuan atas diri-diri kami unuk bisa menampilkan keindahan Islam dalam kehidupan ini, keindahan Islam yang sebenarnya, keindahan yang akan mengumpulkan kami hingga nanti bersama di hari pembalasan dan mengumpulkan kami dalam surga-surga-Nya. Dan semoga pula Alloh memberikan kemampuan atas saudara-saudara kami lainnya yang kini masih begitu kukuh dalam kesesatannya hingga mereka mampu untuk bepikir dan menerima sesuatu yang hak sebagai kebenaran dan menyadari akan semua yang bathil sebagai kesesatan yang harus segera mereka tinggalkan.

Aku memohon pada-Mu, yaa Rabb ...
Aamiin yaa Robbal'alamiin ...

10 komentar:

  1. subhanallah...mg tiap hari akan makim bertmbah banyak..

    BalasHapus
  2. Jadi malu dengan mereka yang baru masuk agama ini..
    Begitu sucinya mereka, sehingga Allah SWT kuatkan hati2 mereka dengan barisan keimanan kita..
    Hanya sayang kadang kita tidak merasakannya, tautan tangan untuk mencapai keridloan Nya dengan juluran tangan kita..
    Ikut bahagia dek...

    BalasHapus