Selasa, 18 Desember 2012

Lindungi Mata Air Kita, Penuhi Kecukupan Minum Juga!

Lari kecilnya segera kembali bersama segelas air putih di tangan mungilnya. Meski kini beberapa tumpahan air dari gelas tersebut membasahi lantai putih itu, namun dengan segera aku hampiri tangan mungilnya. "Terima kasih, sayang", sambil kupeluk dia, putri kecil kami yang selalu saja segera berlari untuk mengambilkan air minum untuk ayahnya ketika mengetahui aku membuka pintu selepas bekerja seharian di luar sana. Meskipun mungkin belum begitu memahami apa yang dilakukannya, tapi setidaknya dia tahu bahwa setelah beraktivitas di luar, kita butuh untuk minum.

Pembiasaan memang menjadi satu hal yang utama bagi kami dalam mendidik anak. Begitupun juga pembiasaan terhadap kebutuhan yang satu ini, minum. Karena kami sadari, hingga dewasa pun, tidak sedikit dari kita yang melupakan satu hal ini, mungkin ini karena dari sejak kecil kita tidak membiasakannya, akhirnya kita lupa dan yang ditakutkan adalah kebutuhan tubuh kita akan pasokan air tidak tercukupi.

Air dan Tubuh Kita

70% tentunya bukan menjadi sebuah persentase angka yang sedikit yang menunjukkan begitu pentingnya keberadaan air di dalam tubuh kita. Ya, pantas saja para pakar kesehatan terus-menerus mengingatkan kita agar membiasakan pola hidup sehat dengan mencukupi kebutuhan air minum untuk tubuh. Karena ternyata jika saja tubuh kita kekurangan cairan, dimana salah satunya yang berasal dari air yang kita minum setiap harinya, maka bukan hanya keseimbangan tubuh yang menjadi taruhannya, namun jutaan penyakit juga sudah siap sedia menghampiri kita.
Komposisi Cairan Dalam Tubuh

Keberadaan air dalam tubuh kita memang ternyata bukan hanya sangat berkaitan erat terhadap sistem kekebalan tubuh, namun disamping itu air juga ternyata banyak kegunaannya, diantaranya berfungsi untuk transportasi nutriens dan zat buangan, bisa menjadi media reaksi kimia, sebagai pelarut elektrolit dan zat terlarut lainnya, serta yang tidak kalah pentingnya, air juga membantu mempertahankan suhu tubuh kita.

Namun sayang, ketika disatu sisi kita begitu membutuhkannya air tersebut untuk mencukupi tubuh ini, ternyata keberadaan air bersih yang layak untuk dikonsumsi kini semakin sedikit pula ketersediaannya. Apalagi semakin hari semakin banyak saja para pebisnis memanfaatkan sumber mata air sebagai satu komoditi bisnis yang menggiurkan tapi dengan melupakan langkah untuk bagaimana melestarikan keberadaannya di masa depan.

Apa yang terjadi dengan air kita?

Ketimpangan antara kebutuhan akan air minum sehat dengan ketersediaannya di alam bebas memang menjadi satu hal yang kita hadapi saat ini. Angka pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat ternyata juga tidak sebanding dengan upaya kita dalam melestarikan lingkungan. Itu sebabnya, ketika semakin banyak eksploitasi pemanfaatan dilakukan terhadap mata air yang kita miliki, cepat atau lambat kita harus bersiap jika satu waktu kita akan mengalami krisis air bersih dan sehat ini.

Bila kita sadari, tanda-tanda ini sebenarnya sudah mulai terjadi. Setiap kali musim kemarau datang, masyarakat kita selalu saja berhadapan dengan tradisi kekurangan air bersih, sebuah dampak yang bukan hanya ditimbulkan dari tidak turunnya hujan saja, tapi semestinya kita paham bahwa ini adalah juga disebabkan oleh apa yang telah kita lakukan. Eksploitasi besar-besaran terhadap berbagai sumber daya alam yang ada, dari mulai industrialisasi sumber-sumber mata air hingga ke penebangan pohon, pembabatan hutan serta pembangunan yang tidak seimbang dengan pelestariannya menjadi penyebabnya.

Air Minum Isi Ulang

Saya ingin mengajak anda untuk berwisata sejenak, menikmati sisa-sisa keasrian tepian Gunung Salak di Sukabumi sana. Jika kita beranjak dari arah kota Jakarta, setelah melalui tol Jagorawi, maka sesampainya di daerah Ciawi kita bisa mengambil arah ke daerah Lido, kemudian masuk ke daerah Cicurug dan disana kita akan segera menemui keberadaan para produsen air minum. Kita tentunya mengenal, atau mungkin setidaknya pernah mendengar keberadaan mata air di sini. Banyak sekali merk-merk air minum kemasan yang menjadikan air dari mata air disini sebagai sumbernya. Dari mulai produsen air minum yang berskala besar hingga yang biasa saja satu persatu terus tumbuh setiap saat. Namun dibalik senyum  bangga kita akan pertumbuhan ekonomi disana, ini juga ternyata menjadikan kita miris, karena ternyata tidak sedikit dari mereka yang melupakan bagaimana cara untuk melestarikan mata air yang ada.

