Jumat, 24 April 2009

Terlalu Sulit untuk Kita Sendiri

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Hampir lepas tengah malam ketika aku menginjakkan kaki diantara satu persatu anak tangga menuju kamar kost-ku malam itu. Penat semakin menggelayut di kelopak mata ini. Sebuah lampu gantung yang menyalapun, kini seakan terasa lebih redup dari biasanya. Putih sinarnya mulai memudar. Entah memang karena telah cukup dimakan usia ataukah mataku yang kini sudah semakin larut dalam lelah.

Kaki ini masih melangkah melewati satu persatu pintu kamar di sebuah koridor berdiameter satu meter itu. Sampai ketika akhirnya sebuah lubang kunci pintu tepat di sebelah kamarku berbunyi. Aku menunggunya.

Senyum kami bertemu saat itu, "Gimana kabarnya akh?", sapaku berbasa-basi disaat itu.
Ia kembali tersenyum, "Alhamdulillah, o ya, insyaAlloh akhir bulan ini ane pindah kost-nya akh".

Perbincangan kami tak terasa berlanjut saat itu. Ironis memang jika aku katakan keberadaan kami hanya terpisah satu lapis dinding saja, namun komunikasi kami hanya ada ketika waktu-waktu tertentu atau pada saat kebetulan bertemu semata. Kesibukkan dengan masing-masing dari aktifitas kami yang menjadi salah satu alasan tentunya.

Beberapa bulan yang lalu, ketika kami masih sama-sama berstatus sebagai penghuni kost baru disana, kami pernah berbincang, membahas akan keinginan kami berdua untuk mencoba mendapatkan pekerjaan tambahan untuk mengisi waktu luang di akhir pekan. Sampai akhirnya alhamdulillah keinginan itu tercapai, tapi justru ternyata itu yang menjadi salah satu pemisah silaturahim kami saat ini. Ia sibuk dengan pekerjaan tambahan sebagai seorang penulis buku-buku dari aplikasi yang sedang dibangun oleh perusahaannya. Sedang aku sendiri ada beberapa amanah di luaran yang kadang juga selalu membuatku keteteran dalam menjalaninya.

Saling mengingatkan?
Kiranya memang demikian yang biasanya ada ketika kebersamaan tercipta. Kami sampai berjam-jam menghabiskan waktu untuk membahas sebuah buku, membincangkan bagaimana penulis buku tersebut dengan pandainya menggambarkan situasi disana hingga membuat kami merasa ingin juga untuk berada di tempat tersebut, atau hanya membayangkan seandainya kehidupan kami di tempat ini, di tempat yang kini menempatkan kami jauh dari keluarga serta orang-orang yang memperhatikan kami saat ini, kami jadikan sebagai sebuah buku juga.

Ahh, lucunya kalo sudah sejauh itu perbincangan kami, mengalirlah jauh inspirasi-inspirasi dari ingatan ini, inpirasi yang kini semakin tak jelas alur dan ceritanya.

Tapi satu yang jelas ketika suasana itu tercipta, yang aku sendiri sayangkan jika memang berakhir adalah biasanya sulitnya diri memulai kembali dalam menjalani hari demi hari. Ketika kita telah terbiasa berada dalam kenyamanan saling mengingatkan, saling berbagi ilmu, maka semua itu akan terasa hilang.

Tak bisa dipungkiri memang akan terlalu sulit untuk kita sendiri, fitrahnya manusia untuk bersama akan terus menagih pada diri kita. Meskipun semua kebutuhan berusaha kita mampu untuk memenuhinya, namun pastinya selalu saja ada hal-hal yang tak bisa dan tak akan pernah bisa kita dapati dari diri kita. Salah satunya karena hal itu biasanya hanya bisa terwujud bila ada komunikasi antara kita dengan seseorang di luar diri kita.

Memang benar ternyata ketika Alloh berfirman untuk menguatkan diri kita untuk senantiasa berbuat baik terhadap sesama di Surat An Nisaa ayat ke 36, "Dan berbuat baiklah kepada ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga yang jauh". Ternyata ini yang menjadi salah satu kunci akan keberlangsungan hidup kita. Untuk senantiasa menjalin hubungan baik dengan mereka, siapapun itu.

Malam sudah semakin larut, kini satu persatu lampu gedung-gedung yang berada di sekitar tempat kost kami mulai sembunyi di balik gelapnya malam. Kami kembali tersenyum mengakhiri perbincangan ini seraya berdo'a, semoga dimanapun kita berada, maka naungan dan lindungan sera rahmat Alloh senantiasa berada bersama kita semua.

Aamiin yaa robbal'alamiin ...

8 komentar:

  1. memang selalu ada konsekuensi dibalik pilihan Dik...
    sangat dimengerti bila pilihan itu kedang terasa dilematis. tak apa, ada waktunya memang kita melalui masa-masa itu, sampai akhirnya kita akan menemukan, pilihan mana yang paling nyaman dan aman kita jalani... persahabatan dan silaturahmi adalah fitrah... mungkin bisa disempatkan ngobril di malam minggu?

    BalasHapus
  2. yap betul mbak,
    mudah-mudahan bisa :)

    BalasHapus
  3. Akang kost ya, udah makan belum?
    jangan lupa makan kang
    (hihihi..ini bagian dari mengingatkan lho)

    BalasHapus
  4. Assalamualaikum..
    lama tidak menjengah...
    apa khabar??? :-)

    BalasHapus
  5. wa'alaikumsalam wr wb,
    alhamdulillah baik, smoga juga kebaikan buat mbak sekeluarga disana :)

    BalasHapus