Selasa, 14 Mei 2013

PKS Ku Sayang, PKS Ku Malang...

Partai Keadilan Sejahtera
Partai Keadilan Sejahtera (PKS), sebuah nama yang begitu sayang kiranya untuk dilewatkan dalam detik-detik menjalani panggung perpolitikan tanah air kini. Ya, sesaat setelah perubahan namanya di tahun 2003 dari cikal bakalnya yang mengatasnamakan Partai Keadilan, PKS telah muncul menjadi sesosok mahluk yang penampilannya begitu menarik untuk selalu disorot, dipuji atau juga bahkan dikritisi.

Mendapatkan suara sebesar 1.36% dari total pemilih di Pemilihan Umum 1999 tentunya menjadikan PK laksana sebuah angin segar harapan bagi masyarakat Indonesia, atau mungkin setidaknya bagi saya yang saat itu masih menjadi bagian dari anak sekolahan berseragam putih abu-abu. Pertama kali menemukan selebaran bergambar logo partai tersebut menempel di jalanan depan sekolah, entah mengapa menjadikan hati ini terpaut dan tertarik dengan kehadirannya.

Waktu terus berlalu, kiprah Partai Keadilan (PK) pun terus berlanjut. Hingga akhirnya ketika saya menginjakkan kaki di semester kedua masa perkuliahan di sebuah Perguruan Tinggi di kota Bandung, sebuah jalan mempertemukan saya untuk bergabung menjadi bagian kecil dari mereka. Bukan sebagai anggota, apalagi sebagai seorang yang layak dikatakan sebagai kader. Kebersamaan saya waktu itu hanya menjadi bagian dari sebuah pengajian (liqo) yang diadakan bersama rekan-rekan satu jurusan beserta seorang pembimbing yang memang cukup dikenal sebagai seorang aktivis partai dakwah tersebut.

Sampai saat itu, termasuk saya menjadi orang yang begitu bangga dengan kehadiran PK yang kemudian karena syarat untuk mengikuti kembali Pemilu di tahun 2004 yang mengharuskan mengantongi dukungan minimal 2%, berubah nama dan bergabung menjadi Partai Keadilan Sejahtera. Bagaimana tidak, kiprahnya sebagai sebuah partai baru yang begitu kritis terhadap pemerintahan serta dengan aksi-aksi simpatiknya telah berhasil mambuat panggung perpolitikan Indonesia lebih beradab. Kepedulian kader-kadernya yang selalu cepat tanggap hadir di berbagai bencana. Keseriusannya membangun bangsa dari mulai membangun ahlak masyarakat dari mulai sekolah, kampus hingga di masyarakat. Tentu tidak heran jika menjadikan media masa berlomba untuk mengangkatnya dalam rangkaian berita yang menyebutkan PKS sebagai harapan baru bagi Indonesia.

Tidak heran, kemudian di tahun 2004, ketika PKS ikut kembali bertarung dalam ajang 5 tahunan, meraup dukungan masyarakat Indonesia ke angka 7.34%, naik drastis hampir 600% dari perolehan sebelumnya di tahun 1999.

Namun kehadirannya tentu tidak melulu menjadikan rasa senang bagi banyak orang, tidak dipungkiri kehadiran PKS justru seolah menjadi batu sandungan bagi berbagai kepntingan untuk segelintir orang yang tidak suka dengan keberadaan Indonesia yang lebih baik.

Dari sini cerita dimulai, panggung media pun seolah menjadi pasar pesanan bagi mereka yang memiliki kepentingan. PKS mulai banyak diserang dengan berbagai isu, dari mulai cerita kader-nya yang memperbolehkan poligami, ketidakadaannya kader yang profesional didalamnya, penyebaran isu ekslusifitas partai yang hanya untuk orang Islam saja, hingga kasus pengiriman link video porno pada seorang anggota DPR dari fraksi PKS.

Semua bagai menjadi busur panah yang terus-menerus menggerus menuju jantung ketidakberdayaan partai ini.

Namun alhamdulillah, hingga di Pemilu 2009, suara PKS justru kembali naik. Meski tidak terlalu signifikan, yaitu hanya naik menjadi 7.88%, namun dengan perbandingan jumlah partai yang saat itu diikuti oleh 38 partai peserta pemilu, ini justru menjadikan PKS menjadi salah satu partai yang tidak bisa dipandang sebelah mata untuk keberadaannya.

Hingga akhirnya, cerita terus belanjut. Setelah beberapa orang PKS berhasil menduduki jabaran-jabatan penting di berbagai daerah, tusukkan serta hunjaman kembali menyerang keberadaan PKS.

Beberapa bulan terakhir ini media begitu gencar memberitakan kasus dugaan suap impor daging sapi oleh seorang yang bernama Ahmad Fathonah yang konon katanya selalu mengatasnamakan Ust. Luthfi Hasan Ishaaq yang sebelumnya pernah menjadi Presiden PKS ini untuk mendapatkan jatah kenaikan kuota impor daging sapi untuk perusahaan tertentu. KPK disini hadir seolah menjadi lawan bagi PKS, dengan keberhasilannya mempenjarakan orang nomor satu di partai ini secara langsung, tanpa ampun atau bahkan jeda waktu, tidak seperti pada tersangka di kasus lain.

Meski hingga kini kasus tersebut terus bergulir, bahkan dengan perkembangannya yang seolah tiada hentinya, dari dugaan suap yang belum juga terbukti hingga ke pencucian uang, yang jelas yang menjadikan hati ini miris adalah begitu berkobarnya api untuk menyerang partai ini dari berbagai penjuru mata angin. Kehadiran perempuan-perempuan yang ditenggarai tidak begitu bagus ahlaknya dengan kedekatannya dengan orang yang menyeret PKS ke kubangan lumpur ini pun seolah menjadi bumbu untuk meng-gol-kan tujuan, membuat opini masyarakat bahwa PKS meski lahir dari cita-cita orang-orang Islam namun bukan merupakan kumpulan orang-orang yang memiliki perilaku yang Islami, maruk harta, gila jabatan, serta doyan wanita. Na'udzubillah ...

Saya menarik nafas, mengingat perjalanan kehadiran partai dakwah ini. Dari mulai kehadirannya dengan nomor urut 24 di tahun 1999, kemudian nomor 16 di tahun 2004, lalu nomor 8 di tahun 2009, apa mungkin semua akan menggiring PKS untuk bernomor urut 0 di mata masyarakat Indonesia di Pemilu selanjutnya? Hadir namun tanpa ada lagi dukungan untuk mereka?

Wallohu'alam, satu harapan, semoga meski apapun yang terjadi dengan partai dakwah ini, semoga semangat untuk memulai membangun bangsa lebih baik dengan tindakan nyata, akan selalu hadir di dalam jiwa-jiwa kita semua.

Aamiin yaa robbal'alamiin

0 comments:

Posting Komentar