Selasa, 07 Juli 2009

Bolehkan, Meski Hanya Bermimpi?

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

"Siapa bilang anak muda tak berhak bermimpi?"

Akkhhh ...
Sepertinya pikiran itu mungkin memang yang tadi malam sempat berkecamuk, sebelumnya berperang dalam nalar dunia khayalku. Bertanding dengan rasa nyeri di kepala yang semakin menjadi. Demam yang datang di masa yang mungkin menurut pikirku tidaklah begitu tepat, telah memaksa diriku untuk harus bisa menunaikan beberapa utang kerjaan yang harus segera diselesaikan.

Sebuah laptop malam itu hingga akhirnya harus pamit mundur teratur ketika aku tak disengaja telah lebih dulu meninggalkannya menuju satu ruang dunia baru, dunia mimpi di malam itu.

Aku masih membolak balik beberapa brosur yang diberikan oleh atasanku beberapa waktu yang lalu. Brosur mengenai deretan panjang nama-nama perumahan berbagai type yang saat ini memang sedang begitu maraknya dipasarkan di pinggiran ibu kota. Sesaat kemudian segera aku tuliskan nama-nama tersebut di google, aku lalui satu persatu halaman yang diberikan berdasarkan link yang diberikan sang google, namun lagi-lagi sepertinya hasilnya tidak terlalu akurat.

Aku mengulangnya nama lain sebagai keyword pencarian disana.

Disebelah kanan layar monitor, beberapa brosur penawaran Kredit Pemilikan Rumah dari beberapa Bank serta beberapa lembaga keuangan yang sebelumnya aku dapatkan di sebuah pameran ekonomi syariah juga masih berserakkan disana. Satu persatu aku bandingkan, kini antara angka bunga flat, Down Payment terendah, cicilan yang gak lebih dari 30% penghasilan, menjadi parameter-parameter yang bergelayut didalam hitung-hitungan.

Beberapa halaman situs telah mengarahkan jemari ini untuk berdecak dan berkhayal lalu berkhayal lagi, namun kemudian seperti biasa hanya senyuman kecil dan helaan nafas serta gerutu kecil, "ah ... terlalu gila harganya", ujarku.

Tak lelah, kini bukan hanya google yang aku buka, bing.com, yahoo search, amazon.com hingga ke wikipedia aku layari. Tapi tetap hasilnya sama dan tak begitu banyak beda. Ada harganya cocok, tapi gambarnya selalu "Not Available", ada yang gambarnya "Available", namun seperti tadi, harganya, hehehe ...

Hingga akhirnya, sebuah rumah di kawasan kota hujan dengan type unik modern minimalis, ukuran 30/72 dengan fasilitas sebuah ruang tersedian dihalaman untuk sebuah mobil dan sebuah taman dipinggirnya telah membuatku untuk berandai memilikinya.

Segera aku melacak keberadaan rumah itu, setelah menghubungi developer perumahan tersebut serta menanyakan beberapa fasilitas lain yang ada, juga kualitas dari produk perumahan yang mereka bangun tentunya, akhirnya insyaAlloh sebuah tekad ada di hati.

Semua terasa begitu cepat, pengurusan KPR segala macam-pun tak begitu terlalu rumit, padahal aku masih ingat beberapa waktu lalu ketika mengurusi sebuah rekening pada sebuah bank saja aku dibuatnya begitu bertele-tele. Tapi ternyata ini begitu mudah, begitu indah (halah ....)

Waktu yang dinantipun segera tiba, aku kini berada di depan sebuah halaman rumah mungil ber cat putih, ada beberapa bunga ditamannya. Wah sekali lagi aku dibuatnya berdecak kagum ...

Aku segera membuka pintu depan rumah tersebut, memutar dengan kunci yang sebelumnya telah diberikan oleh petugas.

Happ ....
Sergapan sejuk dari udara Air Conditioner segera menyelimuti diri ketika memasuki satu persatu ruangan didalamnya, aku menikmatinya.

Tapi, tunggu dulu. Sebuah ketukan pintu segera mendarat di pintu depan rumahku yang baru saja aku kunci segera tadi. Suara seorang wanita berjilbab putih memanggil-manggil dari luar.

Dan tahukah kata apa yang terdengar di daun telingaku?

"Abi .... buka pintunya"

Abi? Bukannya aku belum menikah? Bukannya sesaat sebelumnya aku sempat bersyukur telah memiliki rumah padahal belum menikah? atau, Apa wanita itu salah mengetuk pintu rumah?

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar didalam otakku.
Aku masih termangu, melongo, dan kebingungan entah apa yang harus dilakukan.
Semakin lama ketukan itu semakin keras dan terus semakin keras.

Aku tersentak kaget! Aku membuka mata dan terperanjat menatap jendela yang sudah begitu terang, dan mendengar ibu kost yang memanggil-manggil dari luar.

"Astaghfirullah, jam berapa ini?"

Ternyata jam digital di handphone telah menunjukkan pukul 08.16, itu berarti tinggal 14 menit lagi jam masuk di kantorku. Dan yang lebih menyakitkan ternyata semua yang tadi hanya mimpi, sebuah rumah di kawasan sejuk berpanorama pegunungan, ber-type modern minimalis, semua lenyap sudah.

Kini yang jelas, aku harus segera mandi dan berlari menuju kantor yang memang hanya sekitar 500 meter dari kamar kost-ku, serta mengantri dihadapan lift yang akan mengantarku naik ke lantai tiga puluh satu di gedung itu.

Ya Alloh ...
Semoga mimpi tadi tak hanya mimpi, namun satu waktu bisa menjadi sebuah hal yang pasti. Berbalut dengan berkah-Mu serta ridha-Mu.

Aamiin yaa Robbal'alamiin ...

(Tulisan ini bukan sekedar mimpi, tapi juga do'a serta yang jelas ditulis untuk mengikuti PropertyKita.com Blogging Competition ‘09, yang kebetulan agak nyambung dengan temanya, mohon do'anya ya ...)

12 komentar:

  1. Eh, keren lo Dik tulisannya :-)
    Suka banget bacanya. Paling edit sedikit2 aja lagi :-D

    BalasHapus
  2. Didoakan Dik :-)

    Aku juga pingin punya rumah niy, huhuhu...
    Eh, hadiahnya rumah kah? Kalo iya, aku mau ikutaaaaaaaaaaan! :-D

    BalasHapus
  3. makasih mbak ima,
    coba kalo jurinya mbak ima ya ... :)

    BalasHapus
  4. aamiin ...
    sok atuh biar nanti saya silaturahim kesana :)

    BalasHapus
  5. amiini..
    tulisannya juga bagus, bikin penasaran :)

    BalasHapus
  6. makasih mbak,
    nah loh penasaran apanya mbak? :)

    BalasHapus
  7. wah dikdik...yang ingin didapat rumahnya? apa juga wanita berjilbab putih yang mengetuk dan memanggil abi itu? hihihi....

    BalasHapus
  8. hmm, tentu boleh. bahkan HARUS! :)

    BalasHapus