Senin, 01 Februari 2010

Siapapun Bisa!

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Ketika segala apa yang tersirat menjadi do'a, serta ketika segala apa yang terucap  menjadi harap ...
Maka, ucap syukur akan menjadi satu bekal menuju sempurnanya nikmat.

Menemukan wajah-wajah yang hampir sama di tiap pagi, menyemai riak-riak rona diantara mereka, kini menjadi satu kebiasaan baru bagiku. Ketika sebuah bis yang melaju menuju pusat kota ini menjadi saksi atas kehadiran azzam dan niat yang ada dalam setiap diri kami.

Aku berada, menjadi satu diantara sekian banyak orang itu. Ketika pandang ini mulai membuka lelap, maka tak habis pikir, suatu hal yang menjadikan begitu wajar mendapati mata-mata terlelap, bukan hanya ditemui dari mereka yang duduk nyaman di kursi, tapi pula hal itu aku temui dari orang-orang yang hanya dengan sesongsong lengannya mengait di sebuah tiang memanjang bagian bus itu.

Menemukan pemandangan seperti ini memang akan menjadi sebuah hal yang seakan terbiasa untuk kita, dan tentunya hal ini akan bisa anda temui dari jika anda berada diantara para pekerja yang berasal dari pinggiran kota menuju pusat metropolitan di tiap pagi hari. Mungkin sejak pagi buta, ataukah usai shubuh mereka telah berdiri menunggu hadirnya bis yang akan membawa dirinya menuju satu sisi hidup yang baru, demi mengejar harap dan menyempurnakan ikhtiar dalam menjalani hidup ini.

Aku melemparkan senyum ketika bapak tua itu mempersilakan diriku untuk menuju ke bagian dalam bis. Kulitnya sudah mulai keriput, meski masih terlihat jelas sisa-sisa kegagahan tubuhnya di sosok tubuh itu. Matanya mulai agak menohok kedalam, glambir kulit dibawah kelopak matanya jelas terlihat menghias bagai renda yang terurai di ujung kain pesta.

Bis tiba-tiba berhenti, ketika kami terjebak dalam barisan panjang antrian kemacetan di pagi ini. Semua diam. Yang ada hanyalah tarikan nafas-nafas panjang yang seakan tak rela menyembur diantara hembusan sesak disaat itu.

Gerutuan kecil mulai terdengar ketika setengah jam berlalu, bis belum juga bisa menembus diantara sesaknya suasana jalanan tol ibu kota.

Matahari saat itu semakin menampakkan cahayanya. Hawa panas segera menyergap diri-diri ini, mengalahkan air conditioner yang tak lagi berjaya menghembuskan dinginnya suasana seperti beberapa saat sebelumnya.

Aku masih terpaku, ketika tiba-tiba bapak tua yang ada didepanku berteriak lantang menyuruh pak sopir untuk segera menuju ke arah kiri badan jalan. sesaat kemudian Sejenak pak sopir mendongakkan wajahnya. Mungkin ia heran dibuatnya. Bukan beliau bapak tua itu seharusnya yang memberikan aba-aba, kernet yang seharusnya berada diposisi itu membimbing arah jalan di sebelah kiri yang tak sepenuhnya jelas terlihat oleh sang sopir. Tapi ternyata memang sang kernet tak bisa bertindak banyak disaat penuh sesak seperti itu. Hingga posisi yang lebih memungkinkan untuk membimbing sang sopir justru ada di pak tua itu.

Aku tertegun dibuatnya ...

Subhanalloh, satu pengingat bagiku, ternyata untuk menunjukkan sebuah kebaikan kepada orang lain, tidak mesti menjadi seorang yang bertitel alim seperti halnya seorang ustadz misalnya. Siapapun bisa bebuat itu, seperti halnya bapak tua tadi yang padahal sebetulnya tak ada sedikitpun tugas bagi dirinya melakukan itu, tapi ternyata ia bisa.

Juga tentunya inipun pengingat bagi kita pula, ketika berada di posisi sang sopir, ternyata tak melulu mesti hanya memercayai titah hanya dari satu orang saja yang kita anggap lebih dalam hal keilmuannya dari kita, untuk kita laksanakan perintahnya. Namun, siapapun dia, jika memang apa yang disampaikannya memang bisa menunjukkan jalan kita menuju arah yang lebih baik, ternyata bisa.

Bukankah betul kiranya :
Undzur ma qola, wa laa tandzur man qola.

"Lihatlah apa yang dibicarakan, jangan melihat siapa yang bicara,"

Perlahan bis mulai berjalan kembali, meski masih terseok dipinggiran bahu jalan, namun kini sedikit demi sedikit mulai menapaki laju kembali meninggalkan ramainya kemacetan di satu sisi ibu kota.

Satu perintah, satu pula pengingat bagi diriku yang mungkin semakin hari kadang lupa  ini semakin menyelimuti diri. Perintah untuk tetap bisa menjadi bagian penunjuk kebaikan dan juga untuk tidak malu ketika menerima petunjuk kebaikan dari orang lain.

Alhamdulillaahirobbil'alamiin ...

6 komentar:

  1. Subhanallah...
    Andai semua seperti bapak tua itu yang dimanapun selalu refleks untuk memberikan yang dibutuhkan untuk lingkungannya

    BalasHapus
  2. Orang baik itu selalu menginspirasi orang lain ya :)

    OOT:

    Dik, kangen kamu :-)

    BalasHapus
  3. saya jg berharap bisa jadi orang baik mbak :)

    btw, mbak ima masih di jakarta?

    BalasHapus
  4. Aku baru kembali dari Bandung-Yogya-Jakarta-Bandung-Jakarta, insyaAllah tanggal 4 Feb ini ke Yogya lagi.

    Hihihihi, lagi mobile banget niy Dik :-D
    Kita kudu janjian biar bisa ketemuan ya :-)

    BalasHapus
  5. Subhanallah, Setujuuu...:).
    Ini realitas keseharian bahwa lebih banyak orang yg melihat siapa yang bicara, bukan ttg apa yg dibicarakan..

    BalasHapus