Kamis, 05 Februari 2015

Alhamdulillah, Tingkat Kemakmuran Warga Bekasi Bisa Dilihat Dari Sini!

Ada yang berbeda tanpa saya sadari hingga hampir tiga pekan ini terjadi. Memasuki bulan Januari dan Februari yang menurut pemerintah dijadikan sebagai bulan pemuncak musim hujan di tahun ini saya baru menyadarinya.

Pagi ini seperti halnya pagi di tiga pekan terakhir. Ketika sebuah bis menghampiri dalam rintik hujan. Dengan sigap kaki ini segera melompat berlomba dengan gemericik air serta hempasan kerikil jalanan yang mencoba menghalangi langkah ini. Saya menangkap udara lain ketika memasukinya. Kali ini sungguh berbeda. Tidak ada kepenatan, tidak ada satupun pemandangan orang berdesakan seperti halnya yang biasa saya dapati ketika menaiki bis AC 05 menuju kota Jakarta setiap pagi.

Sayapun segera memilih salah satu tempat duduk yang masih cukup banyak tersisa. Usai menghempaskan tubuh ini, rasa syukur segera menggelayuti diri atas apa yang dijalani. Mendapatkan tempat duduk di bis kota menuju tempat kerja memang menjadi sebuah anugerah yang teramat luar biasa jika bisa saya dapatkan. Biasanya saya hanya bisa menggantungkan tangan di sebuah besi yang melintang panjang dengan sandaran bahu orang saja. Namun dua hingga mungkin tiga pekan terakhir ini alhamdulillah saya bisa duduk nyaman menikmati pagi dalam kemacetan menuju ibu kota.

Saya menarik nafas panjang, mencoba mengingat apa yang terjadi.

Rasa heran yang berkecamuk kini mulai membuka tirainya. Saya semakin mengerti. Dua hingga tiga pekan terakhir ini seringkali saya melayangkan pesan kepada atasan, meminta pengertian beliau atas kemacetan yang menimpa saya sehingga menyebabkan selalu saya tiba terlambat di tempat kerja. Berbagai upaya sudah dicoba, dari mulai jadwal bangun tidur lebih dini, hingga memacu sepeda motor lebih kencang agar bisa mendapati bis lebih pagi. Namun semua hasilnya nihil.

Ternyata tanpa saya sadari. Kini saya tahu bahwa memang tingkat kemakmuran warga kota ini bisa dilihat dari perbandingan kedua fenomena yang saya alami. Saat musim kemarau tiba, saya seringkali menikmati penatnya bis kota hingga ke tempat kerja. Namun hal ini tidak berpengaruh kepada jadwal tiba saya di sana. Saya bisa tiba disana tanpa kata terlambat. Namun sebaliknya, saat musim hujan tiba saya bisa mendapati suasana lengang dalam bis kota, namun kemacetan begitu meraja lela yang mengharuskan saya terus menerus terlamabt tiba di tempat kerja.

Kata orang, kalau sudah punya keluarga lengkap dengan kemampuan memberi mereka kenyamanan dalam rumah dan kendaraan maka tingkat kemakmuran orang itu bisa dibilang cukup tinggi. Dan ternyata mungkin warga Bekasi yang kerja di Jakarta kali ini membuktikannya, ketika musim hujan tiba, mereka memilih untuk menggunakan mobil pribadi mereka dibanding naik bis umum. Tidak ayal lagi, kemacetan dimana-mana terjadi terutama saat pagi hari dimana saat mereka menuju kota Jakarta. Dan ini berarti membuktikan bahwa memang banyak warga kota ini yang sudah memiliki tingkat kemakmuran yang tinggi bukan?

Alhamdulillah, ini menjadi sebuah bukti bahwa Alloh akan memudahkan jalan bagi mereka yang selalu berusaha mencari rezeki. Semoga suatu waktu, sayapun bisa menjadi salah satu dari mereka yang bisa beralih menggunakan mobil pribadi ketika musim hujan datang. Agar tidak lagi harus berdiri di bawah jembatan menunggu bis saat hujan datang, agar tidak lagi harus menjemur sepatu dibawah sapuan kipas angin sesaat tiba di rumah karena basah saat mengejar bis yang tidak mau menepi ke pinggir jalanan. Saya berdo'a. Semoga Alloh memudahkan segalanya...

Aamiin ya robbal'alamiin

1 komentar:

  1. Tepat, pas. Walau sebenarnya banyak warga Bekasi merupakan pendatang atau warga Jakarta yang "terpinggirkan" akibat gusuran. Disamping produk mobil-mobil harga "bersahabat" yang makin merajalela.
    Beberapa sumber yang saya tidak mau percaya mengatakan, 2016 akan menjadi tahun buruk untuk perekonomian nasional, salah satu penyebabnya yah itu tadi, kemacetan.

    BalasHapus