Rabu, 11 Maret 2009

Ini Bukan Satu Sama!

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Melepas lelah di pinggir jalanan ibu kota disaat segala lelah dan penat telah menggunung tinggi telah membuatku semakin tergoda. Menyaksikan merayapnya malam semakin hitam atau menunggu pagi yang semakin lama-semakin mengantar hingar bingar jalanan untuk berubah diam.

Beberapa hari terakhir, mencoba berjibaku untuk sebuah cita-cita dengan menerima beberapa tawaran untuk bekerja part time di beberapa tempat telah cukup membuatku kewalahan dalam mengatur waktu. Membuatku kini hampir selalu bersahabat dengan larutnya malam setiap harinya. Kalaulah tidak ingat bahwa untuk sukses itu perlu perjuangan, mungkin lebih baik aku tertidur lelap saja di kamar kost-ku, berselimut kain sarung dan merasakan indahnya malam.

Aku mendekat ke arah seorang bapak, bergabung bersama beliau untuk menikmati malam yang telah berselimut hitam ini. Duduk beralas lantai trotoar dan beratapkan keangkuhan langit Jakarta.

Kulitnya yang tua masih terlihat diantara remangnya lampu jalanan. Berbalut dengan baju lusuh yang kini semakin menambah uzur penampilannya. Tarikan-tarikan nafas panjang satu persatu berlalu dari dirinya, menguap dan terlepas, namun tak pernah bisa membawa serta seluruh beban dan berjuta masalah yang dihadapinya untuk pergi dan berlalu. Setidaknya itu yang aku temui dari air mukanya saat itu.

"Asalkan bapak jangan lupa bahwa Alloh masih ada dan akan selalu ada bagi setiap hamba yang mendambanya", ujarku ketika beliau mengeluhkan segala derita serta beban hidup yang dihadapinya.

"Kadang, saya juga bingung, padahal saya sudah berusaha untuk tidak pernah jauh dari Alloh, berusaha untuk selalu mensyukuri nikmat-Nya, namun mengapa segala masalah hidup ini selalu saja datang silih berganti", jawabnya kemudian.

Aku menggeserkan letak dudukku, bersandar pada tiang lampu jalanan yang cahayanya kini mulai pudar dimakan usia.

Serasa aku ditampar oleh kenyataan, begitu sering padahal akupun merasa demikian, merasa diri telah melakukan segalanya untuk beribadah kepada-Nya, padahal tak terasa ternyata tak jarang pula semakin aku melakukan semua amal itu, akupun menabung dosa dengan berbagai prasangka ataupun bersikap riya'. Na'udzubillah ...

Astaghfirullah ...
Ampuni aku yaa Rabb ...

Aku mengerti bahwa andaikan ini adalah sebuah permainan, maka tak ada istilah satu sama. Ketika kita melakukan satu kebaikan yang berbuah pahala dan berharap itu akan menjadi satu penebus bagi satu dosa kita. Karena apabila semakin kita berpikir demikian, tak akan pernah berhenti kita dibuatnya untuk kemudian berbuat dosa dan berbuat dosa lagi di kemudiannya.

Tak ada jaminan atas semua kebaikan yang telah kita lakukan itu betul-betul diterima menjadi satu amal shalih dihadapan Alloh. Karena bukanlah tidak mungkin ketika kita melakukannya sejuta rasa telah menjelma menjadi penggugur atas pahalanya. Namun sebaliknya, ketika kita berbuat dosa, maka bukanlah sebuah keniscayaan semua itu telah pasti menjerumuskan kita pada sebuah tabungan dosa berjangka yang akan menghancurkan kita dalam rentang waktu yang tak dapat kita kira.

Bukankah ketika satu demi satu dosa kita perbuat dan ketika menganggapnya seakan remeh dalam pandangan kita, namun ternyata hari demi hari semua itu akan menjadi begitu nampak besar dihadapan Alloh? Kalaulah demikian kiranya mengapa masih saja kita dibuatnya seakan terbiasa?

Aku menundukkan pandangku.
Kini aku seakan berada dihadapan sebuah meja persidangan, menunggu satu ketukan palu yang akan membawaku kedalam kejelasan surga-kah atau neraka-kah? Tak ada lagi alasan bagiku untuk mengelak dari semuanya.

Yaa Rabb ...
Ampuni aku ...

Semakin tersadar, semakin rasanya aku malu dibuatnya. Malu atas ketidakberdayaan ini.

Kini malam telah semakin larut. Jauh dari dalam hati, aku bersyukur bahwa Alloh telah mempertemukanku dengan bapak ini. Andaikan penyesalan ini datang tatkala tak ada lagi kesempatan diberikan oleh Alloh pada diri ini, mungkin jadilah aku seorang yang teramat sangat merugi. Namun ternyata Alloh masih sayang, membiarkanku untuk mampu membaca hati dan pikiran dan mentafakuri semuanya.

Aku melangkah mengayunkan kaki ini, berlalu dari satu putaran waktu untuk berharap pada sebuah episode baru atas keteguhan iman dan keshalihan akhlak yang kini menggelayut dalam angan.

Aku mendamba-Mu yaa Rabb ...

12 komentar:

  1. Allah Swt tidak akan lengah mengurus hamba-hambaNya

    BalasHapus
  2. Ya Allah, Hindarkanlah kami dari syirik kecil penghancur semua amal kami..
    Riya, tak terasa selalu menjadi penghalang kita di setiap langkah ya dek...

    Alhamdulillah di setiap langkah kita ada yang selalu mengingatkannya baik kauniyah maupun aqliyah..Semoga kita selalu di jalan Nya..

    BalasHapus
  3. terima kasih sudah berbagi cerita penuh hikmah ini ya dik. sungguh, banyak hal yang bisa kupalajari dari sini. "akupun harus terus berbenah", gumamku berulang-ulang...

    BalasHapus
  4. aku suka mampir di sini
    ...
    mengingatkan
    selalu
    -------------------------
    terima kasih

    BalasHapus
  5. Makasih sudah mengingatkan Bunda ya Dik..
    Jazakallah khoir..

    BalasHapus
  6. lama nian dikau g nulis gini lagi kang :)

    BalasHapus
  7. ini adalah komen pertama aku, senang kenal dengan blog & yang punya blog ini. maksud yang bisa aku ambil dari artikel "Ini Bukan Satu Sama" adalah suatu ibadah itu harus dilakukan dengan ikhlas.

    BalasHapus
  8. ini adalah komen pertama aku, senang kenal dengan blog & yang punya blog ini. maksud yang bisa aku ambil dari artikel "Ini Bukan Satu Sama" adalah suatu ibadah itu harus dilakukan dengan ikhlas.

    BalasHapus