Selasa, 07 Oktober 2014

Indonesia, Negeri Diatas Prasangka



artikel islami
Sebuah catatan kecil tentang negeri ini, negeri Indonesia yang ternyata kini tak lebih dari sebuah negeri diatas prasangka. Hiruk pikuk panggung perpolitikan bangsa ini seolah tak hentinya melahirkan intrik yang telah banyak menyedot perhatian kita untuk kembali dan kembali terkubur di lobang yang sama. Lobang bernama prasangka.

Sejak berakhirnya panggung perhelatan pemilihan sang Presiden, bulan Juli silam. Masyarakat bangsa seolah terbagi (atau lebih tepat dibagi) untuk berada di dalam dua kelompok yang bernama Kelompok Indonesia Hebat dan Kelompok Merah Putih. Kedua kelompok yang merupakan implementasi bentuk pencerminan di dalam gedung Dewan Perwakilan Rakyat yang padahal dikhawatirkan akan juga menjelma di lingkungan rakyat jelata. Satu persatu skenario dari perebutan jabatan dan kekuasaan dari kedua kelompok itu kini semakin sering menghiasi layar kaca, menghiasi lembar berita, bahkan menghiasi benak-benak kita.

Namun ada satu hal yang menarik ketika kita mencoba menelusuri satu persatu dari apa yang telah terjadi. Kita seolah dipertemukan dengan satu benang merah yang sama yang bernama prasangka. Semua orang bicara tentang prasangka. Tidak jauh dari ingatan ketika media kita sempat menempatkan headline berita berupa prasangka bahwa seorang SBY "disangka" terlibat kasus Century. Setelah itu kitapun diramaikan oleh kabar bahwa Megawati pun "disangka" salah menjual aset negara. Menyusul, Koalisi Merah Putih yang "disangka" sebagai antek Orde Baru, kini kembali tersiar kabar bahwa setelah pemilihan pimpinan anggota Dewan tempo hari, katanya seorang Setya Novanto yang terpilih sebagai Ketua DPR kita "disangka" terlibat kasus korupsi. Lalu dari sana ada pula yang berbicara bahwa Jokowi sang Presiden terpilih katanya "disangka" pencitraan dalam setiap aktifitasnya.

Arrggghhhh... Semua berlabuh di kata prasangka, tanpa jelas kebenarannya.

Sebuah sabda Rosululloh mengingatkan kepada kita, "Iyyakum wa dhonna fainna dhonna akdzabul hadiits", kurang lebih artinya adalah bahwa "Hindarilah berprasangka karena sesungguhnya itu menutup kenyataan/kejadian yang sebenarnya".

Semakin kita resapi ternyata sabda Rosululloh ini semakin mengena didalam kehidupan kita saat ini. Ternyata prasangka bukan hanya karena dikhawatirkan bahwa apa yang kita sangkakan siapa tahu tidak sesuai dengan yang kita sangkakan. Namun justru yang lebih bahaya adalah ternyata prasangka bisa menutupi fakta yang sebenarnya.

Astaghfirullohal'adzhim...

Tanpa sadar kita berada diatas kebiasaan baru untuk terbiasa dengan hal yang dinamakan prasangka ini. Semoga sebuah catatan kecil ini bisa mengingatkan kembali apa yang semestinya kita lakukan. Menahan diri atas apa yang kita dapatkan. Menahan diri atas apa yang orang lain sangkakan. Apapun alasannya, berhusnudzhon akan lebih baik nilainya daripada jika kita menanam prasangka buruk terhadap orang lain.

Wallohu'alam bish-shawab


0 comments:

Posting Komentar