Senin, 25 Maret 2013

Garuda Pancasila, Memupuk Subur Rasa Cinta Pada Indonesia


Mungkin masih terbayang dalam ingatan kita, sebuah tampilan layar burung Garuda yang di "zoom in" menampakkan bagian-bagian dari 5 lambang yang tertempel di dadanya. Sebuah lagu "Garuda Pancasila" mengiringi tampilan layar tersebut yang tak jarang mengajak kita untuk menyanyikannya bersama.

"Garuda Pancasila.... Akulah Pendukungmu!".
Sebuah kalimat pembuka yang begitu menghentak jiwa-jiwa kita jika saja sekarang kita hayati kembali maknanya. Karena mungkin jika saat itu kita masih dalam usia anak-anak, syair lagu itu hanya menempel diingatan saja. Namun ternyata hingga kini momen-momen berharga akan berbangga memiliki sebuah negeri Indonesia masih saja terpatri dalam diri kita.

Namun sayang, tayangan yang biasanya diputar pada setiap malam selepas berita di sebuah statisun televisi nasional milik pemerintah kita itu perlahan hilang seiring dengan begitu banyaknya tayangan pilihan bagi kita, anak-anak Indonesia, dan yang akhirnya kita begitu kecewa ketika kita tahu jauh setelah generasi kita itu, kini anak-anak sudah semakin jarang yang mengetahui lirik dan syair lagu tersebut. Kalah dengan lirik dan syair lagu cinta dari band-band ternama.

Namun ada satu hal yang mengejutkan. Ketika suatu malam, putri kecil kami yang baru berusia 2 tahun mengajak saya untuk berdiri dan mengibar-ngibarkan sebuah kain dan mengajak menyanyi bersama. Nada-nada yang ia nyanyikan persis sesuai dengan nada lagu Garuda Pancasila. Dan ternyata benar, meskipun lafalnya masih belum terlalu jelas, namun ia begitu bersemangat ketika saya mengiringi lagu tersebut dengan lirik sebenarnya.



Sebuah stasiun televisi swasta nasional kini kembali menayangkan lagu tersebut. Dengan formasi yang menampilkan gambar anak-anak Indonesia, ternyata lagu tersebut kini begitu menarik bagi anak-anak untuk diikuti oleh mereka.

Ini dia, sebuah langkah awal penguatan identitas kita bangsa Indonesia.

Terkadang kita memang sedemikian "cuek" terhadap satu hal yang dinamakan kehidupan berbangsa dan bernegara ini. Padahal jauh disana, di masa sebelum kita lahir, para leluhur kita sedemikian susahnya untuk bisa menghadirkan sebuah tatanan hidup yang kita jalani seperti sekarang ini.

Rasa cinta tanah air semakin terkikis oleh mereka yang mengatasnamakan perkembangan zaman. Nasionalisme pun hilang seiring dengan semakin tumbuh suburnya nilai-nilai individualistis diantara kita. Kita begitu nyaman dengan mengagungkan rasa cinta akan diri sendiri. Namun terlupa dengan kebersamaan akan memiliki sebuah bangsa yang besar, bangsa Indonesia.

Mari kita, sejenak mengulang sejarah, memutar kembali ingatan kita atas apa yang terjadi pada diri kita, masyarakat Indonesia.

Bangsa Indonesia bukanlah sebuah bangsa yang kecil. Dengan luas yang terhampar dari Sabang hingga Merauke tentunya tak salah jika kini bangsa kita semakin dilirik dunia. Bukan hanya kekayaan alam, namun budayapun ternyata menjadi incaran mereka. Berkali-kali budaya kita hadir di daratan negeri orang, padahal kita sendiri terlupa mengapa tidak menjaganya sedari awal.

Mengapa bisa terjadi? Ini semua saya kira penyebabnya sederhana, karena memang semakin hari kini kita semakin kurangnya rasa cinta, rasa memiliki serta rasa bangga akan bangsa sendiri. Penanaman rasa cinta yang dulu pada masyarakat bangsa mulai pudar. Para pemimpin sudah tak lagi melihat sebuah kepentingan untuk bisa menanamkan nilai-nilai tersebut pada generasi bangsa.

Dari semenjak mereka disibukkan dengan agenda reformasi beberapa tahun yang lalu. Diakui atau tidak, mereka sebagai individu ataupun keompok seakan lebih disibukkan oleh berbagai agenda bagaimana untuk bisa berdiri tegak dan menancapkan kekuasaan di negeri ini. Sementara anak-anak kita kini dibuat bingung oleh sejarah. Berbagai sejarah bangsa yang dulu kita kenal dengan cerita yang satu, seringkali mungkin kini sudah bergeser dengan skenario yang berbeda.

Lalu tentunya tidak aneh memang jika anak-anak kita sebagai generasi bangsa untuk kemudian lebih memilih untuk mengesampingkan apa yang dinamakan cinta bangsa dan negara.

Saya kira ini saatnya untuk kita hadir sebagai orang tua, mari bersama dimulai dari keluarga kita, kembali menanamkan kembali rasa cinta terhadap tanah air itu pada jiwa-jiwa anak-anak kita. Dengan langkah-langkah sederhana, seperti memperdengarkan lagu-lagu nasional, mengajak rekreasi ke tempat-tempat bersejarah, atau mengenalkan sosok-sosok pahlawan nasional saya kira bisa menjadi langkah kita untuk menuju ke arah sana. Memupuknya rasa cinta itu untuk berbuah harap bisa membimbing mereka menjadi para pemimpin masa depan bangsa. Tumbuh menjadi seorang negarawan yang berkarakter. Yang dengan kecintaannya pada bangsa dan negara, mereka bisa menghadirkan Indonesia sebagai negara yang berpengaruh di dunia, kelak. Semoga!


0 comments:

Posting Komentar