Kamis, 14 Januari 2016

#PrayForJakarta #InnallahaMaAna

Tulisan ini aku dibuat di tengah kegelisahan hati di satu pemuncak hari

Sebuah kabar seolah menghentak Indonesia, siang ini. Rangkaian penyerangan diduga berasal dari kelompok bersenjata terjadi di sebuah tempat di pusat kota Jakarta. Sebuah tempat perbelanjaan yang biasanya ramai tak pernah mati hiruk pikuk setiap waktu pun kini terdiam. Jakarta mencekam.

Aku mengabarkan pada keluarga bahwa alhamdulillah ditempat dimana aku bekerja masih aman terkendali. Hanya terlihat kepanikan kecil dari reka-rekan sekantor yang saling bertukar kabar tentang peristiwa yang terjadi. Aku kembali mengalihkan mata ini ke arah layar komputerku. Menyimak berita terbaru dari beberapa media berita online.

Sebuah broadcast message masuk, sebuah himbauan untuk menghindari area-area umum yang berbau Amerika. Amerika? Hatiku bergetar. Ya memang sebuah kedai restoran yang tepat berada di depan pusat perbelanjaan Sarinah dikabarkan menjadi lokasi utama penyerangan. Dan ini kembali dikaitkan dengan asal muasalnya restoran itu berdiri, Amerika.

Aku tutup seluruh layar jendela aplikasi di komputerku. Kulepaskan sepatu dan kaos kaki yang menutupi kaki ini. Aku langkahkan kaki untuk mengambil air wudhu. Dalam dhuhur kulantunkan sebuah surat Al-Ashr, demi masa!. Perlahan ada setitik air diujung mata ini mengingat semuanya. Ya Alloh jika saja sudah sampai waktunya, tak akan ada yang bisa merubahnya.

Aku beristighfar dan kembali memperbaiki sholatku.

Keberadaanku bekerja di sebuah gedung yang berada di sebuah komplek perkantoran yang notabene terdapat beberapa kantor kedutaan Amerika memang selalu jadi sorotan. Aku tak terbayang jika tiba-tiba saja dalam sujudku sebuah bom meledak di gedung di tempatku kini berada. Ya Alloh, aku hanya ingin dan berdo'a agar engkau tetap kokohkan sujudku dan teguhkan aku agar tetap ada dalam agama-Mu.

Selepas sholat kutunaikan sebuah do'a, untuk ibuku, istriku, anak-anakku dan juga semua keluargaku. Semoga Alloh melindungi kita semua.

Aku kembali menitikkan air mata ketika mengingat pagi tadi. Sebelum aku pergi, aku kecup kening anak lelakiku yang masih tertidur pulas. Aku dapati anak perempuanku berlari menuju pintu melepas kepergianku. Dan aku melihat peluh keringat dari istriku tercinta yang harus berlomba dengan waktu untuk menyiapkan bekal untukku hari ini.

Aku kembali menuju meja kerjaku.

Sambil menikmati sajian makan siang hasil keringat dan cinta dari istriku, aku sempatkan kembali membuka layar komputer. Melihat perkembangan berita. Berharap insiden telah berlalu.

Ah, terlalu lemah diri ini. Terlalu mudah diri untuk takut dan terdiam dalam kebisuan.

Padahal bukankah Alloh maha kuasa atas segala sesuatu?

Aku hanya berharap. Ya Alloh, selamatkanlah kami, selamatkan negeri ini dari orang-orang yang berbuat aniaya.

Aku pasrahkan, aku serahkan pada-Mu ya Rabb. Kapanpun itu, dimanapun itu, jika memang maut akan menjemput. Dengan apapun itu, lewat apapun terjadi, maka semua akan terjadi.

1 komentar:

  1. bagus pak tulisannya.....jakarta kritis ya pak

    mau cari mobil dan motor bekas murah??disini aja :
    http://www.mobilbekasidaman.com/
    http://www.motorbekasmurah.com/

    BalasHapus