Jumat, 03 April 2009

Di Lapis Tanah Ketiga Puluh Satu ...

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Kini Jakarta-pun memutih. Dari balik sebuah dinding berlapis kaca di lapis tanah ke tiga puluh satu ini aku masih berdiri menyaksikan hari yang perlahan semakin sepi. Ibu kota tak beda seakan manusia yang tak lagi bernyawa. Kabut, menyergap waktu seperti tak mau lengkang, mengikat erat dan tak terlepas sepanjang langkah di hari ini.

Entah untuk keberapa kalinya aku memasuki sebuah ruang sempit disudut ini, ruang sempit yang meski tak lebih dari 3 x 3 meter itu, namun mampu membuatku merasakan kebebasan atas penghambaan kepada-Nya. Walau hanya untuk mampu berdiri, mengangkat takbir, rukuk dan sujud hanya dengan dua orang lain saja disebelahku.

Ya, disini mengharapkan untuk mampu merasakan indahnya dakwah serta leluasanya gerak ukhuwah memang tak seperti ditempat-tempat sebelumnya ketika aku bekerja. Namun aku mensyukurinya. Semoga Alloh memudahkan atas segalanya.

Rekan-rekan kerja disini tak sedikit yang bukan hanya berlainan ras, berlainan suku, berlainan bangsa, namun juga berlainan dalam pegangan aqidah.

Terkadang jika diri ini sedang merasakan rapuh yang teramat sangat, ingin aku rasanya menyerah dan kalah, berlari bahkan tak sedikitpun untuk menolehkan kembali atas langkah-langkah yang telah terlewat ketika satu kondisi telah semakin memaksaku untuk tak bisa lagi mengepakkan sayap kebebasan dalam menguak indahnya Islam dari orang-orang yang biasanya selalu mendampingku, bersama berada disekelilingku serta selalu menyadarkan dalam khilaf-khilafku.

Namun kini?
Aku bagai berjalan sendiri di padang tandus lagi sunyi.

Aku hanya mampu menarik nafas ini, dan berusaha mengingat kembali, hingga akhirnya menyadari bahwa memang ketika sekali lagi aku telusuri akan berjuta hikmah yang aku dapati, alhamdulillah, aku justru berharap dari sinilah akan terlahir puluhan, ratusan bahkan ribuan pahala dalam mengemban risalah dakwah ini, untuk menyebarkan indahnya Islam pada mereka.

Delapan bulan berlalu untuk duduk bersama, setiap hari dalam satu lingkungan yang selalu disibukkan oleh kepentingan duniawi memang tak jarang membuat aku merasa jemu. Membayangkan sahabat-sahabat diluaran sana yang bebas dalam mengungkap berjuta kajian atas keislaman untuk diterapkan dalam nyatanya kehidupan, hanya membuatku merasa lelah untuk berharap akan mampu merasakan hal yang sama.

Namun hari ini, ketika semua itu kini sedikit demi sedikit berlalu, aku justru merasakan perlahan masa-masa sulit itupun membawa kedalam nyala terang sebuah harapan.

Memang ketika dalam beberapa kesempatan aku berdiskusi dengan rekan-rekan kerja yang lain, baik disela pekerjaan ataukah disela waktu makan siang, ketika dalam beberapa kesempatan aku coba untuk membahas satu ataupun dua masalah ringan yang berisi indahnya Islam. Dan ternyata tidak disangka, mereka kini mulai menampakan perhatiannya. Bertanya tentang beberapa hal yang ada dan berkaitan dengan keislaman, ataupun meski sekedar meminta klarifikasi atas bagaimana sebetulnya sebuah hal terjadi dalam pandangan Islam.

Aku bersyukur pada-Mu yaa Rabb,

Kini kabut itupun perlahan mulai bergulung dan pergi. Berganti dengan ceria yang dihiasi oleh sinar matahari di ufuk senja. Bentangan pantai dan kumpulan pulai seribu di ujung sana seakan melambai dan berucap selamat datang atas indahnya pilihan jalan ini. Aku menghamba-Mu yaa Rabb ...

Semoga engkau memudahkan langkah ini, dalam menebar indahnya satu ajaran dari-Mu, satu ajaran yang telah dibawa oleh seorang Rasul terakhir-Mu, satu ajaran yang kini membuatku semakin yakin atas kemaha Agungan-Mu.

Wallahu'alam bis-shawab.

19 komentar:

  1. ketika diri membuka kepada lingkungan, maka alam akan menarik lingkungan kepada kita :)

    BalasHapus
  2. Amiin ya Robb... :) tetap semangat ya adekku...

    BalasHapus
  3. Subhanalloh...muhasabah yg indah :((

    BalasHapus
  4. yaah, beginilah realita dunia kerja. amat berbeda dengan waktu kuliah dulu. sekarang, apapun bisa membuat kita terkontaminasi.

    * this writing so rings my bell on about that past memory... :-(

    BalasHapus
  5. setuju, tinggal pandai-pandai kita jaga diri ...

    BalasHapus
  6. Assalamu'alaikum kang...

    gimana kabarnya,
    lama g silaturrahim niy
    semoga senantiasa dalam lindungan dan keberkahanNya

    BalasHapus
  7. wa'alaikumsalam wr wb,

    alhamdulillah,
    gimana juga kabarnya kang?
    salam untuk keluarga semua ... :)

    BalasHapus
  8. gak tau has atau emang gak bisa gaya yang lain pak :)

    BalasHapus
  9. alhamdulillah...sehat juga
    insya Allah nanti kalo sudah di rumah disampekan
    ^_^

    BalasHapus
  10. tapi susah ya, kang dik2. ngga kebayang kalo aku kerja di pusat ibukota sepertimu... di pinggiran saja aku sudah kena abrasi... :-(

    BalasHapus
  11. ya. justru dengan kondisi lingkungan seperti itulah, engkau akan semakin matang dan terasah, kang dikdik...
    aku juga mengalami hal yang sama.. menjaga kebeningan hati dan berdzikir di tengah hiruk pikuk sungguh memerlukan perjuangan yang gigih dan totalitas pada Allah melebihi yang lain-lainnya...kadang kala aku juga merasa lelah dan rasa ingin menyerah timbul dengan sendirinya... namun, bila kita senantiasa berpegang pada-Nya, ibarat kita berpegang pada buhul tali yang sangat kuat... dan justru di saat-saat itulah aku merasa dekat sekali dengan Allah... ^_^

    dan dari sanalah kita melihat cahaya itu senantiasa berpendar.. menyebarkan cahaya Islam ke tengah-tengah orang yang beragam latar belakang, suku, agama, ras... ^_^

    BalasHapus
  12. Ardhullaahi waa'siun fatuhaajiru dstnya :-p

    hijrah di sini tak hanya maknawi kan, tapi juga proses mentransformasi banyak orang, ke dalam Islam yg damai, rahmatan lil 'alamiin...

    Dan dirimu sudah ada di track yg bener. Tetep semangat ya adinda :-)

    Jangan lupa, sampe ketemuan di radio ya :-D
    Penjelasan lengkap ada di sini:

    BalasHapus
  13. nakhtalitun walaakin natamayyazun..

    BalasHapus