Lalu, siapa yang bertanggung jawab atas hal ini?

Kita! Ya, tidak perlu terlalu jauh mencari kambing hitam di kebun orang, jika memang yang menjadi korban adalah kebun di halaman depan rumah kita sendiri. Disadari atau tidak ternyata kita menjadi salah satu pelaku eksploitasi sumber mata air yang ada di bumi kita itu.

Kita bayangkan saja, jika kebutuhan air minum tubuh kita setiap harinya minimal adalah 2 liter, maka jika dikalikan sebulan maka 60 liter menjadi konsumsi kita sendiri. Belum lagi jika jumlah tersebut kita kalikan dengan jumlah anggota keluarga kita di rumah, jika misalkan di rumah kita ada 4 orang maka 60 x 4 = 240 liter. Lalu kemudian jika dikalikan dengan jumlah keluarga di Indonesia? Atau mungkin jika dikalikan dengan milyaran orang jumlah penduduk di dunia?

Saya berpikir mungkin akan lain ceritanya seandainya kita mulai mengkonsumsi air minum bukan air minum yang berasal dari mata air pegunungan, namun justru kembali seperti dahulu kala, memanfaatkan air tanah yang ada di rumah kita.

Inilah saatnya

Beranjak dari diri sendiri, memulainya dari saat ini serta membuktikannya dalam sebuah tindakan nyata adalah memang pola yang sangat masuk akal untuk kita lakukan. Jika saja memang yang menjadi permasalahan utama adalah semakin menipisnya ketersediaan sumber air bersih utuk kita karena eksploitasi besar-besaran yang kita lakukan juga, maka memulai tindakan-tindakan kecil namun nyata untuk kita memperbaikinya amat sangat diperlukan sesegera mungkin, agar hal ini tidak berlarut-larut terus dan menjadi sebuah bencana besar di keesokan hari.

Lalu apa yang bisa kita lakukan? 

1. Sebagai Individu

Dimulai dari tempat terdekat, sekiranya rumah bisa menjadi pilihan untuk kita. Pemanfaatan kembali air tanah sebagai sumber air minum untuk kita adalah salah satu yang bisa kita lakukan. Apalagi seiring dengan kini hadirnya sebuah teknologi filterisasi air, Pureit. Tidak ada alasan lagi untuk kita cemas akan kualitas air yang kita minum, karena teknologi tersebut mampu memfilter air tanah ataupun air keran dari PAM sekalipun menjadi air minum yang layak dan sehat untuk dikonsumsi, serta tentunya terbebas dari kuman penyakit.

Mengapa harus Pureit?

Lahirnya teknologi filterisasi air untuk dikonsumsi memang bukan merupakan hal yang baru. Namun sebuah terobosan dimana proses filterisasi bisa dilakukan dengan sangat mudah dan praktis tanpa ribet serta dilakukan di rumah kita sendiri, ini yang menjadi luar biasa. Pureit hadir dengan sebuah solusi untuk membantu kita untuk tetap bisa mencukupi kebutuhan minum tubuh kita dan tentu memelihara kelestarian sumber mata air yang ada. 


Dengan menggunakan teknologi Pureit, maka beberapa kelebihan bisa kita dapatkan dimulai dari langkah sehat kita mengkonsumsi air minum berkualitas dan terbebas dari kuman, penghematan sumber daya listrik karena Pureit tidak memerlukan daya listrik, serta tentunya penghematan finansial kita karena kini tidak perlu lagi alokasi dana yang besar untuk kebutuhan minum keluarga dengan membeli air minum galon ataupun isi ulang.
2. Sebagai Keluarga

Sebuah hal sederhana dalam penghematan penggunaan air juga bisa kita lakukan di rumah kita. Bila saja setiap hari kita tidak bisa terlepas dari air, maka kita bisa mulai melakukan proses daur ulang pemanfaatan air yang telah kita gunakan untuk keperluan lainnya. Misalnya, kita bisa mengumpulkan air bekas cuci pakaian kita untuk kemudian kita gunakan untuk menyiram rumput di halaman. Sederhana bukan?

3. Sebagai Masyarakat

Mulailah bertindak nyata untuk ikut serta melestarikan lingkungan. Bukan hanya mengeksploitasi sumber daya yang ada, namun kita juga tentunya harus berpikir untuk bagaimana melestarikan sumber daya alam (dalam hal ini sumber mata air) tersebut bisa dinikmati oleh anak cucu kita sepuluh, dua puluh atau puluhan tahun kemudian juga. Mari menanam pohon disekitar rumah kita, berpikir untuk menyeimbangkan keberlangsungan hidup dengan tetap melestarikan keberadaan ruang-ruang terbuka yang hijau di kota kita, serta senantiasa melakukan pembangunan yang ramah lingkungan. 


0 comments:

Posting Komentar