Rabu, 10 Juli 2013

Ternyata Ramadhan Kali Ini, Masih Saja Sama

Ada keharuan setiap kali kaki ini melangkah menginjakkan masa di satu tapak masa bulan Ramadhan. Entah mengapa, namun hembusan angin seakan begitu memanjakan kerinduan ini akan kasih sayangnya Alloh dengan memberikan satu kesempatan teristimewa dengan segala keistimewaannya di bulan ini.

Dan aku, ...
Usai maghrib pertama di Ramadhan kali ini yang terpaksa harus aku tunaikan di kantor, sehingga jelas pahala tarawih berjamaah pertama hilang dalam genggaman, aku melenggang dalam rintik hujan meninggalkan segala aktivitas menuju bulir-bulir kasih sayang yang menunggu kehadiranku jauh di sebuah gubuk kecil pinggiran kota Jakarta sana.

Senang, bahagia, haru, gembira tentu menyelimuti setiap jiwa yang telah lama menantikan kehadiran masa seperti ini. Namun, dalam hatiku sendiri ternyata masih ada sebersit kesedihan akan kehadiran bulan yang suci ini. Ternyata kami di sini di negeri dengan predikat ummat muslim terbanyak di dunia ini masih saja harus dibuat kecewa. Kebersamaan kami dalam berlomba mendulang pahala harus masih saja 'dirusak' dengan adanya konflik adu keegoisan akan teori penetapan awal mula Ramadhan. Hingga akhirnya tahun inipun masih saja sama, kami memulai bulan ini dengan sedikitnya 2 (dua) perbedaan hari, ada yang sudah memulai puasa sejak tanggal 9 Juli 2013, ada juga yang baru melaksanakan keesokan harinya.

Semula kekecewaanku berhenti disana, menutup dengan kesadaran bahwa inilah akhir zaman...

Namun, sesampainya di rumah ternyata aku kembali disuguhkan dengan kekecewaan selanjutnya. Menemukan perbedaan kembali pada tayangan jadwal imsakiyah yang ada di televisi sontak membuatku cukup kaget. Baru kali ini aku menemukan yang seperti ini. Beberapa tahun terakhir memang tidak jarang terjadi perbedaan seperti ini, namun untuk menentukan waktu shalat, imsak dan berbuka puasa biasanya hanya ada satu rujukan, yaitu yang dikeluarkan oleh Kementrian Agama Republik Indonesia.

Namun ternyata kali ini berbeda. Aku terdiam membandingkan 2 lembar kertas bertuliskan jadwal imsakiyah yang ada di genggamanku. Mata ini beralih silih berganti antara kertas dan tayangan di pojok layar televisi. Meski tak ada tetesan air mata, namun sungguh hati ini begitu tersayat akan ini.

Ya Alloh, sampai kapan kami seperti ini...
Jika memang akhir zaman itu sudah di depan mata, apakah tidak mungkin bagi kami untuk segera tersadar akan keegoan kami dan para pemimpin kami untuk bisa berdiri bersama, mengangkat takbir mengagungkan asma-Mu bersama-sama pula?

Wallohu'alam bish-shawab

0 comments:

Posting Komentar